Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
7. Wasiat


__ADS_3

Alam melajukan mobil menuju rumah sakit. Pikirannya kacau, sepulang dari rumah mertuanya. Terlibat pembicaraan yang membuatnya kecewa.


Aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan membuat keputusan itu. Apakah itu memang keinginanmu atau kamu dibawah tekanan keluargamu. Secara kamu juga tahu kalau mereka sampai saat ini belum menerimaku.


Alam terus bermonolog, rasa kecewanya terlalu dalam. Mobil pun berhenti di sebuah makam. Kakinya melangkah ke pemakaman yang sudah di semenkan.


Kakinya ditekuk ke pinggiran makam. Berdoa untuk seseorang yang telah meninggalkannya.


"Sayang, kamu apa kabar? Aku kangen sama kamu. Cuma kamu yang selalu buat aku tenang, cuma kamu yang selalu mengerti tentang aku.Kenapa kamu pergi secepat ini? Kenapa, Gita? Kenapa kamu membuat keputusan tanpa diskusi padaku terlebih dahulu? KENAPA!"


Alam terpekur diatas nisan istrinya. Menangis hanya itu yang bisa dialakukan saat ini. Dia tidak mengerti kenapa rasa hatinya terasa sakit sekali. Seperti ditusuk tajam berkali-kali.


"Kenapa, Gita? Kenapa hak asuh Sasha kamu berikan pada keluargamu. Aku ayahnya, aku masih sehat, aku bisa membesarkan sendiri. Kenapa? Sebegitu tidak percayakah kamu padaku, sehingga mengambil keputusan sendiri. Kamu anggap aku apa?"


"Kamu juga tidak pernah cerita soal donor itu, kenapa harus Ilham pertama tahu, bukan aku?Sebegitukah rasamu padanya sampai masalah ini aku orang terakhir yang mengetahuinya."


Sayang....


Sayang, dengarkan aku ...


Tolong dengarkan aku ... maafkan keputusanku yang seperti ini.


Suatu saat kamu akan tahu apa alasan aku mengambil keputusan ini.


Alam menegakkan kepalanya mencari sumber suara yang berhembus ditelinganya.


"Gita ... kamukah itu?"


"GITAAAA TOLONG MUNCUL!"


Alam terus memekik seperti orang gila. Mungkin iya dia sudah tak waras. Tak waras akibat permasalahan yang terus menghantamnya. Tubuhnya lemas.


Langit mulai menampakkan warna jingganya. Menandakan sudah mulai maghrib, Alam beranjak meninggalkan areal pemakaman dengan langkah gontai.


Dari jauh sosok yang memperhatikannya dengan wajah sendu. Lama sosok itu berdiri membuat lelaki itu mencoba menoleh, bulu kuduknya terasa tajam.


Sementara itu ilham yang sedang santai kedatangan Alam. Lelaki itu heran kenapa alam menemuinya. Karena terakhir bertemu adalah saat Gita meninggal.


"Ada angin apa kak Ronal kemari?" ilham membuka pembicaraan.


Alam duduk menghadap ilham. Tatapannya tajam ada kekecewaan yang mendalam.


"Ham,.tolong jawab jujur!"


"Soal?"


"Apa benar gita mendonorkan jantungnya?"


Lama ilham terdiam. Meresapi nafasnya. Berat untuk dia jelaskan.


"Iya" jawabnya singkat

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak memberitahukanku? Aku ini suaminya. Kenapa aku harus tahu mama yulia?Bahkan mama yulia memintaku mencari si penerima donor." Ucap Alam, suaranya terdengar marah.


ilham menunduk " Ini permintaan dari gita, kak."


Alam meninju dinding "Bahkan disaat terakhir kamu masih menyembunyikannya dariku, gita. Kenapa! Hak asuh anakku jatuh pada mama yulia dan papa Dul. Padahal aku? Ayah kandungnya sendiri tidak diberi kepercayaaan untuk membesarkannya. Sekarang aku baru tahu kalau gita mendonorkan organnya pada orang lain."


"Kak Ronal! Dengar, ya. Kenapa gita tidak mempercayakan shasa pada kakak karena kakak orang teledor. Kakak sadar yang terjadi pada gita beberapa kali itu karena siapa? Karena keteledoran kakak. Seharusnya kakak intropeksi diri. Satu lagi kak! mama yulia tidak melarang kakak kan untuk menemui shasa, bahkan kakak tidak diusir dari kediaman mereka. Karena apa? Karena mereka tahu shasa masih butuh ayahnya.


