
POV DUL
Pagi ini aku terbangun. Tanganku meraih benda pipih yang berada di nakas samping ranjang. Ternyata jam 04.25 pantas saja aku mendengar suara mesjid sudah mengaji. Walaupun usiaku sudah 51 tahun tapi tubuhku masih kuat melakukan pekerjaan berat. Termasuk menggendong tubuh Yulia yang berisi.
Usiaku dengan Yulia berjarak lima tahun. Yulia lebih tua diatasku. Saat masih kuliah, ketika aku mencoba mendekati Lia, dia sudah semester lima sedangkan aku baru mahasiswa baru. Mungkin wajar kalau dia dulu menolakku mentah-mentah, dimana seorang mahasiswa baru tiba-tiba menyatakan cinta dengan kakak kelas. Tapi namanya Jodoh pasti bertemu lagi. Kami kembali dipersatukan dengan pernikahan dadakan.
Rumah papa hanya berjarak lima langkah dari mesjid. Beda dengan rumah kami yang dulu, tak ada mesjid disana. Tapi aku selalu menanamkan pada Gita agar tak pernah lupa sholat. Gita lebih nurut ketika aku membangunkannya, mengingatkannya untuk salat subuh.
Kalau Lia yang membangunkannya, selalu ada seriosa nada tinggi, ya mungkinlah emak-emak selalu begitu. Aku terlahir tanpa ibu, jadi yang ku tahu orangtuaku ya Apak. Amak katanya asli minang, bertemu dengan Apak saat kerja di Jambi. Amak memang yatim piatu, katanya. Masih ada sanak familinya yang mau menampungnya. Itu yang aku dengar dari Apak. Apak meninggal saat aku baru tamat SMA, dengan modal nekat aku daftar kuliah di Universitas Indonesia.
Kembali ke masa sekarang, tampak Lia masih terlelap dengan indah. Helaan nafas panjang kehempaskan dengan pelan.
"Lia sebaik atau seburuk dirimu. Aku tetap mencintaimu. Kita tetap akan bersama hingga maut memisahkan. Melihat Shasa tumbuh besar, melihat Ina menemukan kebahagiaannya."
Kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi. Namun sebelumnya kubangunkan Lia, agar bisa mengajaknya salat bersama.
"Sayang, yuk bangun. Kita subuh. Mama sudah lama nggak ke mesjid sejak sibuk sama Shasa. Mama, bangun dong."
Beberapa lama kemudian matanya terbuka dengan pelan. Senyumnya mengembang sembari membangkitkan tubuhnya dari ranjang.
"Pa, tolong bangunkan Ina." Jawabnya seketika.
Aku terhenyak, dia masih ingat sama Ina. Aku harap ini bisa jadi titik harapan. Harapanku satu, ini sebagai titik awal mendamaikan perseturuan yang pernah terjadi.
"Papa tahu kan Ina sama Gita sifatnya mirip paling susah dibangunin pagi. Bentar, pa! Mama mau ke kamar Ina supaya bangun subuh." Lia bangkit hendak ke kamar Ina. Tapi ku tahan, aku takut dia kembali terluka kalau menemukan tak ada adiknya.
"Tidak usah, ma. Ina seperti sangat lelah. Biarkan saja. Kita ke mesjid nanti terlambat."
Lia menghela nafas berat. Dengan lemaskan tubuhnya, dia masuk kamar mandi untuk mengambil wudhu. Biarlah aku wudhu di mesjid saja. Beberapa saat kemudian Lia sudah menggunakan mukena. Kutuntun tangannya, dia sempat mengelak katanya sudah berwudhu.
"Nanti mama Wudhu lagi di masjid." Jawabku.
Kami keluar dari kamar. Tampak Bi Suti sudah bangun melakukan aktivitasnya.
"Bi, salat subuh dulu baru kerja yang lain." Tegurku.
"Iya, Tuan." Jawabnya.
"Bi, kalau Ina belum bangun gedor aja kamarnya." Sahut Lia.
__ADS_1
Kulihat ekspresi bibi berbeda. Mungkin dia sedikit kaget dengan ucapan Lia. Ku kedip kan mataku memberi kode ke Bi Suti. Untungnya dia paham.
