Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
76. Kisah di langit senja 2


__ADS_3

Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku


Meski kau tak cinta kepadaku


Beri sedikit waktu


Biar cinta datang kar'na telah terbiasa


Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku


Meski kau tak cinta, kau tak cinta


Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku


Meski kau tak cinta kepadaku


"Na, kamu mau nggak aku perjuangin?" Ucapan Reza yang mengejutkan hanya dibalas senyuman oleh Ina.


Ina tahu Reza lelaki yang baik. Sayangnya saat ini belum terpikir untuk membuka hubungan dengan lelaki manapun. Ina trauma dengan pernah terjadi antara Dodo dan Rangga.


"Na?"


Reza mengejar Ina sampai depan ruang kerjanya. Pada akhirnya tangannya bisa menangkap Ina. Tapi pelan-pelan Ina melepaskan eratan dipinggangnya.


"Kakak adalah orang baik, bahkan sangat baik. Akan sangat beruntung wanita yang mendapatkan kakak. Tapi maaf kak, aku tidak bisa menerima kakak."


"Apa kurangku, Na?"


"Tidak ada. Tapi hati tidak bisa dipaksa kak. Sementara ini aku tidak ingin berurusan dengan yang namanya cinta."


"Na, Beri aku kesempatan. Aku akan buat kamu melupakan Rangga."


"Maaf, maafkan aku, kak."


Ina meninggalkan Reza yang masih mematung. Reza memandang punggung Ina dari kejauhan. Tersungging senyum dibalik bibir lelaki itu.


"Na, aku akan buat kamu benar jatuh cinta. Kamu akan bertekuk lutut padaku, Na. Jangan sebut aku Reza kalau tidak bisa menaklukan wanita."


Waktu terus berputar, aktivitas perusahaan pun mulai terhenti. Beberapa staf OB pun banyak yang sudah pulang. Kerincingan kunci loker beradu dengan suara-suara lembut. Ada yang ngerumpi sambil membereskan barang bawaan, ada yang menelepon meminta jemputan. Ada yang duduk sambil bermain gawai.


"Na, Intan, aku duluan, ya" Sahut Nofi


"Iya mbak, hati-hati"


"Nofi itu senior disini dari pak Ronal masih dekat dengan si Keisya dia udah kerja disini." Intan mulai menggosip.


"Keisya itu siapa?" Tanya Ina penasaran.


"Calonnya pak Ronal. Orangnya sombong banget, sampai heran kok mau pak Ronal sama tuh cewek."


"Ya, namanya juga cinta."

__ADS_1


"Hahahaha .... semua disini tahu kalau pak Ronal cuma cinta sama perempuan yang istrinya itu."


"Masa?"


"Eh, Na. Cincin kamu cakep, beli dimana?"


"Punya ponakanku. Tapi dia udah meninggal dunia setelah melahirkan anaknya."


"Serem."


"Kok serem? Syahid lo. Tempatnya surga."


"Aku kebayang kalau dia gentayangan minta cincinnya dikembalikan."


Ina tertawa mendengar penuturan Intan. Menurutnya selama dia tidak mengganggu si arwah, Ina yakin Gita nggak akan macam-macam.


Gadis berkulit kuning langsat itu buru-buru pamit pada temannya. Ina beralasan grab nya sudah sampai. Padahal Alam sudah beberapa kali menghubungi dirinya untuk pergi ke dokter.


Ina menatap kaca lift untuk memakai bedak dan lipstik. Sontak dirinya berpikir, buat apa pake dandan segala. Ina menghapus lipstik dibibirnya.


"Ngapain juga pake lipstik segala? ingat Ina, kamu mau ke dokter bukan ke mall. Entar si bapak resek ge-er lagi lihat aku dandan."


Sampai diparkiran, Ina berjalan mencari mobil Alam. Untungnya lelaki itu memberi sinyal klakson. Tubuh mungilnya langsung menempati kursi belakang.


"Di depan saja duduknya."


"Lama amat, sih?" Omel Alam yang sudah berkata menunggu Ina.


