
"Lam, besok kamu sibuk?"
Alam yang baru saja pulang dari kantor langsung ingin merebahkan diri. Tapi Marni, ibunya langsung menemui putranya dikamar. Keinginan Marni melihat putranya menikah lagi, sejak meninggalnya Gita, Marni melihat perubahan putranya yang tertutup. Tak ada Alam yang dulu ceria, selengean, dan humoris.
Marni sadar, dulu dialah yang menentang hubungan Alam dan Gita. Wajar baginya, karena dimasa muda Yulia adalah sosok sombong yang akan dijodohkan dengan Brian. Saat itu status Marni adalah seorang pembantu di kediaman Spencer, Brian adalah anak bungsu dikeluarga itu. Bahkan saat hubungannya dengan Brian tercium lalu terusir, Yulia juga ada disana. Lebih sakit saat Alam kecelakaan demi menolong Gita, Alam koma berbulan-bulan di rawat kakaknya. Hingga sang kakak sakit pada akhirnya meninggal dunia.
Bagi Marni permasalahan yang bertubi-tubi dihadapi penyebabnya cuma satu, yaitu Gita.
"Lam"
Marni duduk disamping putranya. Membelai pucuk rambut Alam. Anak semata wayangnya yang saat ini masih terpukul atas meninggalnya istrinya. Matanya menatap beberapa pigura yang berjejer diatas nakas. Marni memegang salah satu pigura tersebut, potret kebahagiaan keduanya saat pernikahan Gita dan Alam.
"Bu, bisakah meninggalkanku. Aku capek sekali."
"Lam, Ibu mau bicara. Besok kamu ada waktu tidak, nak?"
"Kalau ibu minta aku ikut kencan lagi, maaf aku tidak bisa."
"Lam, Shasa itu butuh seorang Ibu."
"Shasa sudah dapat kasih sayang melebihi seorang Ibu. Dia tidak kekurangan apapun, limpahan kasih sayang dari dua keluarga apa itu tidak cukup,bu. Please, bu. Jangan tawarkan wanita wanita pilihan ibu lagi. Gita bahkan baru beberapa bulan meninggal. Kuburannya masih merah. Aku juga tidak berniat menikah lagi."
"Kamu keras kepala,Lam. kamu cuma memikirkan diri sendiri, kamu tidak memikirkan jika suatu Shasa merasa minder karena tidak punya ibu. Kamu lihat Jenny, dia beberapa kali pindah sekolah hanya karena papanya dipenjara. Apa kamu tidak belajar dari masalah itu, untuk mencari kebahagiaan untuk putrimu, Lam."
Alam menghela nafas panjang. Dia yakin kalau Shasa akan lebih bahagia jika tanpa Ibu. Seperti Edwar yang sejak lahir tak pernah melihat ibu kandungnya, karena meninggal setelah melahirkan. Tapi ibu Aisyah datang mengganti posisi ibu kandung sahabatnya. Dari situ Alam belajar, bahwa kasih sayang bisa didapatkan dari keluarga inti seperti nenek kakek, saudara dan famili lainnya.
Untuk menikah lagi, rasanya jauh dari keinginannya.
Alam merapatkan tubuhnya dibalik selimut. Sambil mengajak bicara photo istrinya. Sejak Gita meninggal Alam memang sering mengobrol dengan photo istrinya. Banyak hal yang sering diceritakannya dari kegiatan kantor hingga tentang putri mereka, Shasa. Sama hal saat Gita masih ada, tak pernah sedikitpun ditutupi Alam, Gita selalu menjadi pendengar yang baik.
__ADS_1
Kamu apa kabar, sayang. Pasti kamu sekarang sedang di surga, melihat pertumbuhan anak kita. Kamu tahu, Yang, Shasa itu pertumbuhannya sangat cepat melebihi anak usianya. Usianya sekarang masuk 9 bulan, tapi dia sudah mulai bisa menegakkan kakinya, hebatkan anak kita. Kata psikolog anak kita sudah nampak IQ nya tinggi. Padahal kamu tahu sendiri kan, aku bukan orang berprestasi, kamu juga sama.