"Iya, Bu." Jawab Suti.
"Yuk, ma." Ajakku.
Kami melenggang keluar rumah. Suasana luar masih gelap. Sesaat Lia menggenggam kuat lenganku, sepertinya dia ketakutan. Tapi tak apa, tua-tua begini kan bisa romantis juga.
Betul nggaak!
"Pa, mama takut."
"Bentar lagi sampai,ma. Itu masjidnya." Ku tunjuk supaya Lia tidak takut lagi.
Kami masuk ke mesjid besar dekat komplek rumah. Masih ku papah Lia yang belum terlalu kuat berjalan.
"Wah, Bapak suami yang keren. Mengantar istrinya sampai dudukan di saf." puji seorang ibu yang duduk disamping Lia.
"Istri saya sedang kurang sehat,bu. Nggak mungkin saya tinggalkan sendiri di rumah."
"Kenapa nggak sholat dirumah saja, pak. Kan, kasihan istrinya kena angin kalau sedang sakit." sahut ibu yang lain.
Orang yang sholat di masjid itu berarti ikut memakmurkan masjid. Hal ini sesuai dengan perintah Allah S.W.T.
Dalam surat at taubah ayat 18, Allah S.W.T. berfirman, yang artinya : Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan sholat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.
Maka apa yang dikatakan memakmurkan masjid adalah mencakup semua amal ibadah dan ketaatan kepada Allah Ta’ala yang diperintahkan atau dianjurkan dalam Islam untuk dilaksanakan di masjid. Oleh karena itu, tentu saja shalat berjamaah lima waktu di masjid bagi laki-laki adalah termasuk bentuk memakmurkan masjid, bahkan inilah bentuk memakmurkan masjid yang paling utama. (Abdullah Taslim, 2016).
"Pak Dul. Ah, sudah lama dak kelihatan. Biasanya anda berdua dengan menantu anda. Kok dia nggak kelihatan." Sapa seorang lelaki berpeci putih.
Dia ustad Dayat, yang biasa memberikan ceramah di masjid. Aku dan Alam sering sharing tentang agama. Karena pengetahuan kami tentang agama masih minim.
"Karena anaknya sekarang tinggal dengan orangtua jadi dia jarang pulang. Kesini, tapi nggak apalah di tempat besan rame, jadi yang jagain cucu kami banyak. Lagian kami cuma berdua di rumah."
"Oh begitu, ya. Ya udah, pak. Kita kesana sebentar lagi mau salat." Ajak ustad Usman.
"Maaf, pak ustad. Apakah saya boleh sholat di belakang. Kan kebetulan saf belakang kosong. Saya mau sholat disini saja. Istri saya sedang kurang sehat.Tapi kalau tidak boleh tidak apa apa. Saya hanya cemas dengan keadaan istri saya."
"Subhanallah...Anda memang suami yang siaga. tidak papa saya izinkan kalau kondisinya darurat."
__ADS_1
Membentangkan sajadah. Tepat kelang dua saf dari tempat Lia duduk. Tadi dia memilih berdiri. Tapi disarankan agar sholat duduk saja. Dia pun menurut. Kami pun melaksanakan sholat fardhu dua rakaat secara berjamaah.
Beberapa saat kemudian setelah sholat subuh. Ustad Usman memberikan sedikit ceramah. Aku tetap memilih duduk di belakang Lia. Tampak kakinya di selonjoran lurus ke depan.
"Pa, kita pulang yuk. pasti Ina nyari kita. Dia pasti belum sarapan."
Aku masih merasa dia sayang sama Ina. Mungkin kejadian waktu itu mengguncang perasaannya. Kata Pak Yanto, Grace terus membahas ganti rugi saat dalam perjalanan pulang.
"Sebentar, ya, ma. Papa ada yang mau dibicarakan dengan ustad Usman."
*
*
*
*
VISUAL MAMA YULIA
VISUAL ABDULLAH (PAPA DUL)
Maaf up sedikit lama sudah beberapa hari ini kondisi kurang sehat. Serumah fisiknya drop semua. Terimakasih masih setia dengan kisah In-Lam dan Langga.
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
Bersambung
__ADS_1