
"Pa" Angel menggeddor pintu kamarnya dengan keras.
Tak ada sahutan dari luar. Angel hanya bisa menangis, menahan rasa sakit disekujur tubuhnya. Seperti hari-hari sebelumnya jika ada kesalahan kecil saja, papanya tidak akan segan-segan memukulnya sampai puas.
"Pa." Pekik Angel.
Delima, sang mama tak kuas menahan tangis. Ibu mana yang tak sakit melihat anaknya kesakitan. Tapi seperti itulah suaminya, jika dirinya menolong putrinya maka suaminya akan melampiaskan ke dirinya dan ketiga istri madunya.
"Mbak, tolongin Angel kasihan pasti dipukul papanya lagi." Ucap Amelia yang merupakan madu ketiga suaminya.
Delima hanya bisa terdiam. Dia tak berani pada sang suami yang begitu keras. Langkah kaki mendekati pintu kamar putrinya. Tapi lagi-lagi tertahan tatkala mengingat dulu dia pernah dipukul suaminya karena menolong Angel.
"Nak, maafin mama." Isaknya saat mendengar rintihan putrinya.
"Kalian memang tidak pernah sayang padaku. Kalian senang melihatku mati perlahan-lahan. Aaauuuewwww, sakiiiit!" Pekik Angel.
Delima kaget mendengar jeritan putrinya "Angel! Angel! Kamu nggak papa, nak!" Panik Delima.
"Mas tolong Angel!" Rengeknya pada suaminya yang sedang dikamar istri keduanya.
Raga keluar dari kamar memasang wajah kesal. Delima melihat Raga hanya memakai celana pendek dan tubuhnya dibiarkan polos tanpa baju. Delima yakin kalau suaminya sedang memadu kasih.
"Apa sih!" Bentak Raga.
"Angel mas! Aku mendengar dia merintih. Kasihan, mas!"
"Biarin aja, mbak. Itu hukuman dia karena kabur dari rumah." Asih si istri kedua membela suaminya.
"Heh!kamu diam, ya! ini bukan urusan kamu!" Marah Delima. Sebagai istri pertama dia sudah cukup sabar menghadapi madu kedua suaminya.
"Maaaaas!" pekik Delima. Raga kembali masuk ke kamar bersama madu keduanya. Delima meninggalkan kamar dan meminta Amelia mencari bantuan.
Gubraaakkkk!
Pintu terbuka. Delima menjerit melihat putrinya bersimbah darah. Dengan cepat mereka membopong Angel membawa kerumah sakit terdekat. Raga mendengar keributan kembali keluar kamar. Kaget melihat darah berceceran dirumah. Kagetnya lagi melihat para istri dan anak-anak nya menangis.
"Ada apa lagi, hah!"
__ADS_1
Tak ada yang memperdulikan kehadirannya. Raga melototi istri madu keeempatnya yang masih menangis. Gadis yang kecil yang berdiri disamping Ibunya menatap takut pada sang ayah. Raga pun tak menatap manis pada putri bungsunya.
"Ibu, aku takut." Rengeknya pada sang ibu.
Sumi berdiri didepan sang putri tunggalnya. Tangannya membelai guna menenangkan gadis kecil tersebut. Andai dia punya daya untuk kabur sudah dia lakukan dari dulu.Tapi apa daya, jika dia kabur maka orangtuanya jadi taruhan. Sumi memeluk putrinya yang berusia 4 tahun. Dengan sigap dia menggendong dan mengantarkannya kekamar.
"Ibu, kita pulang kerumah nenek saja. Aku takut disini." Rengeknya lagi.
"Iya, nak. Nanti kita ke tempat nenek." Ucapnya masih menenangkan putrinya.
Raga Budiman adalah seorang pengusaha bertangan dingin. Dimana dia akan menghalalkan segala cara agar perusahaannya maju. Dia tak kenal kata kasihan, baginya yang namanya bisnis tetaplah bisnis, bahkan dia akan berteman dengan pengusaha lain jika menguntungkan dirinya.
Saat ini Raga mencoba mendekati Spencer corporation meskipun beberapa kali ditolak. Tapi Raga tidak menyerah, dia pun mengutus seseorang untuk menjadi karyawan disana.
