
POV Dul
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok." Tanyaku pada dokter yang memeriksa Yulia.
"Apakah istri ada memiliki permasalah mengarah ke syndrom?"
"Istri saya memiliki gangguan panik. Tapi sudah lama tidak kambuh."
"Saya malah menemukan post syndrom trauma dalam diri istri anda."
Post Syndrom trauma kan juga diidap Ina. Tapi Ina sekarang sudah sembuh. Apa ini penyakit turunan, ya?
"Gejalanya bagaimana,dok?" Tanyaku yang masih belum paham dengan maksud dokter.
"Gangguan yang ditandai dengan kegagalan untuk pulih setelah mengalami atau menyaksikan peristiwa yang mengerikan. Kondisi ini bisa berlangsung berbulan-bulan atau bertahun-tahun, dengan pemicu yang dapat membawa kembali kenangan trauma disertai dengan reaksi emosional dan fisik yang intens.
Untuk lebih jelasnya, anda temui alamat ini. Dia punya jam terbang tinggi menangani kasus seperti istri anda." Dokter menjelaskan tentang penyakit ini.
Ya Allah begitu berat ujian yang kau berikan pada kami.
"Terimakasih, dok." Ucapku.
Aku pun mengantar dokter ke depan pintu. Setelah Dokter pulang, aku kembali menemui Lia yang duduk dengan tatapan kosong. Ada rasa bersalah yang menyelinap di dalam dadaku. Andai saja aku tidak menghasut Ina untuk menemui Alam, mungkin kejadiannya tidak seperti ini.
Yulia memang mengidap gangguan panik, bawaan sejak kecil. Entah apa pemicunya aku juga tidak paham. Masih ingat saat Gita kabur dari rumah, karena tidak terbiasa tinggal di rumah kakeknya. Yulia terus mengurung dirinya di kamar. Aku sadar terlalu memanjakan Gita sehingga dia bersikap semaunya. Lalu yang kedua saat Gita belum pulang dari dinner bareng Roki, Adik tirinya Alam (Baca novel Aku kamu dan dia)
Dalam mendidik kuakui Yulia lebih tegas dariku. Yulia selalu menanamkan disiplin pada Gita. Dengan alasan biar bisa jadi wanita tangguh. Bukan perempuan lembek. Beda denganku, aku selalu menuruti kemauan Gita, termasuk setiap dia ada masalah curhatnya sama papanya bukan mamanya.
Makanya saat Gita dikeroyok warga Sukasari, Yulia menyalahkan Alam biang keladinya. Berbagai cara upaya dia lakukan agar Gita melupakan Alam, karena ketakutannya akan yang pernah dialami anaknya. Termasuk mendesak Ilham mendekati Gita saat masih amnesia. Semua dia lakukan karena kebenciannya pada Alam.
"Pa" Aku mendengar Lia bersuara.
"Maafin, papa, ma. Maafin papa yang menjodohkan Ina dan Alam."
"Kenapa, pa? kenapa putri dan adikku mencintai lelaki yang sama. Kenapa, pa? Kenapa tidak ada yang percaya kalau Marni yang membuat Gita menderita. Aku .... aku .... takut, pa... aku takut Marni akan memperlakukan Ina sama seperti Gita. Aku takut, pa. Alam itu bukan lelaki yang tegas, dia bahkan tidak pernah becus menjaga gita."
Aku hanya terdiam. Kalau aku bantah makin runyam ceritanya. Rentetan kejadian yang dialami Gita memang memberikan trauma tersendiri bagi Yulia. Gita ditekan sama Marni dengan ancaman mengambil hak asuh saat hamil anak pertama, Di culik sama perempuan yang dendam sama Alam hingga mengalami keguguran dan posisinya Alam sedang dipenjara.
"Ma, istirahat dulu, ya. Mama mau apa? Biar papa ambilin."
"Mama nggak mau apa-apa, pa. Rasanya mama mau mati saja. Biar bisa menemani Gita."
"Terus kalau mama mati, papa gimana, dong? Papa akan jadi pria paling merana selamanya."
"Alah, papa paling juga cari istri baru?"
"Emang ada yang mau sama bangkotan seperti papa? Kalau ada yang mau pasti banyak yang menggoda papa selama dikantor. Tapi papa lihat mereka biasa saja."
__ADS_1
"Oooh, jadi papa ngarep ada yang deketin papa. Awas saja kalau ada yang begitu, nanti mama bejek-bejek dia. Sama kayak waktu mama bikin malu si Nabila, enak aja ganggu rumah tangga anakku."
Hanya berdua berada dikamar Gita, dimana Bi Suti mengabari kalau Lia mengurung di kamar Gita. Keheningan sangat terasa diantara kami berdua, setelah kami sempat mencairankan suasana. Kulihat Lia memandangi beberapa photo entah itu photo Ina atau Gita. Karena mereka bagaikan pinang dibelah dua. Ina adalah cerminan Gita saat remaja.
"Gita, ini mama, nak. Mama rindu sama kamu. mama rindu omelin kamu yang bandel susah dikasih tahu, tapi sebandel-bandelnya kamu, kamu masih dibatas yang wajar.
