
Tokyo, Jepanga
Sejak kejadian di apartemen Ina, Laras terus mendiamkan suaminya. Meskipun Rangga mencoba mengalihkan perhatian istrinya. Tapi tetap saja Laras mengacuhkannya. Rasa kesal Laras dengan suaminya yang super perhatian pada Ina.
Laras masih sibuk di dapur, memotong beberapa bahan sayuran untuk sarapan suaminya. Rangga masih berusaha mendekati Laras yang acuh. Dia masih belum paham penyebab istrinya mendadak diam. Tidak menyerah Rangga merapatkan tubuhnya di punggung Laras. Tapi tetap saja, istrinya bersikap seperti patung. Pada akhirnya Rangga menyerah lalu berjalan masuk ke kamar.
"Sayang"
Tak ada respon apapun dari Laras.
"Semenit saja kamu diam sudah bikin aku susah bernafas. Jangan gini dong, yang."
"Mas, cepat sarapan nanti telat." Jawab Laras datar.
Rangga langsung menyergap tubuh Laras. Tangannya langsung mengunci tubuh istrinya. Laras memberontak tapi kalah kuat dengan tubuh Rangga.
"Aku tidak akan ke kantor kalau kamu masih seperti ini, Larasati. Aku bingung, salahku apa sampai sejak semalam kamu mendiami suamimu ini. Salahku apa?"
"Jadi sejak semalam mas nggak tahu juga kesalahanmu. Dasar nggak peka! Aku pikir mas sudah intropeksi diri." Oceh Laras.
"Kapan mas? kapan kamu berhenti memberi perhatian lebih pada Ina? Kamu rela meninggalkan pekerjaan hanya demi menemui Ina. Padahal aku sendirian di rumah."
"Oh, kamu mau aku cariin teman. Oke, nanti ada bibi yang kerja di kantor biar aku suruh dia nemenin kamu di rumah. Kamu tahu pekerjaanku sedang banyak."
Laras langsung melempar kain serbet hingga menutup wajah Rangga. Terdengar suara pintu tertutup sangat keras. Rangga hanya mengendurkan nafas sambil meletakkan serbet ke atas meja.
"Sayang, aku berangkat ke kantor."
Masih tak ada respon dari Laras.
"Istriku, suamimu mau ke kantor dulu, ya. Dosa lo tidak menyambut suami yang mau berangkat ke kantor." Suara Rangga pun tak terdengar lagi.
Ceklek!
__ADS_1
Laras akhirnya keluar dari kamarnya. Matanya celingak celinguk berharap Rangga sudah berangkat. Wanita itu mendaratkan bokong di salah satu kursi di kitchen room. Laras kembali menyelesaikan masakannya. Entah kenapa dadanya terasa sesak, mencoba menahan air matanya yang akan turun.
Sebuah tangan tiba-tiba melingkar dipinggang Laras. Wanita itu tersentak saat pelukan itu semakin erat. Tak lama membalikkan tubuh, tampak Rangga berdiri dihadapannya. Tanpa mengikis jarak diantara mereka, Rangga menghapus airmata di wajah Laras.
"Maafkan aku, sayang. Mungkin kamu akan bilang aku suami yang tidak peka, nggak punya perasaan atau apalah. Tapi satu yang harus kamu tahu, aku masih punya janji amanat dari papa untuk menjadi pelindung buat Ina. Aku mohon pengertian kamu, Ras.
Meskipun begitu, aku tidak akan melupakan statusku sebagai suamimu. Aku tidak akan lupa kalau aku punya istri yang lebih cantik dari Ina."
Blush
Wajah Laras memerah ketika Rangga menyebutnya cantik.
"Kenapa nggak ke kantor, mas?"
"Karena aku sedang ingin bersamamu, Larasati. Kamu tahu? Sedetik kamu mengacuhkan aku, itu rasanya bagaimana kiamat. Aku nggak kuat didiamkan kayak gini."
Laras mencubit perut Rangga " Kok dicubit?"
"Gombal!"
"Maksud, mas!"
Belum di beri penjelasan, Rangga sudah membungkam bibir Laras dengan lembut. Tubuh Laras yang tertahan didinding kulkas. Laras sedikit meremang ketika merasakan nafas Rangga yang membuatnya mulai melambung. Belum lagi bisikan mesra membuat jantungnya berdetak kencang. Laras tersipu malu ketika Rangga menatapnya dengan intens. Daster sutra Laras yang memakai cardigan pun mulai melonggar.
Sekarang posisi Laras diatas ranjang. Tangan Rangga mulai menyusup ke tali daster milik Laras. Dengan mudahnya tali itu sudah menyusut turun, menampakkan sedikit bukit kembar milik Laras. Rangga mulai menjamah tubuh Laras menikmati indahnya hubungan yang sudah halal.
