
"Tolong!"
Pagi ini ketika Bi Suti baru saja bangun. Melihat tubuh Alam yang tergeletak tak berdaya di teras belakang rumah.
"Den ... Den ... bangun! Ya Allah den Alam kenapa ya?"
Bi Suti langsung menggedor kamar majikannya. Bukan hanya kamar majikannya saja, Ina pun ikut dibangunkan.
"Ada apa, bi?" Tanya Dul melihat kepanikan Bi Suti.
"Den... Den .. Alam ... Pak!" Bibi masih terbata-bata.
"Kak Dul ... Kak Lia ... Tolong Alam dia pingsan. Wajahnya pucat sekali." Adu Ina.
Semua yang ada dirumah panik. Pak yanto, supir keluarga Gunawan menggotong tubuh Alam keatas sofa ruang tengah. Mereka berupaya membangunkan lelaki itu tapi saat Dul memeriksa menantunya denyutnya lemah.
"Maaaa, telpon Ilham cepat!" Titah Dul.
"Kak langsung bawa ke rumah sakit saja." Usul Ina.
"Apakah masih ada waktu? Denyutnya lemah ini. Ya Allah, Nak. Apa yang membuatmu drop seperti ini." Dul dan Ina akhirnya mengangkut Alam kedalam mobil.
"Aku nggak ikut ya, kak. Soalnya aku mau ngurusin pendaftaran kuliah." Ina keluar dari mobil.
"Iya, Na. Nggak papa. Biar kakak dan pak Yanto yang mengurusi Alam. Kami pergi dulu." Pamit Dul.
Dul dan Yanto pergi membawa Alam ke rumah sakit. Sementara Ina kembali masuk ke dalam rumah. Menemui Yulia untuk meminta maaf soal tadi malam. Namun, sepertinya Yulia menghindari dirinya. Ina tetap mengikuti kakaknya supaya masalah mereka tidak berlarut.
"Kak, aku mau ngomong!" Ina mencegat Yulia yang pura pura sibuk.
"Kan kamu sudah dapat apa yang kamu mau, Na." Sahut Yulia.
"Bukan gitu, kak. Aku memang mau fokus ke pendidikan kak."
"Sudahlah,Na. Kakak paham sekarang kalau kamu nggak menganggap kehadiran kami. Kakak kecewa saat kamu mengungkit soal mamamu dan latar belakang asalmu. Kesannya kamu tidak menghargai kami. Seolah kami membawamu karena kasihan.
Kakak sayang tulus sama kamu. Tapi jujur ucapanmu tadi malam sangat menyakitkan buat kakak.
Kakak tidak pernah melihat latarmu saat membawamu kesini."
"Jadi itu yang membuat kakak marah padaku. Kak, setidaknya kita tahu seperti apa keluarga kak Reza. Kejadian tadi malam bisa membuka mata kita kalau aku dan kak Reza menikah, belum tentu keluarganya bisa menerimaku."
__ADS_1
Yulia masih tidak memperdulikan pembelaan Ina. Perasaannya masih kecewa dengan ucapan Ina tadi malam. Selama ini dia tidak pernah mengungkit latar belakang Kania, walaupun sampat saat ini dia masih kecewa pada istri kedua papanya. Dia juga sakit ketika Diana menghina adiknya. Yulia mengalihkan rasa kesalnya dengan memandikan Shasa.
"Maafkan aku, kak. Jika ada ucapanku ada yang menyakiti perasaanmu. Aku tidak menyangka kakak menyalahartikan perkataanku semalam. Bukan maksudku tidak berterimakasih pada kakak. Tapi justru ucapanku semalam sebagai tanda rasa terimakasihku. Aku tahu tidak mudah bagi kakak menerimaku karena kakak membenci mamaku. Tapi itu yang membuat aku belajar dari kakak, berlapang dada menerima sesuatu yang berat.
Aku bahkan sampai saat ini masih kecewa pada papa. Kenapa dia meninggalkan aku dan mama? Aku juga masih kecewa dengan diriku sendiri, karena tidak berada di sisi mama saat terakhir. Karena mengabaikan mama saat terakhir. Kenapa aku harus memiliki sakit jantung."
"Na." Yulia menatap iba adiknya.
Yulia langsung memeluk Ina dengan rasa sesalnya. Dia tahu ada jantung putrinya dalam tubuh adiknya. Sejak Yulia tahu jantung Gita bersemayam di tubuh Ina. Saat itu dia ketakutannya semakin besar. Dia takut Ina akan jatuh cinta pada Alam, dia takut jika Ina menikah dengan Alam keluarga Spencer akan memperlakukan adiknya sama seperti Gita. Semua ketakutan itu, terus meneror pikirannya.
