Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
133. Dilema


__ADS_3

Bila, cinta ini tak nyata


Jangan, engkau beri harapan


Sudah, cukup kini kusadari


Terlalu cepat jatuhkan hati


Kini ku mengerti


Kau lebih memilih dia


Cinta, ini takkan berbalas


Sayang, kupastikan melayang


Pedih, ku saat merasa indah


Semua hilang dan usai


(Merasa indah, Tiara andini)


Sepanjang perjalanan pulang dari bandara Ina hanya diam. Gilang paham kalau pertemuan dengan Alam tadi membuat gadis bungkam. Namun, dia yakin beberapa hari yang akan datang, Ina sudah melupakan soal Alam.


"Na.." Gilang memulai percakapan.


Hening. Masih tidak ada respon. Tatapannya masih memandang kaca.


"Jadikan fitting gaun?" Gilang masih memancing respon Ina.


"Jadi. Bukankah kita memang akan kesana? Apa kak Gilang ada kesibukan lain? Turunkan aku di butik dan kak Gilang bisa lanjutkan schedule lain." Jawab Ina datar.


"Ya, udah kalau gitu. Aku antarkan kamu ke butik terus nanti kabari kalau sudah selesai. Soalnya aku antar tante Grace ke rumah Oma Lia." Jawab Gilang.


Masih hening. Tampak Grace hanya tersenyum penuh makna.


Ina akhirnya turun ke butik. Sendirian memasuki butik untuk mencari gaun pesta. Entah kenapa dia tidak begitu semangat melihat beberapa gaun disana. Beberapa pegawai yang sudah di kabari oleh atasannya untuk melayani Ina. Butik tersebut adalah milik mbak Nia mama tirinya, Rere.


"Gita!" sapa Mbak Nia.


Ina hanya tersenyum kecil saat ada yang mengira dirinya Gita.


"Saya Karina, Mbak." Jawab Ina.


"Astaga aku kira kamu beneran Gita!" Kaget Mbak Nia.


"Jadi kamu yang dikirim bu Yulia untuk fitting gaun?"


Ina hanya mengangguk.


"Oke, aku dengar kamu mau jadi pendamping pengantin gitu, ya."

__ADS_1


Nia mengarahkan anak buahnya untuk mencari gaun untuk Ina. Banyak yang disodorkan membuat gadis itu bingung memilih.


"Kamu pilih dulu, Ya. Saya angkat telepon anak saya dulu." Nia meninggalkan Ina bersama para pegawainya.


"Iya, kenapa, Re?"


"Tante dirumah apa di butik?"


"Aku dibutik. Itu ada yang mau fitting gaun buat jadi pendamping penganten. Kalau mau ketemu ke butik saja." Jawab Nia.


"Oke kami lagi dijalan. Oh Ya bentar lagi kakak iparku sampai lebih dulu. Soalnya dia dari bandara langsung ke butik. Jadi tolong layani dia dulu, ya?"


"Oke, re. By the way ini fittingnya dalam tema apa nih? Jadi kan tante bisa menyesuai pakaiannya."


"Ultah Reki yang ke tiga, Tante."


"Astaga aku lupa kalau cucu gantengku bakalan ulang tahun. Oke oke kayaknya kakak iparmu sudah sampai, re."


Sebuah mobil berhenti didepan pintu butik Nia. Tampak seorang lelaki hanya memakai kaos snicker turun dari mobil. Diikuti seorang wanita berhijab berseragam layaknya pengasuh.


"War, kamu ikut aku kedalam." Sapa lelaki itu pada lelaki yang disinyalir supirnya.


"Nggak, ah. Aku disini saja, Lam. Itu kan acara keluarga kalian." Jawab Edwar menolak ikut kedalam.


"Kamu juga keluargaku, War. Kita pilih baju untuk Dinda dan ketiga anakmu." Edwar tidak bisa menolak saat Alam menariknya ikut kedalam.


"Selamat siang, apakah anda pak Ronal kakak iparnya, Rere. Saya Nia mama tirinya, Rere." Mbak Nia memperkenalkan diri.


"Na, kamu masih di butik?" Telepon dari Gilang.


"Masih, kak. Kak Gilang dimana?"


"Aku dijalan menuju ke butik."


"Nggak usah susul ke butik. Aku mau nginap sama Laras, temanku yang mau nikah itu. Jadi nanti aku akan dijemput sama kak Rangga." Jawab Ina menolak jemputan Gilang.


