Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
Bonus part 2


__ADS_3

"Kau tahu, sayang. Ketika Gita hamil Chicco, aku tidak merasakan bagaimana rasanya mendampingi istri? Bagaimana merasakan permintaan Gita yang aneh-aneh? Bagaimana merasakan detik-detik setiap istriku mual dan muntah? Saat melihat Roki begitu siaga terhadap istrinya, ada rasa iri yang membelenggu. Saat aku keluar dari penjara calon anak kami sudah meninggal.


Ada rasa sesal yang membelenggu, seandainya wajahku tidak mirip dengan Boy, seandainya kecelakaan itu tidak menimpaku, mungkin akan beda ceritanya. Mereka bahkan tidak pernah mengabariku tentang kondisi Gita saat aku dipenjara."


"Sayang.." Ina mencoba menguatkan suaminya.


"Aku merasa menjadi pecundang. Suami macam apa aku ini, tidak ada saat istri membutuhkan. Aku hanya mendatangkan masalah dalam kehidupan Gita. Makanya Mama Lia benci sekali padaku. Saat Gita hamil Shasa, masalah demi masalah kembali meruncing. Terutama saat aku sedang di puncak posisi,banyak musuh dalam selimut yang masuk dalam kehidupan kami.


Aku hanya merasakan euforia kehamilan Gita saat usia kandungannya lima bulan keatas. Gita yang selalu minta dipeluk tiap aku berangkat kerja, yang selalu datang mengejutkan di kantor dengan kecemburuannya. Kami benar-benar merasakan layaknya pasangan ibu dan ayah menunggu kehadiran anak."


"Sayang, bisakah kamu lupakan kepahitan yang pernah terjadi antara kalian. Gita sudah tenang, dia sudah bahagia disana. Jadi jangan diingat lagi. Oke, bukan maksudku untuk meminta melupakan Gita, tapi apa salahnya kita fokus ke masa depan." Ina meletakkan tangan Alam di atas perutnya. Supaya suaminya merasakan detak jantung sang anak.


"Kata dokter kalau melihat ciri-ciri perutku. Sepertinya anak kita laki-laki. Tapi pas aku coba usg di klinik kampus belum kelihatan jenis apa anak kita." Jelas Ina.


"Apapun hasilnya mau laki-laki atau perempuan yang dia lahir dengan selamat. Dia lahir dengan keluarga utuh. Aku tidak mau anak kita seperti Shasa, yang lahir tanpa melihat ibu kandungnya. Aku ingin dia merasakan kasih sayang ibunya." Ucap Alam sambil perut sang istri yang sudah masuk enam bulan.


"Tadi kak Lia telepon, kita disuruh cuti sampai aku melahirkan. Menurut kamu gimana, mas?"


"Sebenarnya kita bakalan susah pulang. Aku dengar semenjak ada omicron, bandara mulai memperketat penerimaan penumpang. Belum lagi kita harus mengurus Visa yang ribetnya minta ampun. Tapi aku akan usahakan agar kita bisa pulang ke indonesia."


Ina juga beberapa kali mendengar berita kalau maskapai seluruh dunia sudah mulai ketat. Meskipun pembatasan secara bertahap dicabut, penumpang dapat diperkenalkan kembali kapan saja dan langkah-langkah kesehatan pencegahan tetap didorong. Panduan yang lebih ketat atau santai mungkin berlaku tergantung pada prefektur yang Anda kunjungi. Informasi terkait penanganan COVID-19 di Jepang. Sama seperti negara lainnya, Jepang juga memberlakukan tes covid di bandara, Pemeriksaan masker, juga bagi penumpang yang datang harus memiliki persyaratan lengkap.


Ina hanya mengelus dada jika memang mereka akan melewati masa itu. Dimana ketatnya peraturan negara semenjak Omicron semakin menjadi.


Contohnya di sekolah Shasa harus diliburkan karena gurunya terkena COVID 19. Dan sejak saat itu, Shasa lebih banyak di rumah dan rumah sakit karena masih menjalani kemoterapi.


Flashback On


Beberapa hari yang lalu terdengar kabar bahwa fakultas kedokteran di kampus mengadakan bazar kesehatan. Berdasarkan ajakan Fitri, kakak kelasnya sesama orang indonesia, Ina mengikuti tes kesehatan disana.

__ADS_1


"you pregnant?(kamu hamil?)" Tanya salah seorang petugas kesehatan disana.


"Yes I am already 6 months pregnant" (Ya, saya hamil sudah masuk enam bulan.)


"Are you married?( apakah kamu sudah menikah?)"


"I was married 1,5 years ago.(Saya sudah menikah 1,5 tahun yang lalu)"


"Good. I'll check first ( Bagus. Saya periksa dulu, ya)."


"good progress, madam. Your child is very activeI suggest you start walking often in the morning so that the fetus goes down .( Perkembangannya


bagus, nyonya. Anak anda aktif sekali. Saya sarankan anda mulai rajin jalan pagi. Agar janinnya turun memudahkan untuk persalinan)" Jelas petugas kesehatan tersebut.


Flashback off


"Kamu nggak boleh jalan pakai sendal ini lagi." Omel Alam saat ini memakai sendal jepit saat hendak ke dapur.


"Licin! aku nggak mau kamu dan anak kita kenapa-kenapa. Terus mulai sekarang kamu biasakan memakai dress jangan setelan. Satu lagi, aku nggak suka kalau Takeru masih mengantar kamu pulang."


