Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
Aku izinkan


__ADS_3

Kediaman Gunawan


Langit pagi ini terlihat mempesona, bahkan sejak dia merasakan kebahagiaan yang hakiki. Nampak matahari sudah menyinari bumi, seakan alam semesta hendak menyapanya.


Sejak pulang ke kediaman sang kakak semalam, Ina tidak banyak aktivitas. Tubuhnya dibiarkan menghirup udara pagi di depan jendela kamarnya. Langkah beralih kearah ranjang, sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan hairdriyer.


Mereka sudah melewatkan waktu subuh, bukan karena tak mau bangun atas malas mengerjakan salah satu pondasi agama. Karena dia mengizinkan suaminya melakukan kewajibannya. Meskipun dia pernah bilang pada Alam belum ingin hamil, namun dia tidak bisa melarang Alam memberikan nafkah batin untuk dirinya.


Ina memakai kaos putih, tubuhnya yang mulai berisi memperlihatkan lekuk ***********. Tangannya meregangkan otot-ototnya.


Flashback


Tadi malam, Alam mengajak merenovasikan kamarnya. Bagi Alam, dia menginginkan suasana baru dirumah mereka. Awalnya Ina menolak dengan keinginan suaminya. Dengan alasan sebentar lagi mereka akan pulang ke Jepang. Sudah pasti kamar tersebut akan kosong ketika mereka pergi.


"Percuma, mas."


"Kenapa, sayang?" Alam mendekatkan tubuhnya menutupi punggung istrinya.


"Ya kan kita nanti bakal pulang ke Jepang. Pasti kamar ini bakal kosong."


"Karena setiap sudut kamar ini membuka kenanganku dengan Gita, yang."


Alam bangkit memindahkan beberapa barang. Menggeserkan posisi nakas ke tempat yang lebih pas.


Ina melihat suaminya yang bermandi peluh. akhirnya turun membantu pekerjaan suaminya.


Hingga setelah selesai dengan pekerjaan tersebut. Keduanya merebahkan diri di ranjang, tubuh rasanya sangat lelah.


"Kamar ini nantinya akan ditempati Gery." Sahut Alam.


"Hah! Terus kalau kita pulang nanti nginap dimana?"


"Kan ada rumahku, Ada rumah kita nantinya, jangan takut kalau soal tempat tinggal. Kita punya banyak tempat pulang."


"Semoga, mas."


"Karina, aku mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu, Mas."


Keduanya saling melempar senyuman. Tangan Alam melingkar kencang di pinggang Ina. Alam menarik dagu istrinya. Peraduan bibir tak terelakkan. Ina pun menikmati sentuhan yang diberikan suaminya.


Alam melepaskan peraduan mereka, dia mencoba menahan diri. Mengingat permintaan Ina untuk menunda kehamilan. Dia menghormati keinginan istrinya, walaupun hasrat besarnya tak bisa di tahannya.


Ina memandang suaminya seperti tak enak dengan dirinya.


"Mas, lakukanlah kewajibanmu sebagai seorang suami."

__ADS_1


"Maksudnya kamu mengizinkan, Na?"


"Iya, aku mengizinkan."


Kecupan demi kecupan mereka lalui. Alam merebahkan kepala Ina diatas bahunya. Tangan Alam menjulur ke pucuk rambut istrinya. Mata mereka saling bertatapan lama.


"Kamu tahu? jika aku seperti jatuh cinta kembali saat bersamamu. Ada rasa yang selalu bergetar ketika berada di dekatmu. Aku mohon tetap mencintaiku, meskipun ada sikapku yang tidak kausukai. Aku mohon tetap berada disampingku meskipun keadaannya tak seperti sekarang."


Jika nanti kamu tetap disampingku. Miliki aku dengan segala kekuranganku. Bila nanti engkau disampingku jangan pernah lelah untuk tetap mencintaiku."


Ina tersenyum mendengar ucapan suaminya. Tangan mungilnya meraih dahi suaminya. Memberikan kecupan hangat untuk Alam.


"Aku akan mencintaimu dan selalu mencintaimu,Lam. Jika tidak mungkin kemarin aku akan menerima lamaran kak Reza, Jika tidak aku mungkin sudah goyah dengan perhatian yang diberikan Takeru padaku. Ketika melihat terbaring karena menyelamatkanku, hatiku terasa sakit. Kenapa kamu mengorbankan diri untukku, padahal aku sudah kasar padamu. Kenapa kamu mengorbankan diri saat mereka menangkapmu?"


