Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
Penganten Baru


__ADS_3

...β€œDi antara kebahagiaan manusia adalah menentukan pilihannya dengan Allah dan di antara kebahagiaan manusia adalah keridhoannya pada apa yang Allah tentukan. Dan di antara tanda kesengsaraan manusia adalah ia meninggalkan Allah dalam pilihannya. Dan di antara tanda kesengsaraan manusia adalah kemarahannya pada apa yang Allah tetapkan atas dirinya” (HR. Imam Ahmad)....


...πŸ‡πŸ‡πŸ‡πŸ‡...


Cinta memang tak pernah disangka kehadirannya. Tak pernah disengajakan akan jatuh pada hati siapa. Mengalir begitu saja, tetapi saat kita merasakan jatuh cinta, sadarkah kita bahwa itu adalah salah satu kebesaran Allah SWT? Bersyukurkah kita pada-Nya atas keindahan cinta yang Allah selipkan pada hati kita? Sudahkah cinta membuat kita semakin dekat pada-Nya? Sudahkah kita memaknai dan menempatkan cinta dengan sebenar-benarnya?


Itu yang kini dirasakan Laras dan Rangga. Dua anak manusia yang ikatkan tali pernikahan, tanpa pacaran, tanpa saling mendalami karakter masing-masing. Laras dan Rangga mencoba menerima kekurangan dan kelebihan pasangannya. Masih mencoba belajar tanpa harus saling melukai.


Jika ada yang bilang, ah mereka masih penganten baru, masih hangat-hangatnya. Nanti juga beberapa tahun kemudian pasti ada berantemnya. Mungkin iya karena efek pengantin baru. Namun, Laras yakin kalau Rangga bukan tipe lelaki kasar pada wanitanya. Hal itu bisa dia lihat bagaimana saat dulu Rangga memperlakukan Ina dengan baik, menganggap orang terdekat Ina adalah keluarga. Dari situ Laras mulai mengagumi sosok Rangga. Sikap Rangga mengingatkannya pada Fajar, kakaknya yang telah tiada. Laras ingat saat sang kakak gajian, selalu mengajak dua bestie nya Adul dan Eva. Padahal gajinya nggak seberapa, tapi Fajar selalu bilang "Berbagi itu wajib apapun keadaannya". Laras, Adul dan Eva saat itu tahunya senang saja. Tapi sekarang saat Laras tahu bahwa gaji kakaknya hanya 40 ribu sebulan. Ada rasa sedih menerpa. Karena hanya demi menyenangkan dirinya sang kakak rela menggadaikan gajinya.


"Aku rindu ibu, bapak dan kak Fajar." Batinnya sembari menyeka air mata.


Laras berjalan keluar aula acara.Hiruk pikuk suasana acara membuatnya pusing. Paling tidak dengan menghirup udara luar bisa memberinya sedikit ketenangan. Untung saja dia sudah memakai hijab, jadi tidak perlu takut rambutnya tersibak angin.


"Kamu disini?" Laras menoleh sosok yang menghampirinya.


"Bulan madu, ya? masa menantu orang kaya bulan madunya di Ancol." sahut sosok itu.


Laras hanya melemparkan senyuman kecil. Tak lama tangannya mencubit kumis lelaki itu dengan gemes.


Pekikan dari suara bariton itu membuat wanita 19 tahun tertawa lepas.


"Nggak dulu nggak sekarang suka bener mainin kumis orang."


"Iya kumis tukul." Sahut Laras.


Lelaki itu adalah Adul, Sahabat kecilnya Laras. Lelaki yang seusia Laras tersebut, muncul di hadapan wanita. Seragam putih hitamnya plus dengan pentungan wajibnya, membuat Adul sedikit menawan. Sedikit? karena kalau dia bilang sangat menawan akan ada yang tidak suka dengan pujiannya.


"Kamu kerja disini?"


Adul mengangguk "Aku keren kan kayak gini? mirip nggak sama yang film baywatch."


"Hahahaaha.. Baywatch itu cuma pake kolor bukan seragam lengkap kayak gini."


"Ras."


"Iya, dul."


"Kamu cantik pake hijab. Aku harap kamu istiqomah, ya. Jangan kayak Neng nindy, lepas hijab pas kerja dikota."


"Terimakasih."

__ADS_1


Nindy adalah salah satu tetangga mereka yang melepas hijab karena kerja di perkotaan. Hanya saja setiap pulang ke rumah Nindy kembali menggunakan hijab.


"Insyaallah, Dul. Aku kedalam dulu, ya. Takutnya mas Rangga nyari." Pamit Laras.


Dul memandang Laras dari kejauhan.