"Kamu dandan? Ya ampun Ina! kita mau ke dokter. Bukan mau tebar pesona. Hapus tuh make up!"


"Ya, siapa tahu kalau dokter ganteng bisa dibawa pulang."


"Oma Karina, anda itu masih kecil. Nggak usah mikir cowok dulu. Sekolah yang bener dulu. Biar bikin bangga mama Yulia." Alam mengacak rambut Ina.


Ina mengerucutkan bibirnya, dia tidak suka di panggil Oma. Alam tertawa melihat muka Ina yang cemberut lalu kembali fokus dengan setirannya.


Mobil melaju ke rumah sakit Kasih Bunda, sepanjang perjalanan mereka hanya saling diam. Tak ada obrolan hangat seperti tadi. Alam menghidupkan lagu di radio mobil. Beberapa lagu berganti-ganti, sampai satu lagu Ina meminta tidak diganti.


"Kamu suka Sheila on Seven?" Tanya Alam.


"Suka banget, Lam. Bahkan dulu pas So7 konser reuni aku datang pake tiket ekslusif."


"Wah mantap tuh. Gita juga suka sama So7 bahkan dia pernah bilang mau ngasih nama Duta untuk anak pertama kami. Terus berubah pikiran mau ngasih nama Chicco pas abis nonton filmnya Chicco Jericho."


"Anak pertama?"


"Iya, Na. Sebelum ada Shasa, Gita pernah hamil sebelumnya, anak kami laki-laki, kandungannya cuma bertahan 7 bulan."


"Innalillahi wa innalillahi rojiun." Ina mengurut dada mendengar cerita Alam.


"Jadi pernikahan kalian berapa lama, Lam?"

__ADS_1


"Dua tahun, na." Jawab Alam menahan rasa sesak mengingat perjalanan cinta mereka.


"Maaf, ya. Kalau aku membuka kenangan kalian." Ina merasa tidak enak. Lalu mengelus pundak Alam sebagai tanda menguatkan lelaki itu.


"Nggak papa, Na."


Mereka akhirnya sampai di rumah sakit Kasih Bunda. Alam menarik tangan Ina saat memasuki rumah sakit. Mata Ina terfokus saat Alam menarik tangannya. Debaran jantung terasa kencang bagi Ina.


Ah, tidak Ina. Jangan seperti ini. Dia itu menantumu, nggak etis kalau kamu bersikap seperti ini.


"Jadi ini cincin kak Alam?" Ucap Ilham ketika Alam menceritakan permasalahan mereka. Sejenak Ilham tertawa mendengar keluhan keduanya.


"Nggak lucu, ham." Alam kesal lihat sikap Ilham.


"Hahahahaha ... ini namanya Jodoh, kak. Jodoh!" ucap Ilham masih terbahak-bahak.


"Apaan sih kamu, ham? Jodoh apanya? Kamu tahu kan dia ini siapa? nggak mungkinlah!"


"Iya aku tahu maksud omongan kak Alam. Tapi mertua kak Alam kan tante Yulia bukan Tante Ina."


"Jadi kak Ilham mau bantu apa tidak, nih?"


"Oke .. aku antar couple ini ke dokter kulit!"


"Ilham!" Mereka melototi ilham secara bersamaan.


Langit senja mulai berganti peran menjadi gelap. Ina memandang perguliran waktu di koridor rumah sakit. Seharian ini banyak kisah yang dia alami. Dari pertemuannya dengan Rangga, perkelahian antara Rangga dan Reza. Hingga ungkapan cinta dari Reza yang sudah dianggapnya seperti kakak sendiri.


*


*


*


*


Sementara ini kita kasih part ringan dulu,ya. Yang tegangnya sedang othor siapin. Soalnya Othornya sudah tegang duluan.


Apalagi pas lihat statistik pembaca mulai menurun.


Tetap terus pantengin cerita ini.


Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpakalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya


Jangan lupa komennya juga rate


Kalau berkenan bantu vote dan hadiah


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2