Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
108. Sidang keluarga


__ADS_3

Alam merapikan bajunya yang sedikit kusut. Lama Alam merenungkan diri didalam mobil. Mengingat kejadian tadi yang membuat remuk hatinya. Bagaimana bisa dia tak marah saat mendengar kekasihnya akan dijodohkan dengan lelaki lain. Siapapun tidak akan suka melihat wanitanya tertawa lepas dengan lelaki lain.


Air matanya menetes saat mengingat kejadian tadi. Tapi dia tetap bertekad memperjuangkan wanita yang dia cintai. Alam menghapus air matanya lalu menancapkan setir mobilnya. Sebelumnya dia sempat merenungkan semua yang telah terjadi.


Tanpa disadarinya, Gita datang dan duduk disampingnya. Gita menatap pilu suaminya, dia ingin membantu tapi tak punya daya lagi.


"Yang, asal kamu tahu. Ina lah gadis pemilik jantungku. Lupakan aku dan bahagialah bersamanya. Aku akan selalu bersamamu melalui jantungku." Tapi percuma Alam bahkan tidak bisa mendengar apapun ucapan Gita.


Alam memulai mobil untuk kembali ke kediaman mertuanya.


"Maafkan aku Ina, aku tidak akan menyerah atas hubungan kita. Karena aku yakin kamu pun tak benar-benar ingin putus denganku."


Setelah ucapan Alam tadi yang membuat Ina merasa tersudut. Yulia dan sanak familinya seakan mengepung Ina habis-habisan. Sejak Alam hengkang tadi, Ina hanya bisa menunduk.


Tak lama Alam kembali datang ke rumah keluarga Gunawan. Melihat kekasihnya seperti akan disidang, lelaki itu duduk disamping Ina. Menggenggam erat tangan gadis itu, seketika mereka saling menoleh. Tak lama Ina menghempas kasar genggaman tangan Alam.


Pernyataan Alam tentang hubungan mereka kini menjadi guncangan bagi keluarga besar Gunawan. Menurut Grace, Antara Ina dan Alam itu terlarang.


"Aku tidak habis pikir sama kalian berdua. Emang tidak ada orang lain, kalian itu keluarga! Kamu adalah menantu dikeluarga ini, Alam. Dan Kamu Karina, seharusnya kamu tahu, Shasa itu cucumu, Gita keponakanmu, dan Alam itu menantumu. Bagaimana bisa kamu menjalin hubungan dengan lelaki yang masih mahram." Cerca Grace.


Ina hanya menunduk. Dia sudah menduga akan ada kejadian ini. Sejenak dia memandang Alam dengan penuh kekecewaan. Baginya jika Alam mau bersabar mungkin tidak akan terjadi yang seperti ini.


"Maafkan saya. Ini semua kesalahan saya. Saya sangat mencintai Ina, saya serius dengan Ina. Saya cuma minta kalian merestui hubungan kami, itu saja." tutur Alam.


"Tidak ada restu buat kalian." Hardik Yulia. "Saya tidak akan membiarkan apa yang dialami Gita juga menimpa oleh adik saya. Tidak akan saya biarkan ibu kamu kembali menindas seperti yang dia lakukan ke Gita. Tidak akan!" Hardik Yulia.


"Ma, Ibuku sudah insyaf. Dia sudah menyadari kesalahannya. Tolong maafkan, ibu."


"Ina kamu kembali ke kamar" Titah Yulia. Ina beranjak dari kerumunan keluarga. Tak sedikitpun tatapannya mengarah ke Alam.

__ADS_1


Alam memandang Ina yang berjalan menuju ke kamarnya. Ada rasa sesak didadanya. Dia ingin memperjuangkan cintanya, tapi kenapa seakan Ina tak mau diperjuangkan.


Na, kenapa malah jadi seperti ini? Kenapa kamu seakan tidak mau memperjuangkan cinta kita? Apa aku yang harus berjuang sendiri. Salahkah aku yang ingin mempertahankan kamu?