"Andai saja aku sekolah sampai tamat bisa kuliah kayak kamu, Ras. Mungkin aku bisa mengkhitbahmu, tapi sekarang aku hanya bisa mendoakanmu agar bahagia dengan pilihanmu." Ucap Dul pelan.


"Sayang, kamu kemana saja." Panggil Rangga saat melihat istrinya yang dicari sejak tadi.


"Aku cari angin, mas. Sumpek didalam."


"Oh, kenapa nggak ngajak aku.Biar cari angin berdua."


"Ya, mas Rangga tadi asyik benar berbaur sama mereka. Aku minder, mas."


"Kenapa kamu minder? Kamu kan anak pengusaha juga?"


"Kalau hasil tes DNA menyatakan aku bukan anak om Donal? Apa mereka masih bersikap baik sama aku?"


"Kalau hasil tesnya negatif. Itu tanda kamu bukan adik tiriku, dan tetap menjadi nyonya Rangga Barata Yudha. Pokoknya kamu tenang saja, sayang. Apapun hasilnya kamu dan aku tetap suami istri.


Aku akan berusaha menjadi suami yang baik buat kamu. Ya, walaupun bukan dari pacaran. Lagian kamu bukannya belum pernah pacaran, ya?"


"Malu kok sama suami sendiri. By the way, kamu masih lama haidnya?"


Aduh kok dia nanya gitu,ya? Apa dia masih menagih malam pertama kami. Ya Allah aku takut.


"Apakah acaranya masih lama?"


"Kenapa, Sayang?"


"Pulang, yuk. Mama Raya dan Oma Gladys pasti sudah menunggu kita."


"Nggak kok, aku sudah pesankan empat kamar. Kasihan Ina baru saja dius kakaknya. Pasti dia masih bingung mau pulang kemana?"


"Mas".


"Iya, sayang."


"Kamu masih perhatian sama Ina. Apakah kamu masih cinta sama dia?Apakah..." .

__ADS_1


Laras melototi Rangga yang mencuri ciuman pertama. Rangga menuntun tangan Laras mengalung dilehernya. Entah kenapa dia tidak bisa berontak dan terkesan menikmati bibir suaminya.


"Maaaas"


"Enak kan sayang, mana halal pula."


"Iiih, kita lagi ditempat umum, mas." Wajah Laras memerah layaknya buah tomat.


...πŸ‡πŸ‡πŸ‡πŸ‡...


Acara pertunangan berakhir pada sore hari, banyak beberapa tamu mengabadikan diri dengan berselfie pada sebuah spot. Sambil menikmati keindahan pantai Marina Ancol. Beda dengan Ina yang kepikiran sang kakak, terpercik rasa bersalah karena seakan mempermalukan keluarga. Ina menyandarkan kepala di bahu Alam, lelaki itu paham akan perasaan kekasih. Tangannya menggenggam erat, seakan mau mengatakan kalau dia akan tetap ada untuk Ina.


"Apakah aku jahat,Lam?"


"Enggak kok, kamu nggak jahat, sayang. Semua ini butuh proses. Membuka hati mama Lia tidak segampang membalikkan telapak tangan. Ini semua salahku, andai dulu aku tidak menerima permintaan bibi untuk menikah dengan Dinda. Mungkin mama Lia tidak sebenci ini padaku." Kenang Alam.


"Lalu kenapa kalian bisa menikah?"


"Seharusnya Gita menikah dengan Ilham, bukan denganku. Tapi karena mantan istri Ilham mengaku hamil, maka aku yang menggantikan. Nggak mudah membangkit perasaan Gita yang masih terpaut ke Ilham. Bahkan saat menikah aku masih merasa mereka masih saling mencintai. Pada akhirnya saat ibuku memaksa bercerai, Gita hamil dan kami kembali membina rumah tangga harmonis."


"Rumit, ya?" Sahut Ina.


"Sama rumitnya dengan yang kita jalani sekarang. Seandainya tidak ada huru hara antara mama dan Ibu, mungkin hubungan kita lancar jaya seperti tol."


Dul datang menghampiri keduanya.


"Lam, Ina, kakak pulang duluan ya. Tadi bi Suti bilang kakakmu sedari tadi menangis didalam kamar tidak mau keluar kamar."Adu Dul.


"Aku ikut kak."


"Jangan nanti malah memperparah keadaan. Tunggu tenang dulu. Kakak pulang,ya. Lam, papa titip adik papa ya." Pamit Dul.


Tetap terus pantengin cerita ini.


Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya


Jangan lupa komennya juga rate


Kalau berkenan bantu vote dan hadiah

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2