Rangga menarik dagu Laras, menikmati tubuh istrinya. Tangan lainnya menjamah bagian tubuh Laras yang lainnya.
"Mas .. Aaahhh... aaahhhh." Laras mulai menikmati sentuhan demi sentuhan yang mengjangkau setiap inchi tubuhnya.
"Bismillah. Semoga usaha kita di ijabah oleh yang maha kuasa." Bisik Rangga lalu memasukkan tongkat saktikan. Menanamkan benih ke dalam tubuh istrinya. Tubuh mereka terhempas keatas ranjang. Tampak keduanya sangat kelelahan setelah bergerilya.
Klik
__ADS_1
Jakarta, Indonesia
"Pa, bagaimana bisa?" Keluh Alam.
Lelaki itu menghempaskan tubuhnya diatas sofa keluarga. Rasa marah yang ingin dia luapkan karena bertemu musuh keluarganya.
"Jadi kamu sudah tahu, Lam. Maafkan papa, nak. Sebenarnya dia tidak pernah ditahan. Keluarganya meminta dia sebagai tahanan rumah."
"Tapi itu Ken, pa? Orang yang membuat anakku meninggal dalam kandungan. Orang yang menyekap istriku. Dan dengan entengnya dia muncul di kantor. Pa, Ken itu berbahaya, Roki saja bisa dipengaruhinya. Bagaimana dengan keselamatan Shasa,pa." Alam terus bicara nada tinggi di depan Bobby.
Sejak Ken muncul di kantor tadi. Alam mulai uring-uringan, belum selesai dengan masalah kantor sekarang kemunculan Ken masalah baru. Alam merasa Ken tidak akan puas sebelum dirinya hancur. Karena sejak awal dia masuk ke keluarga Spencer, Ken sudah membencinya. Alam takut kemunculan Ken, akan membahayakan putrinya.
"Papa yakin, Lam. Ken tidak akan sejauh itu."
"Tapi Alam nggak yakin, pah. Gita sendiri yang cerita bagaimana Ken dan Zahra menyiksanya. Hingga mereka kecelakaan mobil masuk ke laut dan anehnya Ken selamat. Maaf, pah.. lebih baik Alam membawa Shasa ke Sukasari. Disana hidup kami terjamin."
"Lam, jangan seperti itu, nak. Hanya karena masalah ini kamu mau kabur ke Sukasari. Pikirkan perasaan kami, Lam. Pikirkan hubungan kamu sama Ina. Jangan gegabah, nak."
"Astagfirullah! Astagfirullah! Maafkan aku, pa. Aku terlanjur emosi saat mengingat kemunculan Ken tadi di kantor. Jangan sampai Ken, tahu tentang Ina. Bisa-bisa dia nanti mengincar Ina sama seperti mengincar Gita."
"Ina kan di Jepang, Lam. Jadi sementara ini dia aman."
Alam melemaskan tubuhnya. Berbagai rasa ketakutan terus bermunculan dipikirannya. Apalagi ini menyangkut keselamatan putrinya.
"Kamu shalat, minta perlindungan pada Allah."
Alam memasuki kamarnya. Tubuhnya merebah keatas ranjang. Pikirannya berputar bagaimana mendiang istrinya menceritakan saat dirinya disekap dan di siksa Zahra dan Ken. Belum lagi saat di Bali, Gita juga ditahan sama Ken.
"Aku harus melindungi Shasa. Harus!"
“Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi robbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammadin nabiyyil ummiyyi wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Allahumma inni a’udzubika min khalilin makirin ainahu tarayani wa qalbuhu yara’ani in ra-a hasanatan dafanaha, wa in ra-a sayyi-atan adza’aha. Allhumma inni a’udzubika min yaumis su’i wa a’udzubika min lailatis su’i, wa a’udzubika min sa’atis su’i, wa a’udzubika min shahibis su’i, wa a’udzubika min jaris su’i fid daril maqam. Wa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.”
Artinya :
__ADS_1
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dan semoga rahmat dan keselamatan tercurah kepada junjungan kami, Nabi Muhammad SAW, dan kepada para keluarganya serta para sahabatnya . Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari dari kepicikan orang jahat yang matanya yang selalu melihatku dan hatinya selalu menggunjingku, yang jika melihat kebaikan mereka menutupinya namun jika melihat keburukan mereka menyebarkannya. Ya Allah, aku memohon perlindungan kepada-Mu dari hari yang buruk, dan dari malam yang buruk, dan dari waktu yang buruk, dan dari teman yang buruk, dan dari tetangga rumah yang buruk. Dan semoga rahmat dan keselamatan tetap tercurah kepada junjungan kami, Nabi Muhammad SAW, dan kepada para keluarganya serta para sahabatnya.
Wallhahu a’lam.