"Karena aku mencintaimu, Na. Karena rasa cintaku yang lebih besar padamu."


"Aku juga mencintaimu."


Tangan kanan Alam menahan tengkuknya. Dengan penuh cinta peraduan pun kembali terjadi. Ina membalas ciuman Alam, tangannya menarik erat rambut suaminya. Malam ini mereka kembali melaksanakan kewajiban layaknya pasangan suami istri.


Ina tertidur sambil memeluk dada suaminya.


Flashback off


Alam membuka matanya. Tubuhnya lelah setelah penyatuan raga yang mereka lakukan tadi malam. Melihat sang istri sudah segar. Alam pun ikut bangkit, menahan tubuhnya. Entah kenapa dia menjadi candu aroma tubuh istrinya.


"Iya, mas. Kamu mandi gih! Bauuu..." Ina menolak pelukan suaminya.


"Hmmm....aku masih kangen." Ina mengernyit dahinya. Kenapa suaminya jadi lebay seperti ini.


"Kangen? Mas kita nggak pernah berjauhan kenapa kamu malah bilang kangen?"


"Aku kangen sama yang tadi malam."


Pluuuuuk


Ina melemparkan handuk ke wajah suaminya.


"Dasar otak mesum!"


Cup!


Sebuah kecupan mendarat di pipinya. Ina mendadak merah merona dan mencoba menjaga jarak dari suaminya. Meskipun Alam sering menciumnya namun dia tak tahu kenapa jantungnya berdetak kencang. Tapi tetap saja Ina menikmatinya.


"Mas." Cicit Ina.


"Terimakasih atas izinnya tadi malam. Aku janji nanti waktu di Jepang tidak akan memintanya sampai kamu siap."

__ADS_1


"Mas, maaf ya kalau keinginanku memberatkanmu. Aku tahu kamu pasti..."


"Na, selama itu untuk kebaikanmu, aku rela mengalah."


"Terimakasih, mas."


Ina meninggalkan Alam sendirian di luar. Sementara itu Alam masuk kamar mandi membersihkan diri. Namun sebelum itu dia mengambil Handphone hendak menghubungi seseorang. Matanya mengintip pintu takut istri kembali ke kamar.


"Jadi bagaimana kak Vika?"


"Untuk sementara ini konsep acaranya rampung 70%, Lam. Kamu minta outdoor enaknya acaranya siang sekitar jam 10-11 lah. Sebab kalau terlalu siang udaranya panas. Nanti pada nggak betah."


"Pokoknya aku serahkan sama kak Vika bagaimana bagusnya. Aku yakin pekerjaan kak Vika pasti keren seperti waktu buatin resepsinya Siti dan Ilham"


"Kamu tenang saja,Lam. Pokoknya kamu terima beres."


"Jangan di forsir kak. Entar berojol dedeknya. Kerahkan saja anak buah kak Vika."


Alam menutup komunikasinya dengan Vika Yasmin, owner WO yang menangani acara rahasianya. Setelah menelepon Vika, Alam bersiap-siap mandi. Karena dia akan memboyong keluarganya ke Cottage untuk liburan.


Di ruang makan semua keluarga berkumpul. Apalagi Shasa sudah bangun dan sudah dimandikan Bi Suti. Gadis kecil itu merengek minta turun ketika melihat mamanya.


"Anak mama sudah cantik." Ina mencium pipi anak sambungnya.


"Mama kok wanginya kayak wangi Ayah?" Tanya Shasa.


"Mama pinjam telonnya ayah ya?" Tanya Shasa lagi.


Ina menggaruk kepalanya. Dia bingung harus menjelaskan pada putri sambungnya.


"Shasa, mama kan capek. Soalnya mau ngasih Shasa adek." Jelas Yulia pada cucunya.


"Adek? Adek itu apa oma?" Yulia menghela nafas berat.


"Adek itu teman buat Shasa." Jelas Ina.


"Seperti kak Jenny ya?" Ina menggangguk.


"Shasa sini sama Ayah" Alam muncul di tengah-tengah keluarga besarnya.


"Nggak mau! Ca mau sama Mama." Shasa menolak gendongan ayahnya.


"Jadi gitu, ya. Nggak mau temenan sama Ayah lagi, jadi Ayah nggak jadi beli Es krim coklatnya sama mainan Avengernya."


Mata gadis cilik itu langsung berbinar mendengar mainan yang disebut.


"Iya, Yah. Shasa temenan kok sama ayah. Mama Shasa mau sama ayah saja."

__ADS_1


__ADS_2