
Setelah menjenguk Pramono di rumah sakit sukabumi, keluarga Gunawan pun pamit pulang ke Jakarta. Diantar Ilham dan Mama Mila. Mila yang pernah bertemu dengan Ina, terkejut karena putranya sudah mengenal Ina.
"Mama pikir kamu akan kaget saat melihat dia."
"Ma, sudahlah. Aku sudah married, nggak usah diungkit soal itu, kalau Siti dengar nggak enak."
"Iya, maaf, nak." Mila dan Ilham pun kembali kedalam rumah sakit, setelah mobil keluarga Gunawan meninggalkan rumah sakit.
Perjalanan dari sukabumi menuju ke jakarta memakan waktu 2 jam 39 menit. Dipastikan mereka akan menempuh perjalanan lebih lama, apalagi rencananya Yulia mau mengenalkan adiknya pada keluarga besarnya di Bandung.
Ina yang duduk dibangku paling belakang memilih untuk berselonjor bebas. Tanpa disadarinya sepasang mata memperhatikannya dari kursi depan.
"Ma."
"Iya, lam."
"Itu, Ina nggak diantar pulang dulu, ma. Nanti keluarganya nyari, lo." Usul Alam.
Yulia yang mendengar hal itu hanya senyam-senyum sendiri "Kamu nyetir aja, Lam. Nggak usah urusin soal Ina, mama yang ajak Ina, jadi itu tanggung jawab mama."
Alam hanya mendengus kesal. Jawaban Yulia lumayan membungkam dirinya. Matanya kembali terfokus pada setirnya.
"Lam, kita ke Bandung ke tempat Grace, ya."
"Oke, Ma."
Mobil melaju menuju ke Bandung sesuai permintaan Yulia. Sementara Ina sudah tertidur di belakang.
Oooooeeeeee .... Oooooeeeee
Ina tersentak bangun saat mendengar rengekan Shasa. Lalu mengambil bayi mungil itu untuk minum susu dalam dot.
"Shasa haus ya sayang .. ulu ulu lucunya..."
Alam menjelit kearah Ina yang masih memegang Shasa. Andai dirinya tidak sedang menyetir mungkin Shasa sudah direbutnya dari gadis itu. Matanya mengalihkan ke atar setir, meskipun sepanjang perjalanan pikirannya terfokus ke gadis dibelakangnya.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian mereka tiba dikediaman Grace di daerah Antapani. Semua keluarga besar berkumpul di ruang tengah. Tawa dan canda terdengar ramai.
"Oke semua sudah berkumpul disini." Yulia berdiri disamping Ina.
"Saya akan mengumumkan hal yang penting."
Semua menatap Yulia dengan penuh harap. Hal penting apa yang akan disampaikan Yulia.
"Oke. Ina tolong berdiri." Ina berdiri tepat disebelah Yulia. Dia juga penasaran apa yang akan disampaikan kakaknya. Kepalanya sedikit menunduk, saat sedikit menaikkan kepala dia melihat tatapan Alam yang masih membencinya.
Apa sih salah saya? segitunya dia membenci saya.
"Assalamualaikum, semua yang hadir disini saya mau memperkenalkan seseorang. Dia berdiri disamping saya, dia keluarga kita, adik saya, tantenya Grace, dan Omanya Gery.
Perkenalkan adik saya yang bernama Karina."
Hening. Semua yang diruang saling bertatapan seakan masih belum yakin dengan pengumuman itu. Ina memberanikan diri menaikkan wajah, sedikit takut ketika mendengar pengumuman Yulia. Apa yang dia takutkan? Penolakan dari keluarga lain papanya.
"Tante yakin? Nggak tes DNA dulu?" tanya Grace masih tidak percaya.
"Puas kamu...puas kamu membuat orang-orang menyalahkan. Itu kan yang kamu mau, Ina. Sejak kamu hadir dikeluarga ini, banyak sekali masalah yang terjadi. Dari kejadian David waktu itu sampai kejadian barusan" Alam menarik tangan Ina dengan kasar " Kamu dengar, Na. Mama Lia mati-matian membela kamu. Dan kamu hanya bisa kabur dan duduk santai disini."
"Lepasin!" Ina melepaskan genggaman tangan Alam, sekelubat Ina melihat tanda luka di bagian kiri.
Ingatannya melayang saat ada seorang lelaki yang menyelamatkannya dari David. Sayang Ina tak begitu jelas saat itu, cuma yang Ina Ingat David menyerang dan mengena tangan kirinya.
"Tangan ini? Kamu kan yang nolongin aku dari Om David, bukan Geri atau Om Dul."Tebak Ina.
" Bukan. Gaje banget aku mau nolongin kamu. Lagian kamunya juga mau ikut sama Om David."
PLAAAAAKKKK!
"Kamu pikir aku perempuan apa? HAH! Jaga ya mulut kamu!" Bentak Ina. Sembari menahan dadanya yang mulai terasa sakit.
"Tak ada asap kalau tidak api, Ina. Tak mungkin om David bisa membawamu, kalau kamunya tidak menolak."
__ADS_1
"Kamu...." Ina mengacungkan jarinya didepan mata Alam.
"Alam!"
Ina dan Alam saling menoleh mencari sumber suara. Tampak Yulia mencoba menahan marah dihadapan mereka.
"Lancang kamu bicara seperti itu. Dia ini adik mama, mertua kamu juga. Dan kamu sebagai menantu harus sopan sama mertua kamu.
Oh, ya karena kamu juga mendengar pengumuman mama tadi. Mama sekalian bicara soal keributan yang kamu timbulkan dipesta Ilham kemarin."
"Ma, aku sudah minta maaf sama Ina. Nggak usah diungkit lagi."
"Iya mama tahu, tapi kejadian barusan membuka mata mama. Kalau kamu tidak tulus dengan permintaan maaf itu. Satu lagi, mama sudah siapkan sebuah hukuman buat kamu."
"Hukuman?"
"Iya, hukuman. Mulai besok kamu akan jadi bodyguard Ina. Mengantar Ina kemana pun dia pergi. Paham!"
"Apaaaa!" Alam dan Ina saling kaget. Alam sudah tentu dongkol mendengar permintaan mama mertuanya. Tapi Ina juga tak kalah kesal, karena sudah pasti jantungnya tidak akan aman.
"Tapi, ma. Aku punya pekerjaan juga. Nggak mungkin aku ninggalin cuma karena ngintilin si anak manja ini."
"Manja? enak aja! Aku nggak pernah mau ribut sama kamu. Tapi kamu yang selalu memulai, dengan otak negatife kamu. So, sekarang siapa yang cari masalah sebenarnya." Tatap Ina yang menantang lelaki didepannya.
"Sudah .. sudah... Alam kalau kamu keberatan nggak papa. Tapi mama akan mengurangi akses pertemuan kamu dengan Shasa. Ingat Lam, hak asuh Shasa masih ada pada kami. Jadi mama bisa membuat kamu susah bertemu dengan anak kamu.Gimana?"
Alam terdiam. Dia hanya bisa pasrah mengikuti kemauan mertuanya, demi sang anak. Sementara Ina tersenyum menang melihat Alam tidak berkutik dengan ancaman Yulia.
Kita lihat saja nanti, Alam. Siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Ina pun masuk meninggalkan Alam yang masih terpaku.
Disini akan dimulai petualangan rasa antara Alam dan Ina. Nantinya akan ada kisah Ina yang menerima cinta Rangga. Bagaimana Ina menyingkapi persaingan Alam dan Rangga.
__ADS_1