Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
Menjelang Pernikahan


__ADS_3

Angin riuh menghempaskan semua yang ada disekitar. Tak pandang bulu apapun bentuk besar, kecil, ringan, berat, semua terasa kecil di matanya. Seperti itulah kehidupan manusia, saat bahagia mereka melupakan sang pemilik alam, saat kesusahan mereka baru ingat pada penciptanya.


Angin diibaratkan sebagai ujian yang mampu menggoncang kehidupan manusia. Manusia yang hatinya kokoh dan kuat tidak akan mudah tertiup dengan segala ujian yang ada. Justru manusia yang rapuh akan mudah goyah menghadapi ujiannya.


Di sebuat rumah bak istana, tampak seorang wanita berdiri dengan baju andalannya. Tatapannya menengadah ke depan seakan memamerkan keangkuhannya. Senyumnya mengembang ketika menatap rumah yang ada di hadapannya. Jalannya berlenggok bak model, seorang sopir membantu membawa tas G****i keluaran terbaru.


"Tante!" Terdengar suara seorang lelaki tergopoh mengejar dirinya.


Wanita itu tersenyum melihat pemuda yang berdiri dihadapannya.


"Iya, Gilang."


"Aku dapat kabar kalau Rio dan Mamanya sekarang di jakarta. Mereka juga ikut berpartisipasi dalam pernikahan Ina dan Alam, tante." Lapor Gilang.


"Huuuuh, biarkan saja. Aku sudah tidak peduli dengan urusan mereka. Apa yang kucari sudah kudapatkan. Kamu tahu Gilang, semua aset yang mereka miliki bukan milik Opa Gunawan, melainkan punya mamanya tante Lia. Omaku adalah anak adiknya Oma Samara. Jadi kalau mereka ingin Ina yang menduduki jabatan itu, salah besar. Ina bukan bagian dari keluarga Samara, dia hanya anak simpanan Om Gunawan.


"Tapi, tante... setelah saya selidiki saham terkuat di perusahaan Gunawan corps adalah 75% Opa, 25% milik Oma Samara, jadi Opa gun lebih besar andilnya."


"Sudahlah, Gilang. Saya malas membahasnya." Grace langsung lmeninggalkan Gilang di pelataran halaman rumah.


Grace naik mobil di sopiri p wak Yanto, mantan sopirnya. Berbeda dengan para pekerja yang lain, dimana mereka memilih mengikuti tuannya yang terusir, Yanto malah mengiba pada Grace agar tetap bekerja. Baginya, jika ikut dengan Yulia dan Dul nasibnya akan luntang lantung. Dimana keluarga Spencer sudah mempunyai dua orang sopir pribadi.


"Pak, cepetan sedikit, dong!" Omel Grace dengan nada tinggi.


Seperti biasanya, Yanto menerima kata-kata kasar dari Grace. Itupun, ditahannya demi membiayai kehidupan anak-anaknya di kampung.


Yanto tahu perlakuan Yulia, Dul dan Gita sangat baik padanya. Bahkan dia pernah bertualang bersama Gita ketika ada beberapa mobil yang berusaha menculik anak majikannya.


Mobil akhirnya turun ke sebuah salon. Tampak Grace turun sambil membenarkan pakaiannya. Lalu berjalan tanpa memperdulikan Yanto yang mengikutinya.


"Kamu ngapain ikut ke dalam?" Grace menahan tubuh pak Yanto.


"Kan tadi bukannya ibu bilang saya harus menjaga ibu. Makanya saya.."


"Heh... kamu jaga saya diluar, jangan sampai mobil saya hilang. Hilang juga gaji kamu nggak akan mampu melunasinya." Yanto menekan dadanya, entah kenapa ada rasa sesak mendengarnya. Lagi-lagi dia teringat dengan anak-anaknya di kampung, pada akhirnya mengalah adalah jalan terbaik.

__ADS_1


Langit Jakarta terlihat cerah, waktu menunjukkan pukul 09:00, Yanto menahan perutnya menandakan lapar telah menyerang. Matanya mengedar mencari kedai makan pinggiran, sayangnya dia belum menemukannya.


Langkahnya berputar untuk kembali ke mobil, namun saat berbalik Grace sudah muncul bersama teman-temannya. Yanto pun kembali mengurungkan niatnya untuk mengisi perutnya.


"bapak pucat sekali" Sapa salah seorang teman Grace.


"Saya nggak papa,Bu." Ucap Yanto.


"Grace, suruhlah sopirmu istirahat. Kasihan dia, nanti dia kenapa-kenapa kamu juga yang repot." Grace menghela nafas berat, uang lembaran 10 ribu pun berpindah ke tangan sang sopir.


