
Jakarta, Indonesia
"Kamu cantik dengan gaun ini." Puji Alam di saat Ina mencoba salah gaun pengantin.
"Terimakasih." Ina tersenyum simpul ketika pujian itu terlontar dari calon suaminya.
"Padahal aku naksir sama yang itu" Ina menunjuk gaun panjang putih ada tutup kepalanya.
"Itu sudah ada yang pesan nona." Jawab Pegawai butik.
"Sudah sayang. Nanti aku cari yang mirip dengan gaun itu." Bibir tipis Ina lumayan maju. Karena baju impiannya sudah di booking orang.
Waktu terus berjalan. Persiapan pernikahan sungguh melelahkan bagi keduanya. Ina dan Alam memanfaatkan momen pertemuan ini yang hanya di jatah dalam satu minggu ini. Lebih dari itu, mereka sudah tidak boleh bertemu lagi.
Ina sudah dua minggu berada di Jakarta. Tentu saja kepulangannya untuk keperluan pernikahan mereka yang tinggal hitungan minggu. Ada rasa lega karena sebagian persiapan sudah rampung. Baik Ina maupun Alam hanya menerima beresnya saja.
Keduanya berjalan meninggalkan butik. Rona-rona bahagia terpancar di wajah keduanya. Sepotong kenangan mengiringi langkah mereka.
Dulu ada dua anak manusia yang saling membenci satu sama lain. Tak ada kedamaian ketika mereka bertemu. Bahkan kebencian itu membuat sang lelaki merasa tersiksa. Karena pada dasarnya yang dia rasakan bukan benci, tapi gengsi.
Susah memang kalau rasa gengsi sudah bertahta. Makanan yang sebenarnya enak bisa menjadi basi. Lelaki itu harus bertarung antara rasa yang berbunga dan rasa gengsi yang menggerogoti hatinya.
Saat ini langit Jakarta terlihat cerah. Waktu yang diujung senja tapi masih memperlihat semburan lukisan berwarna jingga. Beberapa gedung terlihat kokoh, barisan kendaraan pun mulai memadati jalan. Ina tertidur dalam mobil menandakan dia begitu lelah dengan rutinitas seharian ini. Fitting baju, cari pakaian untuk keluarga Sukasari, semua di selesaikan dalam satu hari.
"Na, besok kita ziarah ya." Ucap Alam sebelum calon istrinya benar-benar terbuai dalam dunia mimpi.
"Hmmm..." Terdengar Ina sudah mulai mengantuk. Alam tersenyum melihat kekasihnya sudah tertidur. Tangannya membelai rambut yang sudah memendek sebahu.
__ADS_1
"Kamu pasti capek banget ya? Rasa capek akan berbayar indah. Kita tidak akan terpisah lagi." Alam memandang Ina yang sudah terlelap indah.
klik
Segala puji bagi Allah Subhanallahu wa ta’ala, kepada-Nya kita memuji, memohon pertolongan dan ampunan. Kita berlindung kepada Allah dari kejelekan jiwa dan keburukan amal perbuatan. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah semata yang tidak memiliki sekutu, dan Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
Kematian adalah takdir seluruh makhluk, manusia ataupun jin, hewan ataupun makhluk-makhluk lain, baik lelaki atau perempuan, tua ataupun muda, baik orang sehat ataupun sakit. Seperti dalam firman Allah Ta’ala berikut ini (yang artinya), “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat disempurnakan pahalamu. dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran : 185).
Pagi ini semua keluarga sudah bersiap-siap berangkat ke pemakaman untuk ziarah. Sejak rumah mereka disita, Yulia, Dul dan semua anak buah kediaman Gunawan sekarang tinggal di rumah Spencer. Awal sampai Ina kaget setelah tahu kalau rumah papanya disita oleh Grace. Ina tidak menyangka pembatalan pertunangan berbuntut panjang. Terselip rasa bersalah karena dirinyalah penyebab petaka tersebut.
Flashback on
Ina berdiri di depan pintu kedatangan bersama keluarganya. Karena Alam dan keluarga Spencer sudah pulang lebih dahulu. Sementara keluarga Gunawan memilih tinggal sampai urusan Ina dikampus selesai.