Asal kakak tahu! Paru-paru yang kakak pakai sekarang ada milik Gita."


Alam terkejut saat ilham mengatakan kalau paru-parunya adalah donor dari Gita. Tubuhnya lemas, sebegitu berkorbannya Gita untuk dirinya.


"Lalu siapakah penerima jantung gita?" tanya Alam lirih.


"Maaf, kak sesuai prosedur rumah sakit kami harus merahasiakan identitas si penerima. Ini privacy, kak. Maaf kali ini aku tidak bisa membantu kakak."


Terang ilham.


Alam pamit setelah mendengar keterangan dari ilham. Dia pulang dengan tangan kosong. Pikirannya kacau.


Bruuukk!!


Alam seperti merasa menabrak seseorang.


"Maaf, kak. Saya tidak sengaja." terdengar suara seorang wanita terus meminta maaf.


Alam yang sedang gusar langsung memaki si wanita.


Gita!


"Maaf kak, saya kurang hati-hati." ucapnya sekali lagi.


Alam masih terbengong melihat sosok yang mirip istrinya. Sampai gadis itu hilang dari pandangan, tidak membuyarkan Alam dari lamunannya.


Klik


Dodo berjalan di sekitar pusat perbelanjaan. Matanya tertuju pada seorang wanita yang sedang berjalan bersama trolinya. Dodo mengarahkan kakinya mendekati wanita itu.


"Sendirian saja?" Sapanya.


Tak lama wanita itu menoleh.


"Dodo. Ngapain kamu disini?" Balas wanita dengan ramah.


"Aku disini berdasarkan insting kalau kamu ada disini." Jawabnya


"Hahahahaha... kamu ada ada saja, ya udah. Aku duluan ya, do." wanita itu melengos hendak meninggalkan Dodo.


Tangan Dodo menahannya.


"Mau kah, kamu menemaniku makan diluar?" Tawarnya.

__ADS_1


"Maaf, Do. Aku nggak bisa." Tolaknya.


Tapi Dodo pantang menyerah, baginya tidak ada kamus penolakan.


"Han, banyak yang mau aku bahas sama kamu. Termasuk soal yang di mess itu. Please, tolong luangkan waktu sebentar." Ucapnya dengan wajah memelas.


"Kalo kamu minta aku tutup mulut soal yang dijambi, kamu tentang saja. Aku tidak akan cerita. Bagiku itu adalah kekhilafan semata. Jadi, please, Do. jangan ganggu aku lagi." Jihan meninggalkan Dodo bersama barang belanjaannya.


Aku hanya ingin menuntaskan yang belum selesai saat di Jambi, Han. Aku justru ingin mengulang kebersamaan itu. Bisa saja kamu bilang khilaf semata, tapi khilaf itu menghantuiku, mengacaukan pikiranku oleh sosokmu.


"Do, please." Jihan mulai pusing karena Dodo terus mengikutinya.


"Han."


"Oke baiklah aku akan menemanimu." Jihan akhirnya menyerah.


"Makasih"


Mereka berjalan bersama mengelilingi beberapa rak pusat perbenlanjaan. Tanpa menganggap kehadiran Dodo, Jihan tetap asyik memilih beberapa kebutuhan hariannya.


"Ini enak, Han. Apalagi kalau makannya ditemani teh atau kopi."


Jihan menjelit kearah Dodo.


"Kalau kamu mau masukin aja, do."


Dodo memasukkan beberapa cemilan kedalam keranjang belanja Jihan.


"Kamu tenang aja. Biar aku yang bayar. Eh, masukin ini juga, ya, Han."


Selesai belanja mereka melipir ke sebuah resto masih dalam Mall. Resto yang berada di lantai tiga memiliki Lokasi yang strategis, apalagi dengan tempat yang berada di balkon resto. Mereka memilih lokasi itu.


"Do, aku mau ke toilet dulu." pamit Jihan.


Dodo menatap punggung Jihan yang hilang masuk ke dalam Toilet. Dodo mengeluarkan serbuk knecil ke dalam jus milik Jihan. Senyumnya mengembang sambil mengaduk minuman tersebut.


"Malam ini akan menjadi malam yang menggairahkan, Han."


...#####...


Tetap terus pantengin cerita ini.


Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya


Jangan lupa komennya juga rate


Kalau berkenan bantu vote dan hadiah


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2