
"Kamu sama Ina saja yang ke dokter kulit. Aku menunggu disini saja. Nggak papa, kan?" Kilah Alam yang sudah menjulurkan tubuhnya di ranjang periksa ilham.
"Ya, udah yuk" Ilham menarik tangan Ina.
"Nggak perlu pake pegangan juga kali. Itu suami orang, Na" Cetus Alam.
Ilham dan Ina tetap melengos tanpa memperdulikan ocehan Alam. Setelah keduanya pergi, Alam memilih istirahat di ranjang praktek Ilham. Hari ini begitu banyak pekerjaan yang menyitanya. Tak bisa tidur, Alam memilih mengutak atik gawainya. Membaca beberapa berita online tentang perkembangan dunia apalagi kalau bukan soal Covid 19.
Matanya lelah setelah berhadapan dengan layar pada gawainya. Alam berputar melihat-lihat isi di rak kerja Ilham.
Tiba-tiba netranya terfokus pada jejeran catatan medis milik Ilham. Apalagi dalam map tersebut tertulis donor jantung. Tangan Alam mencoba meraih map tersebut, rasa penasaran tentang siapa pemilik jantung Gita akan menjadi jawaban yang dia cari selama ini.
"Kak!"
Ilham tiba-tiba muncul saat Alam hampir meraih map yang dilihatnya.
"Iya, ham?"
"Kakak lagi apa? Aku ambil catatan kerjaku dulu." Ilham melewati tubuh Alam. Dua kakak beradik yang pernah jadi rival ini saling melewati tatapan.
Tak lama Ilham keluar dari ruangan membawa catatan yang mau dibaca Alam.
Seperti yang diceritakan di part sebelumnya, Ina akan melepaskan cincin yang masih melingkar di jarinya. Tanpa daftar Ina menjadi pasien pembuka bagi dokter Hana, dokter spesialis kulit. Dia tak perlu antri karena memang lagi sepi. Ilham memperkenalkan Ina sebagai saudaranya. Sayangnya sudah mengenal Ina sebagai kekasih Dodo.
Waktu sudah menunjukkan pukul 18:00, Ina dan Ilham telah berada didalam ruang praktek dokter Hanna. Ina sangat berharap kalau Dokter Hanna bisa membantunya. Ina melihat alat-alat tersebut sudah bergidik ngeri.
"Dok, tangan saya nggak dipotong kan?" Ucap Ina takut-takut.
Ilham mencoba menahan tawa ketika melihat ekpresi Ina yang ketakutan.
"Tenang, Na. Kalau nggak bisa dilepas suruh aja kak Alam tanggung jawab." Goda Ilham.
"Iiiih, tanggung jawab apaan, kak? aku nggak kenapa-kenapa?"
"Kan dia yang punya cincin. Jadi minta dia nikahi kamu, Na."
"Ogaaaah!" jawab Ina memalingkan wajahnya.
"Ham, mending kamu balik aja deh ke ruanganmu. Aku jadi nggak fokus, nih. Gara-gara kamu ganggu pasienku." Semprot Hanna.
"Ups, maaf, ya Hanna. Aku balik ke ruanganku, ya. Titip calon kakak iparku." Ilham langsung keluar tanpa peduli dengan perubahan wajah Ina.
__ADS_1
Ina menahan rasa sakitnya saat sebuah alat menelusup jarinya. Satu jam sudah Hanna akhirnya bisa mengeluarkan cincin dari jari manis Ina. Dokter berparas hindustan itu membersihkan jari Ina luka karena lecet.
"Lain kali kalau ketemu barang seperti ini langsung kasih ke resepsionis atau siapa yang dipercaya gitu. Bukan dipakai sendiri." Tegur Hanna.
"Iya, kak."
"By the way, Dodo apa kabarnya, na."
"Saya sudah lama tidak bertemu kak Dodo." Jawab Ina.
"Oh, Jadi kalian sudah putus ya? Kasihan Dodo, lagi sakit malah diputusin."
"Sakit?" Ina kaget mendengar kabar itu.
"Pantas pas dipesta nikahnya kak Ilham dia kurus dan pucat."
Ina teringat saat bertemu dengan Dodo dipesta pernikahan Ilham. Tubuh Dodo yang kurus dan wajahnya yang pucat membuat terselip rasa iba di mata Ina.
"Sudah, Na." Hanna menyudahi pembalutan pada jari manis Ina. Lalu memberikan cincin di kantong kecil.
"Makasih, Kak Hanna."
Ina meninggalkan ruangan Hanna. Kaki mungilnya melangkah ke ruangan Ilham. Beberapa perawat menatap sinis kearahnya. Ina tahu kalau para suster tersebut memang tak menyukai dirinya sejak pacaran dengan Dodo.
"Kamu dimana, Na?"
"Aku sedang ada urusan sama teman. Kenapa Kak?"
"Ini ada Reza datang. Katanya kalian janjian jalan?"
"Suruh dia pulang, kak."
"Kok Gitu sih? Pokoknya kakak suruh dia tunggu sampai kamu pulang. Tapi benar kan kamu pergi sama teman. Bukan pergi sama laki-laki kan, kamu tidak pergi dengan Alam kan."
Ina menelan salivanya mendengar penuturan sang kakak. Se posesif inikah Yulia?Jujur Ina mulai tidak nyaman dengan sikap Yulia. Tapi dia yakin kalau itu sebagai bentuk kasih sayang Yulia padanya. Ditariknya nafas dalam-dalam.
"Iya kak. Bentar lagi aku pulang." helaan nafas panjang keluar dari bibir manisnya.
Berat sekali rasanya tubuhnya melangkah. Ina malas bertemu Reza yang sudah ditolaknya tadi siang. Tapi jika dia tidak pulang, kakaknya akan terus menghubungi dirinya.
"Ya Allah kenapa jadi seperti ini sih? Perasaan mama atau bi Narsih nggak gini amat deh. Jujur aku merasa kak Lia mulai posesif dengan ranah pribadiku. Setiap aku bergerak, Kak Lia selalu takut aku pergi dengan Alam. Sebenarnya ada apa sih antara Alam dan Kak Lia? Sebegitu bencinya kak Lia pada menantunya? Kalau tidak suka kenapa dia menerima Alam jadi menantunya?"
__ADS_1
"Ada apa, Na?" Suara Alam mengaggetkan Ina.
"Nggak papa, Lam. Bisa pesankan aku grab?"
"Kok Grab sih? Kan saya yang membawa kamu kesini. Otomatis saya yang mengantar kamu pulang." Jawab Alam yang bingung dengan perubahan sikap Ina.
"Saya ada janji dengan kak Reza. Jadi saya akan menyusulnya ke tempat janjian." Ina mencoba berbohong.
Alam pun mencarikan grab untuk Ina. Walaupun sebenarnya dia juga penasaran dengan hubungan Ina dan Reza. Tapi ditepisnya karena merasa bukan urusannya.
Setelah Ina berangkat Alam pun mengikuti grab yang dinaiki Ina.
"Ini kan arah pulang ke rumah? Kenapa dia harus berbohong sih?"
*
*
*
*
Apakah menurut readers sikap Yulia termasuk posesif?
*
*
*
*
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
__ADS_1
Bersambung