Dul mengurusi bagasi sementara Ina sibuk menjaga Shasa. Gadis kecil yang sebentar lagi menginjak 2 tahun itu asyik menunjuk apa yang nampak di matanya. Keakraban antara anak dan calon ibu sambung tersebut menjadi pemandang sejuk dimata Yulia dan Dul. Ada rasa lega ketika sang cucu menemukan calon ibu yang tepat.
"Nggak nyangka ya,pa. Ina akhirnya akan bersama dengan lelaki yang dia cintai. Mama harap apa yang dialami Gita bisa menjadi pelajaran buat Alam dan keluarganya. Mama harap Ina tidak mengalami apa yang dialami Gita dan mereka memperlakukan Ina dengan baik."
Bandara Internasional Soekarno-Hatta dipenuhi ribuan manusia yang akan berangkat dan pulang. Salah satunya Ina dan keluarganya. Rio, Yoshida dan Maudy pun ikut pulang. Tentu saja kepulangannya untuk melabrak putri sulungnya. Ada rasa malu setelah mendengar aduan dari Yulia. Belum lagi saat Dul mendapat kabar kalau pengacaranya di datangi Grace terkait penggantian direktur dari Abdullah menjadi Gilang karena Gery menolak jabatan itu.
Sopir suruhan Alam pun datang menjemput mereka. Barangpun akhirnya sudah ke mobil. Ina celingak celinguk karena tank nampak kekasihnya ikut menjemput. Ada rasa kesal karena lelaki itu tak menjemputnya.
"Masa ga ada waktu buat jemput sebentar aja." Keluh Ina dalam hati.
Selama perjalanan semua terdiam, ada yang asyik dengan gawainya ada yang asyik dalam diamnya, ada juga sudah terbuai dengan dunia mimpi.
Ina sesekali menatap Edwar yang masih fokus menyetir. Alam pernah bilang kalau Edwar bukan sopir. Edwar dan Alam tumbuh sejak kecil. Ayahnya Edwar masih ada hubungan keluarga dengan bibinya Alam. Pantas saja Alam sangat sayang Edwar dan keluarga kecilnya. Bahkan menjelang pulang dia masih menyempatkan membeli kimono untuk Bella dan Aura.
__ADS_1
Mereka akhirnya sampai dirumah kediaman Spencer. Suasana kediaman calon mertuanya tampak sepi. Hanya ada Marni dan mbak Dia yang menyambutnya. Gurat lelah terlihat dari wajah mereka yang baru sampai.
Ah, mungkin Alam masih dikantor. Tapi kenapa pulang kesini ya? Kenapa tidak pulang ke Cinere? Apa ada yang mereka sembunyikan dariku?
Ina memindahkan Shasa dari pangkuannya ke tangan mbak Diah. Tampak gadis kecil itu sangat lelah karena perjalanan panjang nan jauh. Untungnya Shasa tidak rewel.
Ina duduk diranjang milik Alam.Tatapannya beralih kearah beberapa Photo kenangan Alam dan Gita. Ina memegang satu persatu photo tersebut.
Dari sini aku bisa melihat betapa Alam sangat mencintai kamu, Gita. Rasanya aku tidak bisa menggeser posisimu. Mungkin secara nyata dia memang mulai mencintaiku, tapi secara batin kamu tetap ada dihatinya.
Saat Ina masih asyik menatap Photo Gita dan Alam, Sebuah tangan melingkar sempurna di pinggangnya. Ina hanya tersenyum kecil karena dia tahu siapa pemilik tangan tersebut.
"Aku kangen kamu, Na. Maaf tadi nggak sempat menjemput. kantor lagi banyak masalah, Alena sampai sekarang nggak ada kabar. Padahal dia banyak memegang file kantor." Ina berbalik menghadap Alam. Tangannya mengusap pipi duda anak satu itu.
"Nggak papa. Aku ngerti, kok"
"Kamu istirahat, Na. Aku tidur diruang kerja. Kamarnya di kunci saja. Takutnya aku khilaf balik ke kamar ini."
Flashback off
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
__ADS_1
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
Bersambung