
Kak Dul mengumpulkan kami di ruang tengah. Kedatangan Pak Helmi sebagai pengacara keluarga tentu masih membuatku bingung. Apa gerangan yang membuat dia ingin mengumpulkan kami. Beberapa hari kedepan aku akan berangkat ke Jepang. Kak Yulia akan menemaniku disana sampai aku selesai ujian.
Entah kenapa aku masih merasa berat meninggalkan indonesia. Mungkin karena ada Alam yang sekarang bernaung dihatiku.
Mungkin kalian merasa aneh dengan hubungan kami. Tapi itulah cinta. Aku juga tidak menyangka akan jatuh cinta pada lelaki nyebelin seperti dia. Dia ternyata tidak sejelek yang aku kira. Walaupun selama kami pacaran banyak kelakuan absurd yang dia buat. Selama dia tidak pernah mengungkit soal Gita bagiku sudah cukup membuktikan cintanya.
Kembali ke soal kedatangan pengacara. Kami dikumpul di ruang tengah oleh kak Dul untuk mengurus wasiat. Wasiat? aku lihat kak Dul dan kak Yulia sehat-sehat saja, kenapa mereka membuat wasiat? entahlah aku tidak paham pemikiran orang kaya. Lebih baik aku ikuti saja acara ini.
Tidak hanya itu, kak Grace, Gery dan keluarga besar Gunawan yang lain juga berkumpul. Satu pun dari mereka tak ada yang mau mengenalku. Ah, mungkin karena aku anak istri kedua kali ya. Aku mencoba cuek walaupun rasanya tidak enak seperti dimusuhi.
"Saya mengumpulkan kalian kesini untuk memberitahukan bahwa wasiat ini asli dari pak Gunawan dan Nona Gita Mandasari."
Aku menaikan alis. Gita? bukankah kata kak Lia Gita pernah mengumumkan wasiatnya setelah satu bulan dia meninggal. Kenapa diumumkan lagi ya? Ruwet ah.
"Saya Helmi Wardana akan mengatakan yang sebenarnya, bahkan surat wasiat yang pernah saya umumkan bukan asli dari Nona Gita Mandasari. Tapi ubahan dari Ibu Gisella Yuliana. Maaf, bu Yulia saya terpaksa melakukan ini karena saya sedang sakit, dan saya tidak mau membawa masalah ini sampai mati."
"Helmi!" Pekik Yulia tidak terima dengan pernyataan ini.
"Sebelum saya mengumumkan hal ini. Saya minta pihak keluarga menghubungi pihak suami Nona Gita, karena dia juga berhak tahu akan hal ini."
Ya Allah drama keluarga seperti bikin aku malas disini. Lagian bukan urusanku juga. Lebih baik aku ke kamar saja.
"Mau kemana Ina?" Tanya kak Dul
"Kekamar, kak." Jawabku.
"Kamu tetap disini." Dan aku terpaksa kembali berbaur dengan mereka.
"Oke sambil menunggu Alam datang. sebaiknya bacakan yang punya papa saja dulu." Titah Dul.
"Baik, pak Dul." Pak Helmi mulai membacakan surat wasiat.
"Saya Gunawan Artomoro, akan memberikan sebagian wasiat untuk kedua putri saya. Lia dan Karina.
__ADS_1
Buat Karina, maaf nak papa tidak pernah mendatangimu. Tapi papa selalu memantaumu melalui Narsih, semua fasilitas yang kamu dapatkan papa yang memberikannya. Papa tahu perlakuan Kania padamu, papa cuma berharap jika usiamu cukup kamu yang akan mengelola perusahaan.
Rumah yang kamu tempati bersama mamamu sudah dibalik menjadi namamu, nak. Termasuk biaya kuliahmu diluar negeri."
"Tuh, liat Ina. Papa tuh sebenarnya sayang sama kamu. Jadi jangan lagi anggap papa tidak sayang." Bisik Yulia.
Aku tidak tahu harus berkata apa. Kulihat kak Grace dan keluarganya masih menatap sinis padaku. Apakah hidupku seperti ini? Dimusuhi orang-orang terdekat.