Aku kangen kamu, sayang. Seandainya waktu bisa kuputar akan kuperbaiki semuanya. Perbaiki agar kamu bisa bahagia. maafkan aku kalau sepanjang hubungan kita banyak membuatmu menangis.
Alam pun tertidur sambil memeluk photo mendiang istrinya. Berharap bisa bertemu walaupun hanya dalam mimpi.
Pagi ini di kediaman Spencer
"Assalamualaikum"
Sapa seorang wanita cantik yang datang ke kediaman Spencer.
"Eeeeh... Ada nak Alena. Sini nak sarapan bareng."
Alena adalah sekretaris Alam. Dia sudah bekerja di perusahaan Spencer sejak dua bulan yang lalu. Alena juga disinyalir menjadi wanita pilihan keluarga Spencer. Meskipun tak pernah ditanggapi oleh Alam.
"Ya, udah. Kamu yang handle rapatnya. Aku ada urusan sebentar."
"Tapi, pak.."
"Kenapa? Nggak mampu? Kalau nggak bisa mending kamu berhenti. Saya mau ke tempat mertua saya nganterin kebutuhan Shasa."
Alam melengos meninggalkan Alena. Wanita menatap bos nya dengan tatapan penuh arti.
"Kamu yang sabar, Alena. Alam memang seperti itu kalau berurusan dengan wanita." Marni hanya menggeleng kepalanya melihat tingkah putranya.
Klik
"Kamu turun disini." Ina kaget saat Alam menurunkan dirinya di pertengahan jalan. Padahal kampusnya masih jauh.
__ADS_1
"Kok turun disini, sih. Kampusku masih jauh!" Ucap yang kesal diturunkan ditengah jalan.
"Mana jauh? itu pucuk gedungnya sudah kelihatan. Jangan manja kamu! baru jalan segitu aja udah protes. Aku sekolah dulu melewati sawah dan sungai, tau!" omel Alam.
"Ooooo...Mau aku aduin ke kak Lia." Ina mengotak-ngatik gawainya untuk menelpon sang kakak.
"Adu aja, itu memang keahlian kamu, kan. Sudah saya terlambat hari ini ada rapat. By the way, saya tidak bisa jemput kamu."
Ina menatap kesal saat Alam tetap meninggalkannya ditengah jalan.
Alam bukan pergi ke kantor melainkan pulang kerumah mama Yulia. Melayangkan protes karena semua barang Gita dihibahkan ke Ina.
Mama yang sedang bermain dengan sang cucu kaget dengan kedatangan Alam.
"Kok balik lagi? Apa ada yang tinggal?" Tanya mama Yulia.
"Ma, kenapa semua barang Gita mama kasih ke Ina?"
Mama menghela nafas mendengar protes sang menantu. Sejak awal memang Alam menentang keras saat Ina menempati kamar Gita.
"Emang kenapa, lam?" Tanya mama yang masih heran dengan sikap Alam.
"Ma, Aku tidak setuju mama memberikan barang Gita ke Ina. Kalau mama mau sedekah kasih ke yang lebih membutuhkan bukan ke yang mampu seperti Ina."
"Terserah mama dong, mau mama kasih ke siapa. Kamu nggak berhak mengatur mama, Gita itu anak mama jadi apapun yang jadi barang milik Gita itu masih hak mama untuk mempergunakannya. Kenapa kamu yang sewot kalau mama memberikannya pada Ina?"
Alam hanya diam saja. Dia sadar sekarang statusnya bukan lagi menantu dirumah ini. Statusnya adalah ayah dari cucu dikeluarga itu. Tapi Alam juga sadar sejak kehadiran Ina, mama Yulia memperlakukan Ina seolah Gita masih hidup.
Dia cuma ingin mama Yulia menghibahkan barang istrinya ke orang yang lebih membutuhkan.
__ADS_1