Kenapa aku merasa sakit sekali untuk mencintai kamu? ini jauh lebih sakit dari saat aku tahu Gita lebih memilih Ilham daripada menungguku.


"Lam"


"Iya, ma."


"Mama benar-benar kecewa sama kamu. Begitu mudahnya kamu menggeser posisi Gita dengan perempuan lain. Kamu tidak lupa 'kan Ina itu siapa? Dia adik mama, jatuhnya mertua kamu juga. Kamu harusnya tahu batasan itu. Kamu mau Shasa dicemooh orang diluar, hanya karena ayahnya menikahi omanya?"


Alam hanya terdiam. Dia tidak ingin berdebat panjang dengan mama mertuanya.


"Itu namanya cinta, ma. Cinta tak pernah memandang siapapun, dimanapun dan itu terjadi secara alami. Itu yang aku rasa kan pada Ina, ma. Maaf kalau terkesan berani, tapi aku sungguh-sungguh mencintai Ina."


"Lam"


"Iya, ma."


"Ma, maaf kali ini aku akan tetap pada pendirianku. Aku akan tetap memperjuangkan Ina dan juga Shasa. Aku pamit, ma." Alam menyalami Yulia walaupun dia tahu wanita itu tidak meresponnya.


klik


Alam sampai dirumah langsung merebahkan diri. Empuknya ranjang seakan menuntutnya untuk beristirahat. Setelah kejadian tadi membebani pikirannya. Marni mendekati putranya yang baru saja sampai.


"Bu, aku mau istirahat."


"Tadi Ilham kesini nyari kamu, Lam." Jelas Marni.

__ADS_1


"Ilham? Ada apa dia nyari aku?" Tanya Alam heran. Tidak biasanya adik biologisnya mencari dirinya.


Marni hanya menaikkan bahunya "Dia cuma menitipkan ini." Sebuah amplop putih diserahkan pada Alam.


"Ini amplop apa?" Alam masih bingung. "Ibu juga tidak tahu, Lam. Kamu baca saja."


"Nanti sajalah,bu. Aku capek sekali" Elak Alam memilih menarik selimut.


"Lam, tadi Shasa mimisan.Untung ada Ilham tadi" Alam langsung kaget.


"Terus Ilham bilang apa? Kenapa ibu tidak kabari aku?"


"Ibu sudah beberapa kali menghubungi kamu. Tapi tidak kamu angkat. Dia bilang kamu disuruh bawa Shasa besok ke rumah sakit." Jawab Marni.


Malam semakin Larut, Alam yang tadinya hendak istirahat menjadi urung memikirkan kondisi putrinya. Alam takut mimisan Shasa mirip dengan yang dialami Gita. Tapi dia menepis hal itu, apalagi Shasa sudah mengenal dunia luar. Dia yakin itu hanya mimisan biasa.


Alam melirik jam yang sudah menunjukkan jam 12 malam. Dia menuntun tubuhnya menuju kamar mandi untuk sholat malam. Apalagi tadi dia belum sholat isya.


Robbi hablii milladunka zaujan thoyyiban wayakuuna shoohiban lii fiddini waddunya wal aakhiroh.”


Artinya: Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku istri yang terbaik dari sisi-Mu, Istri yang juga menjadi sahabatku dalam urusan agama, urusan dunia, dan akhirat.


Jika memang Ina engkau takdirkan untukku, maka hubungkanlah kami melalui kuasa-mu. Tapi jika tidak buatlah hati kami semakin jauh.


Selesai Sholat Alam merasa tubuhnya sangat lelah.


Sabtu pagi adalah hari yang cerah untuk menenangkan diri. Setelah rutinitas pekerjaan yang menuntutnya. Serta permasalahan yang menghimpitnya.


Dipandanginya sang putri semata wayang yang masih terlelap.

__ADS_1


Alam mencoba menghubungi Ina. Tapi sayangnya Ina tidak bisa di hubungi. Tangannya meraih surat titipan Ilham, Amplop itu langsung dirobeknya. Dengan teliti Alam membaca isi surat tersebut. Tatapannya menyiratkan rasa terkejut yang amat dalam.


__ADS_2