Maafin mama, nak. Belum bisa menjadi orangtua yang baik buatmu. Belum bisa melindungi kamu dari bahaya.Belum ....Hiks ..Hiks" Aku hanya menatap Lia yang memeluk photo Gita.
Sama nak, papa juga merindukanmu.
Aku langsung memeluk Yulia dengan erat. Mencoba menguatkan dirinya yang sedang kalut. Tatapannya menatap langit-langit kamar, seakan ada yang dirasakannya.
"Ma, kita sholat dan ngaji yuk. Sambil mendoakan Gita agar jauh dari siksa kubur."
Aku menuntun Lia ke ruang mushola. Tubuh masih lemas karena sempat pingsan dikamar. Ku bungkukkan tubuhku agar bisa menggendongnya. Kurasakan tangannya masih bergetar menandakan psikisnya masih berguncang. Saat di ruang bawah kududukkan tubuhnya. Genggaman segelas air putih pun telah tandas di kerongkongannya. Wajahnya masih pucat tatapannya masih sayu.
"Udah enakan, ma. atau mau tambah lagi"
"Alhamdulillah, pa? mama bingung bagaimana ganti rugi sama Grace."
"Grace minta ganti rugi berapa?"
"5M, pa."
"Semua yang dipesan Grace itu harga pejabat. Dari gedung, cincin yang katanya pake berlian. Terus make up yang biasa mendadani artis besar."
"Tapi apa iya sampai 5 M." Aku masih belum percaya Grace seakan hendak memeras kami.
"Ya udah, ma. Kita sholat yuk. sudah mau magrib. Sambil nunggu isya kita ngaji sebentar." Dia hanya mengangguk lemah. Kembali kutuntun tubuhnya yang masih lemah.
Kami memulai sholat magrib dengan tiga rakaat. Menunaikan kewajiban sebagai umat muslim. Kulirik Yulia mengenakan mukena, betapa cantiknya dia seperti itu. Andai dia mau tergerak menggunakan hijab apalagi di usia kami yang bisa kapan saja menghadapnya.
"Pa, ayok sholat. Kok bengong?"
"Iya, maaf, papa terpesona liat mama pake mukena. Mama cantik."
"Udah, ah. Nanti habis magribnya."
Khushuushon ilaa ruuhi ibnati Gita Mandasari binti Abdullah. Allahumaghfir lahu warhamhu wa ‘aafihi wa’fu ‘anhu, lahul faatihah.”
Yang artinya: “Terkhusus untuk ruhnya putriku Gita Ya Allah ampunilah dia, kasihilah dia, selamatkanlah dia, dan maafkanlah dia, untuknya Al-Fatihah.”
Kami menyudahi sholat magrib lalu lanjut mengaji bersama. Lia lumayan lebih tenang ketimbang saat aku sampai tadi.
Sehabis sholat isya Lia mengeluh mengantuk. Lalu kuminta membaringkan kepalanya dipaha. Tak lama tubuhnya berbaring dan terlelap. Tanganku membelai kepalanya yang masih tertutup mukena. Mataku menerawang ke semua kamar ini. Kamar papa mertuaku yang si sulap menjadi kamar untuk cucu kami. Ingatanku berputar saat Lia ingin mengubah kamar papa menjadi kamar bayi.
"Pa, kita dekor kamar ini buat Gita nanti."
__ADS_1
"Boleh."
"Mama kangen Gita, pa. Sejak dia memilih tinggal dengan mertuanya. Dia jarang pulang kesini."
"Mungkin Gita takut mama belum bisa menerima suaminya."
"Andai mereka memperlakukan Gita dengan baik. Mungkin aku akan bersikap baik pada mereka."
"Ma, ini..." Gita masuk ke kamar Opa dengan perasaan takjub.
"Iya, ini kado dari mama dan papa buat cucu mama."
Nak, semoga kamu bahagia disana. Kami sangat merindukanmu.
Lia terdengar tidur sangat nyenyak. Kututupi tubuhnya dengan selimut lalu menyalakan AC. Beberapa barang yang tertumpuk dimeja. Barang milik Shasa, sejak masalah Lia, Ina dan Alam. Shasa lebih sering dirumah Spencer. Tidak seperti yang di takutkan Lia, Marni justru sangat memanjakan Shasa. Shasa di terima dengan baik sama keluarga itu.
Post Syndrom traumatic ternyata bukan hanya menimpa Ina, tapi istriku juga mengalaminya. Ku tatap obat dikasih dokter tadi.
"Ham, ini om dapat obat dari dokter namanya Lorazepam. Itu fungsinya apa, ya?" Tanyaku mencoba menelepon Ilham.
"Siapa sakit, Om?"
"Tante, Ham"
"Itu obat yang dipakai untuk orang yang memiliki gangguan kayak trauma gitu. Apa yang terjadi, Om?"
"Panjang ceritanya, ham. Ya udah, terimakasih infonya"
"Sama-sama, Om. Semoga tante Lia cepat sembuh."
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
Bersambung
__ADS_1