Raga menyusul ke rumah sakit untuk mengetahui keadaan putrinya. Meskipun keras tapi terselip kekhawatiran tentang kondisi putri keduanya. Dia merasa kalau Angel termasuk anak yang susah diatur. Suka dugem, pulang pagi itu sudah membuatnya kewalahan. Maka itu dia sangat keras.
Sampai dirumah sakit Raga mendapati kedua istrinya sedang menangis.
"Delima! Amel! kenapa kalian menangis?" Tanya Raga pada kedua istrinya.
"Masih punya muka kamu kesini! setelah apa yang sudah kamu lakukan pada putriku! Masih bisa kamu menanyakan ada apa! dimana nuranimu Tuan Raga!" Pekik Delima sambil berurai air mata.
Amel mencoba menenangkan Delima yang masih emosi "Mbak, istighfar! Ini rumah sakit. Nanti kalau mbak seperti penyakit hipertensinya kumat lagi." Mata Amel beralih ke suaminya "Mas, Angel banyak kehilangan darah sekarang ditangani Dokter. Ini pelajaran buat kamu, mas. Jangan kasar sama anak apalagi anak perempuan."
Raga hanya menjelit tajam kearah Amelia. Dia hanya ingin mendidik Angel, itu saja. Tapi Raga yakin kejadian tadi adalah manipulasi Angel.
"Keluarga Angel Budiman." Panggil Dokter.
"Dok, bagaimana keadaan putri saya?" Tanya Delima.
Dokter tersenyum memandang kearah Delima dan Raga "Anak anda tidak apa-apa. Untung lukanya tidak terlalu dalam. Hanya saja kami menemukan banyak memar ditubuhnya.Apa anak anda mengalami kekerasan fisik?"
Delima hanya menjelit kearah Raga, lelaki hanya menunduk lemah seakan ada rasa sesal dalam dirinya. Delima kemudian menghubungi seseorang.
"Halo Pak Bondan. Saya Delima Budiman mau memproses surat gugatan cerai kepada Raga Budiman." Amelia yang mendengar hal itu mengacungkan jempol pada Delima. Lalu berbisik pada istri tua suaminya "Mbak, saya juga titip gugatan pada Mas Raga."
Raga kaget karena kedua istrinya kerjasama menggugat dirinya.
__ADS_1
"Kalau kalian minta cerai nggak papa." Ucapnya mencoba tenang, padahal dalam hatinya gelisah.
"Masih ada Asih dan Sumi yang setia kepadaku. Aku pun bisa mencari istri baru lagi .. Hahahahaha"
Beberapa jam kemudian
"Ma.." Terdengar suara lirih diranjang kamar rawat.
Delima dan Amel mendekati arah suara lalu memeluk tubuh putrinya. Derai airmata menggaung diruang rawat tersebut, ucapan syukur terus terucap dibibir wanita 40 tahun itu.
Delima meraba tubuh putri keduanya dari atas sampai ke bawah. Memastikan apakah masih ada yang sakit di tubuh Angel. Angel mencoba bangkit membalas pelukan mamanya.
"Kamu tenang, nak. Mulai sekarang kita akan hidup bahagia tanpa gangguan papamu lagi. Mama sudah menggugat cerai papamu. Setelah bercerai kita akan menyusul kakakmu disurabaya."
Mama dan papa akan cerai? Ah, tidak! Aku tidak mau hidup miskin! Aku akan tetap bersama papa dan menyingkirkan para dayang dirumah papa.
"Ma, bisakah aku ketemu papa?"
"Papamu masih diluar, Amel bisa panggilkan mas Raga?" Amel mengangguk. Tak lama Raga dan Amel masuk keruangan Angel.
"Bisakah tinggalkan kami berdua?" Pinta Angel pada Delima dan Amelia.
"Pa, Angel minta maaf kalau sudah bikin papa malu. Tapi Angel lakukan ini demi membantu papa. Angel tahu perusahaan papa sedang ada masalah. Maka itu Angel mendekati anaknya Spencer. Papa tahu tidak, kalau mereka sedang mencari penerima donor jantung menantunya Spencer. Angel rela mengaku supaya mereka mau menerimaku, kalau Angel menikah dengan anaknya Spencer, maka perusahaan papa akan bergabung dengan mereka."
Raga terdiam meresapi ucapan putrinya. Tak lama keduanya tersenyum licik.
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpakalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
Bersambung
__ADS_1