"Pelit amat, Grace! Aku saja kamu uang makan ke sopirku 50 ribu."


" 10 ribu itu sudah cukup buat makan dia." Jawab Grace.


"Pak Yanto mobil ini biar aku yang setir, bapak balik saja ke rumah. aku mau ajak mereka ke kantor Gery."


"Biar saya saja antar, Bu. Lagian kalau saya pulang ke rumah nggak ada yang bisa dikerjakan. Jadi biar saya yang antar." Grace mengiyakan lalu memberikan kunci mobil pada Yanto. Beberapa saat kemudian rombongan geng-nya Grace sudah berada di mobil.


klik


"Gimana rasanya, Na?" Tanya Arthi saat Ina menyambangi kantor calon mertuanya.


"Gimana rasanya bakal menikah dengan pak Ronal? Deg-degan nggak? By the way, selamat ya, na. Kamu sebentar lagi bakal jadi istri direktur." Ina hanya cengingisan saat temannya menggoda soal pernikahan.


"By the format kalian masih lengkap kan. Soalnya mau ajak kalian jadi bridesmaid."


"Banyak anak baru, Na. Mbak Menik sudah nggak kerja lagi, Nofi sekarang di Taiwan kerja TKW gitu, Intan dah merried suaminya Intan polisi, jadi tinggal Aku sama Susan yang masih bertahan." Jelas Arthi.


"Huft, jadi sudah pada mencar, ya?" Arthi mengangguk mengiyakan ucapan Ina.


"Terus kak Alena gimana? sudah ada kabar?" Arthi menggeleng. Semua penasaran dengan hilangnya Alena.


"Beberapa hari ini aku melihat Alam kusut banget semenjak Alena menghilang. Padahal itu orang kepercayaannya. kenapa ya Alena begitu, kurang baik apa perusahaan ini padanya." Keluh.


"Itu sudah tugas kamu menguatkan pak Ronal. Dimana hubungan pasangan bukan sekedar manisnya saja. Tapi, disaat ini justru kamu tampakkan rasa cinta itu dengan selalu ada disaat membutuhkan."

__ADS_1


"Bagaimana dengan kuliahmu, Na?"


Ina menunduk "Aku rencananya mau pindah di jakarta, Kak. Soalnya nggak mungkin kami pisah-pisah atau minta Alam tinggal di Jepang. Situasi perusahaan lagi tidak memungkinkan."


"Sayang banget, ya. Apapun keputusan kalian kalau itu yang terbaik."


"Terimakasih kak Arthi. Aku pamit dulu, ya. Mau ketemu Alam."


"Selamat ya, Na."


"Ucapannya nanti saja pas acara, kak."


Ina berjalan menuju ruang kerja calon suaminya.Tapi ternyata melihat Alam tidak ada di ruangannya. Pada akhirnya kaki sudah berdiri di rooftop kantor. Hempasan nafas dikeluarkannya pelan-pelan. Hembusan angin siang itu terasa sepoi-sepoi. Rambutnya yang kini pendek sebahu ikut melambai mengikuti angin.


Ina merasakan pinggangnya seperti terikat kencang. Tubuhnya berbalik menatap lelaki yang ada di hadapan. Pucat, terlihat gurat lelah di wajah lelaki. Ina mengecup pipi Alam, mungkin dengan begitu dia bisa meringankan beban yang saat ini di pundak kekasihnya.


"Kamu pucat sekali, sayang." Ina meraba wajah Alam.


" Tapi setelah melihat kamu. Rasanya ringan banget, kamu pasti menunggu lama, maaf, ya aku lagi banyak kerjaan soalnya. Kamu tahu sendiri kan kalau..." Ina menutup bibir Alam dengan jari telunjuknya.


"Aku kesini niatnya mau ngajak anak-anak OB buat jadi bridesmaid pernikahan kita. Tapi sekaligus ini pertemuan terakhir kita, kamu tahu kan kita sudah tidak boleh bertemu sampai..."


"Sampai hari pernikahan kita, kan? Dan hari itu tidak ada lagi Alam dan Ina berpisah jarak, tidak ada lagi saling jauh merindu. Yang ada kita akan jadi satu, kita akan bersama selamanya. Menjadi imammu, pelindungmu, menjadi lelaki yang paling bahagia karena memilikimu dalam ikatan halal.


Sampai jumpa di hari pernikahan kita."


"Aku pamit, ya, Lam. I love you."


"Love you forever." Alam mengantarkan Ina sampai depan gerbang kantor.


*


*


*

__ADS_1


*


Part mendatang akan ada cerita tentang tamu dari belanda... Hayo ada yang kangen sama mereka ....


__ADS_2