"Benar? Kok Oma Lia nggak ngomong tadi. Kamu jangan bohong, Na."


Ina mematikan teleponnya. Memang dia ada rencana menginap bareng Larasena lusa sahabatnya akan menikah. Tapi yang diucapkan pada alasan semata, dia ingin menenangkan diri dulu.


"Na, kata Gilang kamu mau ke tempat Laras." Telepon Yulia.


"Iya,Kak."


"Kan nikahnya lusa. Kamu pulang dululah. Ini ada keluarga besar datang mau ngomongin soal..."


" Kak please, aku nggak mau dijodohkan dengan kak Gilang. Apakah hidup hanya sebatas jodoh? Aku pulang demi Laras bukan demi menuruti keinginan kakak!" Ina mematikan teleponnya sekaligus mematikan daya ponselnya.


"Aku capek seperti ini terus, Ya Allah. Kapankah kedamaian akan kudapatkan? Kapan hidupku bisa tenang tanpa aturan yang membelit ini?"


Mata Ina memandang cincin. Cincin yang belum sempat dia kembalikan pada pemiliknya.

__ADS_1


"Semua sudah berakhir. Tapi kenapa rasanya masih ada yang belum selesai. Ah, ingat Ina. Kamu hanya perlu mengikhlaskan semuanya. Ikhlas, Na. Tinggal melepaskan cincin ini dan semua akan selesai." Ina duduk disalah kursi depan toilet.


"Jika memang kamu sudah mengikhlas semuanya. Kenapa belum kamu lepaskan cincin itu." Sebuah suara menyahut ucapan Ina.


"Kamu!" Ina terkejut melihat siapa berdiri didepannya.


Alam hanya tersenyum melihat keterkejutan Ina. Lelaki itu tak sedikitpun beranjak dari hadapan wanita yang masih dicintainya. Walaupun masih ada rasa sakit yang gadis itu torehkan padanya.


"Kamu ngikutin aku, kan. Please jangan ganggu hidupku lagi. Kita sudah berakhir, Lam. Sudah selesai!" Berontak Ina saat Alam masih menghadangnya. Kata-kata Ina menohok dirinya, lelaki itu mengundurkan tubuhnya menjauh dari gadis itu.


Selesai!Ah, iya kami sudah selesai. Bukan aku yang menyudahinya tapi dia yang menyudahi semua ini. batin Alam.


"Kamu sadar nggak kalau kita seperti berjodoh. Beberapa kali kamu jauhi aku, tapi pada akhirnya kita dipertemukan kembali."


"Cuma kebetulan" jawab Ina.


"Kebetulan? Tapi kok sering, ya?


Na, Kamu adalah doa yang aku tunggu selama ini. entah jalan apa yang harus aku lakukan untuk bersama kamu. namun selalu ada hambatan. Selalu ada rintangan yang menghadang jalan kita. Apakah sebenarnya kamu adalah jodohku atau bukan? tapi mengapa untuk sekarang kita tidak bisa bersama?Apakah suatu hari bersama?"


"Lam, please. Ikhlaskan aku. Kita tidak akan pernah bisa bersatu. Nggak akan bisa! banyak terjal yang akan menghadang dan status aku sama kamu juga menjadi hal utamanya. Jadi tolong, lam." Ina keluar meninggalkan Alam.


Langkah Ina terhenti melihat sosok berdiri tersenyum padanya. Tangan lelaki itu menarik Ina lalu membawa masuk ke mobil.


"Kita pulang yuk, Na. Keluarga dirumah sudah berkumpul menunggu kita." Ina hanya pasrah ketika lelaki itu menghidupkan mobil.


"Kak katanya mau pulang?" Ina melihat arah tujuan bukan kerumah.


"Kak Gilang mau bawa aku kemana?"


"Ke rumah sakit!"


"Untuk apa? aku nggak sakit, kak."


"Melepas cincin yang ada dijemarimu. Bukankah kamu kemarin bilang tidak bisa melepasnya. Cincin ini akan menjadi hambatan kita." Jawab Gilang.


Ya Allah tolong, aku.


Selamatkan aku dari perjodohan ini!


Tetap terus pantengin cerita ini.


Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya


Jangan lupa komennya juga rate


Kalau berkenan bantu vote dan hadiah


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2