"Bentar, aku pulang juga nggak berdua sama Takeru. Tapi sama Eren juga, tunangannya takeru." Jelas Ina.


Semenjak Ina hamil empat bulan keatas Takeru dan Eren sudah banyak membantunya. Dua sejoli yang tadinya sempat menjauhi Ina ketika tahu gadis itu telah bersuami. Takeru yang awalnya sempat mendekati Ina karena jatuh cinta pada gadis itu, Eren pun menjaga jarak pada Ina karena kecemburuannya pada gadis itu. Namun perlahan semuanya berubah, Eren yang seangkatan dengannya menawarkan tali persahabatan. Apalagi dia dan Takeru sudah sepakat menjalani hubungan serius sehingga kecemburuannya dengan Ina berkurang.


Hanya saja, Alam masih belum menerima sosok Takeru untuk dekat dengan istrinya. Meskipun Ina selalu bilang kalau mereka hanya berteman. Lagipula ada Eren yang selalu ikut dengan mereka. Jadi buat apa kecemburuan itu.


Semenjak hamil 5 bulan keatas, Alam lebih banyak beraktivitas di rumah ketimbang ke kantor. Semenjak masalah kak Rangga dan Laras yang katanya ujian pernikahan. Alam sering membawa pekerjaan dirumah, disamping bisa memantau anak dan istrinya.


Status Alam yang naik menjadi orang kepercayaan Rangga bukan hal yang mudah. Enam bulan pertama bekerja dia masih dalam uji coba tanpa digaji. Meskipun begitu, Alam dan Ina selalu mendapatkan fasilitas intensif. Rangga membantu pembiayaan kemoterapi Shasa yang biayanya tidak sedikit. Termasuk pemilihan dokter terbaik untuk konsultasi kehamilan Ina. Alam terkadang merasa tidak enak dengan uluran tangan Rangga. Walaupun Rangga selalu bilang "Ini kewajibanku sebagai seorang kakak."

__ADS_1


Karena itu Alam mulai ulet bekerja, sehingga bisa mengganti semua yang sudah diberikan Rangga. Setelah enam bulan uji coba dan berhasil. Alam pun akhirnya merasakan gaji pertamanya setelah dua bulan dia giat bekerja. Pada akhirnya dia tidak lagi bergantung pada fasilitas yang di berikan Rangga.


Ina hanya bisa pasrah menerima kekangan dari suaminya. Kekangan penuh cinta. Dan dia merasa bahagia dengan perlakuan suaminya.


klik


Sekarang, menurut angka global dari ADP Research Institute, satu dari 10 orang mengatakan mereka lembur hingga 20 jam seminggu tanpa dibayar. Rata-rata, pekerja menjalani 9,2 jam lembur yang tidak dibayar setiap minggu. Di seluruh dunia, tingkat lembur meningkat tajam setelah pandemi Covid-19. Jumlahnya meningkat dua kali lipat di kawasan Amerika Utara.


Itu yang dirasakan Alam akhir ini, sejak Rangga pulang ke indonesia. Sejak saat itulah beban tanggung jawabnya semakin besar, Rangga mengamanatkan perusahaan di handle oleh Alam. Bukan untuk lepas tangan melainkan ada yang lebih darurat di dahulukan yaitu masalah rumah tangganya.


Kerja jarak jauh telah meningkatkan masalah. Rata-rata hari kerja secara global diperpanjang hampir dua jam.


Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pemberi kerja di Inggris mengakui bahwa staf mereka bekerja dengan jam tambahan yang tidak dibayar setiap hari.


Pekerja dapat mengaitkan kenaikan lembur dengan hilangnya batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. Selama pandemi, perjalanan dari rumah ke kantor, bangunan kantor secara fisik dan jam istirahat makan siang tidak dirasakan banyak pekerja kerah putih.


Mereka juga tidak memiliki batas yang jelas kapan memulai dan menyelesaikan jam kerja. Mereka membuka email saat sarapan. Jam kerja berlanjut hingga malam hari. Rapat melalui Zoom bahkan juga berlangsung hingga dini hari.


Bagi banyak pekerja, lembur di luar jam kerja telah menjadi harapan, bukan pengecualian. Namun ini jarang secara eksplisit dijabarkan secara lisan, apalagi secara tertulis.


Sebaliknya, ini adalah pemahaman yang diam-diam disepakati antara majikan dan karyawan: lupakan jam kerja, Anda baru bisa keluar dari jam kerja setelah benar-benar menyelesaikan tugas pada hari itu.


Alam duduk di depan laptop kerjanya. Berkutat dengan waktu agar dia tidak kemalaman pulangnya. Walaupun saat ini masih jam tiga sore, apalagi tadi Ina berpamitan akan ada kuliah sore. Dia mengizinkan tapi hatinya masih tidak karuan. Memikirkan kondisi kehamilan yang rawan.


"Pulanglah ke indonesia, Nak. Lahiran disini saja." Ucap Marni saat menelepon putra sulungnya.


"Tapi, bu. Rasanya akan susah kalau pulang dalam waktu dekat ini. Kasihan Ina harus menempuh perjalanan jauh."


"Lam, justru dia lebih kasihan saat disana. Kamu kerja, dia harus jaga anak sambil hamil. Jadi orang hamil itu serba salah. Kalau dia disini akan banyak membantunya."

__ADS_1


"Nanti Bu, Ina tunggu selesai ujian semesternya. Baru bisa kami ngajukan cuti baik untuk kantor dan kampus."


__ADS_2