
"Jadi kita harus gimana, pa?" Tanya Angel pada Raga yang masih berkutat didepan laptop.
Beberapa hari yang lalu Angel dan keluarganya mendatangi kediaman Spencer. Tentu saja dengan bermodal kopian file yang disadap Angel dari laptopnya Mona. Angel dan Raga berharap dengan berkas itu Bobby Spencer mau menerima pinangan mereka. Tapi nyatanya mereka disuruh pulang seperti orang yang sedang minta sumbangan.
Raga menjelit putrinya yang sibuk dengan gawainya. Senyumnya mengembang menatap tubuh putrinya dari atas sampai badan. Pakaian yang menyelimuti gadis itu, ditambah celana yang membentuk kemulusan. Lama Raga menatap anak keduanya dengan arti yang berbeda.
"Papa mau saja membantu kamu, Ngel. Asal..." Raga mendekati tubuh Angel lalu membelai tengkuk lehernya dengan lembut.
Angel mulai risih dengan sikap papanya. Raga membalikkan tubuh Angel, tangan nakalnya mulai beraksi. Angel menelan salivanya, dia paham apa yang mau dilakukan Papanya.
"Pa, jangan ..." Bisik Angel membuat Raga semakin melambung.
"Ngel .." Balas Raga kembali berbisik.
"Jangan disini, pa." Tangan Angel menelisik ke telinga Raga.
Ayah dan Anak tersebut saling tersenyum. Tak lama terdengar decakan bibir dari keduanya. Menandakan puncak hasrat sang Papa sudah tersalurkan. Angel pergi meninggalkan Raga yang masih lelah dengan aksi mereka.
Papa bukan lelaki pertama yang menikmatiku. Tapi tak apa, yang penting aku bisa membalaskan sakit hatiku pada Ina.
"Ngel, kamu lihat papamu, nggak?" Tanya Delima saat melihat putrinya sudah siap berangkat ke kampus.
"Itu dimobil." Tangan Angel menunjuk sosok yang sedang memegang setir.
"Ngel, mama minta kamu hati-hati ya sama papamu. Mama juga minta kamu jangan lagi datang ke keluarga Spencer." Bujuk Delima
"Mama nggak usah ngatur aku, deh. Masih mending papa tidak menceraikan mama. Mama mau jadi gembel? Kalau aku mah ogah! Kalau mama masih kekeh cerai sama papa dan balik ke Jambi, itu urusan mama." Angel meninggalkan Delima yang terbengong mendengar ucapan Angel.
__ADS_1
"Ya Allah, bukakanlah pintu hati anakku. Bagaimanapun aku tidak bisa mempertahankan lagi rumah tangga ini? Tapi aku juga tidak bisa meninggalkan Angel hidup dengan Mas Raga. Aku takut Mas Raga gelap mata lagi. Aku harus bagaimana lagi.
Ina ya Ina, aku yakin anak itu bisa membuka pikiran Angel. Ina dan Angel kan berteman baik. Aku harus menemui Ina. Tapi dimana tempat tinggal Ina sekarang. Bukannya sejak Kania meninggal rumah mereka sudah dijual.
Ah, Iya aku harus menemui keluarga Spencer, aku harus memberitahukan yang sebenarnya. Kalau sebenarnya pemilik jantung itu adalah Karina bukan Angel. Ini harus dicegah, harus! Mereka benar-benar kelewatan memanfaatkan masalah ini. Sekarang juga!"
Delima bersiap-siap berangkat ke kantor Spencer untuk menghentikan rencana anak dan suaminya.
"Mbak, mau kemana?" Tanya Asih saat melihat Delima hendak keluar rumah.
"Bukan urusan kamu!" Delima memilih melanjutkan rencananya ke Kediaman Spencer.
Sepeninggalan Delima, Asih menggoyangkan jarinya diatas benda pipih tersebut. Tak lama telinganya sudah menempel dipermukaan layar gawai.
Klik
"Asih, dia bilang mamamu mau menemui keluarga Spencer. Kita harus bergerak cepat, Ngel."
"Gini, pa. Pertama orang yang kita atasi adalah Mama. Setelah itu baru Karina. Dengan begitu semua rencana kita akan berjalan dengan baik. Jika keluarga Spencer menolak kita lagi makanya mereka bisa kita tuntut. Kan mereka yang mengadakan sayembara, itu artinya mereka harus bertanggung jawab."
"Anak papa pinter banget" Raga mencubit pipi Angel.
"Dan setelah ini, Papa yang aku singkirkan" Umpatnya dalam hati.
Delima berdiri disebuar gerbang pagar rumah seperti istana. Mata berseri ketika tujuannya telah sampai. Dengan ucapan bismillah langkah kakinya berjalan.
Hingga sebuah tangan membekap tubuhnya. Gelap itulah pandangan terakhirnya.
__ADS_1
Klik
Ina menghela nafas panjang ketika melihat Reza menyambanginya di depan pintu rumah. Seramah mungkin Ina menerima tamunya walaupun dia enggan meladeni lelaki itu. Yulia dengan ramahnya memperlakukan Reza layaknya tamu agung.
"Ngapain kak Eja malam-malam kesini?"
"Na, aku suntuk dirumah. Keingat kamu, jadi aku datang ke sini. Nggak papa kan." Reza Hanya tersenyum melihat jelitan Ina.
"Nak, Reza masuk yuk. Makan bersama kami." Yulia menarik Reza masuk ke rumah.
"Kak Reza sebaiknya pulang. Aku mau istirahat, capek!" Usir Ina. Lalu meninggalkan Reza dan Yulia masuk ke kamarnya. Yulia kaget mendengar pintu tertutup dengan keras.
"Maaf, ya nak Reza. Sepertinya Ina memang kecapekan."
"Saya pamit dulu, tante." Pamit Reza sambil menyalami tangan Yulia.
Dia lelaki yang baik sepertinya. Kalau dia dekat dengan Ina pasti bakal serasi sekali. Maaf Ina, kakak cuma ingin kamu bahagia. Kakak yakin Reza adalah pilihan yang tepat buat kamu. Kakak tahu kalau kamu masih belum melupakan Rangga. Lambat laun kamu akan melupakannya seiring dengan kehadiran Reza. Batin Yulia saat melihat Reza menaiki mobilnya.
Yulia menyambangi adiknya dengan maksud menegur sikap Ina tadi. Dia tidak enak pada Reza sudah berjam-jam menunggu Ina.
"Na"
Tak ada sahutan. Yulia menggoyangkan gagang pintu dengan pelan. Tak dikunci! Lalu menemukan Ina sedang tertidur menyandar dikursi dekat jendela. Seketika kepalanya menggeleng melihat tingkah adiknya.
"Kamu sama dengan Gita. Suka sekali duduk didekat jendela. Na bangun?" Yulia mencoba membangunkan Ina agar pindah ke tempat tidur.
Tak lama Ina terbangun lalu berpindah ke tempat tidur.
__ADS_1