"Assalamualaikum." Aku mendengar suara Alam masuk ke ruang tengah. Dia tidak sendiri, bahkan dia pun membawa kedua orangtuanya dan ... Alena. Kenapa dia harus mengajak Alena segala? huh menyebalkan. Apakah aku cemburu pada Alena yang selalu menempel pada Alam terus menerus? Apakah wajar seorang sekretaris mengikuti bos nya sampai ke urusan pribadi.
Ting ...
💌 Alam
Ngeliatnya nggak usah segitunya kali
💌 Ina
Enak ya, ada yang selalu mengekor setiap saat.
💌 Alam
"Oke karena saudara Alam sudah datang. Saya akan membacakan wasiat dari Nona Gita."
Assalamualaikum
Saya Gita mandasari menulis ini secara sadar tanpa paksaan siapapun.
Saya Gita Mandasari akan memberikan hak asuh anak saya, Jika suami saya menikahi gadis penerima jantung saya. Jadi selama belum menemukan gadis itu, hak asuh anak saya dipegang orangtua saya.
Aku mendengar hal itu seperti petir disiang bolong. Apakah ini pertanda aku harus melepas Alam? Jika penerima jantung Gita benar-benar ditemukan. Itu berarti aku dan Alam selesai sampai disini.
"Kak aku balik kekamar" Pamitku yang sudah tidak semangat lagi duduk disana.
__ADS_1
Tak ada yang menjawab itu berarti tidak ada yang memperdulikan keberadaanku. Membuat aku mantap menenangkan diri di kamar.
"Saya tidak akan menikahi gadis itu. Tidak gampang menerima seseorang yang tidak aku kenal sekalipun. Tidak ada yang bisa menggantikan Gita sampai saat ini. Jadi maaf untuk permintaan ini saya menolak.
Saya juga tidak berharap lagi soal penerima jantung Gita. Biarlah itu jadi ladang amal untuk Gita."
Kenapa rasanya sakit sekali mendengar dia bicara seperti itu? Tidak ada yang bisa menggantikan Gita, itu artinya aku belum ada dihatinya.
Ya Allah aku semakin mantap melanjutkan rencanaku untuk ke Jepang.
POV author
"Yakin kamu tidak mau tahu siapa pemilik jantung Gita?" Tanya Yulia sambil menjelit kearah Ina.
"Yakin, Ma." Jawab Alam mantap.
"Baguslah kalau begitu. Dengan begitu Shasa tidak akan merasakan kejamnya ibu tiri. Sekali lagi mama tanya sama kamu, Lam. Apakah kamu tidak penasaran dengan penerima jantung Gita?" Yulia masih mencoba meyakinkan.
Alam tetap menggeleng. Alam merasa saat ini dia harus menjaga perasaan Ina. Tapi Alam tidak menyadari bahwa ucapannya barusan membuat Ina kecewa.
Kamu lihat Ina, lelaki yang kamu cintai tidak pernah menganggap perasaanmu. Kalian kira kakak tidak tahu hubungan kalian dibelakangku. Semoga kamu membuka mata kalau Alam tidak pernah menganggapmu.
"Na" Yulia masuk ke kamar adiknya untuk memastikan apakah Ina patah hati atau tidak.
"Kak, kapan kita berangkat?" Tanya Ina sambil membereskan barang untuk dibawa ke Jepang.
"Hari sabtu." Jawab Yulia.
Ina memasukkan bajunya di koper. Hanya sedikit yang dibawanya. Yulia mengambil baju Gita untuk bekal pakaian Ina. Tapi dikeluarkan lagi oleh Ina.
"Maaf, kak mulai sekarang aku tidak mau dianggap seperti Gita. Aku ingin menjadi diri sendiri."
"Tidak ada yang menganggapmu seperti Gita, Ina."
__ADS_1
"Tapi selama aku dekat kalian, aku selalu diperlakukan seperti Gita. Baik kakak, Alam ataupun keluarga Spencer. Kalian seolah menjadikan aku pelampiasan. Aku capek kak." Yulia memeluk adiknya tersirat senyuman penuh makna.
Kamu lupa Ina, jantung yang kamu pakai adalah milik Gita. Batin Yulia.