"Maafkan kakak, Na. Kakak cuma takut kamu di cap jelek kalau membuka masalalu mamamu. Kakak juga selama ini selalu dibayang-bayangi masalalu Gita dan Alam."
Ina tersenyum mendengar Yulia sudah memaafkannya.
"Aku janji kak. Aku tidak akan buka hatiku untuk Alam. Apapun akan aku lakukan demi kakak."
"Itu baru adik kakak. Janji!" Yulia dan Ina menautkan kelingking mereka.
Entah kenapa aku merasa sakit setelah mengucapkan ini.
Ina baru saja akan memasuki kamar. Langkahnya terhenti saat suara manis memanggilnya.
"Ina"
"Laras? Ya Allah mimpi apa aku kamu datang kesini." Ina berlari memeluk Laras, sahabatnya yang beberapa bulan ini menghilang.
"Mimpi bulan merindu, Na." Laras tersenyum ketika Ina mencubit pipinya.
"Yuk, kekamar." Ina menarik tangan Laras. Lalu mereka masuk ke kamar.
Laras memasuki kamar Ina. Ini pertama kalinya dia masuk kamar Ina, Laras berputar menatap isi kamar Ina yang girly banget. Beda dengan kamar Ina di rumah yang lama.
"Na, Ini kamu, ya? Dewasa banget!" Tanya Laras saat melihat sebuah photo.
"Oh, Itu Gita. Yang punya kamar ini."
"Oh, pantes suaminya Gita itu rada gimana sama kamu. Karena kamu mirip sama istrinya."
"Rada gimana maksudnya?" Ina belum paham arah ucapan Laras.
"Keliatan dia ada rasa sama kamu, Na. Tapi kalau dia mendekati kamu karena mirip istrinya, jangan mau, na!"
__ADS_1
"Nggak mungkinlah, Ras. Nggak mungkin dia mau sama aku. Dia cinta banget sama istrinya."
"Tapi, Na. Waktu di kolam renang ..."
"Bentar, Ras... Kolam renang?"
"Iya, waktu kamu dikolam renang. Dia yang nolongin kamu, dia yang ..."
"Yang apa, Ras?" Ina makin penasaran dengan ucapan Laras.
"Nggak jadi, Na. Oh ya, na. Kamu sudah dengar Angel dan om Raga ditangkap." Laras mengalihkan pembicaraan.
"Ditangkap? Masalahnya apa?"
Laras hanya menaikan bahunya "Aku cuma dengar mereka ditangkap. Beritanya tersebar di tv dan sosmed."
"Aku nggak peduli soal Angel. Tolong jelaskan kenapa kamu bisa tahu soal kolam renang itu." Desak Ina.
"Aku kerja disana, Na. Waktu kamu datang dengan seorang lelaki. Aku ingin mendekatimu, tapi jadi malas karena ada Angel. Kenapa kamu jadi akrab sama Angel? Padahal kamu tahu dia seperti apa. Itu yang membuat aku sempat kesal sama kamu."
"Maaf, Ras. Aku juga nggak ada janji sama Angel, tahu-tahu dia ada di cafe dan mengajak duduk bersama. Lelaki yang bersamaku itu kak Reza. Kamu tahu kan kak Reza sahabat Kak Rangga."
Kenapa, Na? Dengan mudah kamu didekati banyak pria.
Kenapa harus kak Rangga yang jadi pacarmu?
Dan sekarang ada dua lelaki yang mendekatimu.
"Ras?"
"Eh, Iya,Na."
"Kamu masih kuliah?"
"Enggak, Na. aku sekarang kerja di cafe. Ibu sekarang sering sakit-sakitan. Kue sudah tidak produktif lagi. Karena buatanku tidak seenak buatan Ibu. Jadi demi membantu biaya pengobatan ibu aku kerja." Cerita Laras.
"Tapi emang dari kampus tidak ada kompensasi gitu?"
"Nggak ada, Na."
Ina memeluk Laras menenangkan sahabatnya yang sudah berlinang airmata.
__ADS_1
"Ras, dari awal aku sudah bilang. Kamu butuh sesuatu bilang sama aku, aku siap bantu kamu. Aku akan selalu ada buat kamu asal jangan ada di tutupi diantara kita."