
Masih di hotel Ine, ancol.
Waktu menunjukkan pukul setengah lima. Masih tampak cahaya rembulan dengan bintang-bintang bertaburan di langit. Tampak hamparan pantai di hadapan kamarnya. Udara subuh yang menusuk tulang.
Alam memilih sebuah kamar yang memiliki banyak kenangan. Kamar dimana Gita pernah terbaring lemah, kamar dimana dia memilih tidur di samping Gita demi menjaga gadis itu.
[Cuplikan Aku kamu dan dia]
Ronal mendapat telepon dari Siti. Siti mengabari kalo Gita sekarang ada di hotelnya Ine.
Berdasarkan alamat yang dikirim Siti, Ronal langsung menemukan lokasi di mana keberadaan Gita.
Ronal sampai di ruang resepsionis, menanyakan adakah wanita yang bernama Gita.
"Gita siapa,ya,pak?" Tanya Mbak resepsionis.
"Coba cek dulu ada nggak namanya" jawab Ronal.
Petugas resepsionis mengatakan tidak ada yang bernama Gita.
"Kak Ronal!" ada suara memanggilnya. Ternyata suara Ine.
"Kakak ngapain disini!" Tanya Ine.
"Jemput Gita."
"Oh, Gita ada di dalam, biar aku antar."
"Bagaimana ceritanya Gita bisa ketemu?" Tanya Ronal.
"Gita, di putusin Roki." Ine menjelaskan sesuai dengan yang di ceritakan Gita
Menurut Ine saat ini Gita down banget. Belum bisa di temui siapapun. Ronal minta Ine mengantarkan ke kamar Gita. Tapi tetap di tolak oleh Ine. Ronal mengancam akan mendobrak semua pintu, kalo tidak diizinkan menemui Gita. Akhirnya Ine menyerah dan mengantarkan Ronal ke kamar Gita.
Ronal menangis melihat Gita yang sangat pucat dan tertidur lelap. Dari keterangan Ine, Gita sudah di tangani dokter.
Gita terus menyebut nama Roki sepanjang mimpinya. Ronal kesal meninju dinding. Dia berjanji akan membuat perhitungan pada Roki.
Awalnya Ronal/Alam menjaga Gita hanya duduk di lantai. Gita yang masih saja mengigau nama Roki membuatnya mendekati Ranjang Gita. Alam mengganti bantal dengan pahanya. Meletakkan kepala Gita diatas pahanya.
__ADS_1
Tangan Alam membelai rambut gadis itu.
" Kamu sadar nggak kalau pertemuan kita ini sudah diatur. Dari kejadian di lobang ranjang. Hingga Om bobby menjodohkan kita berdua. Ya, walaupun aneh sih. Dia tahu kamu pacar anaknya tapi malah di sodorkan pada laki-laki lain
Andai kamu tahu Gita, kalau Roki dan Rere sudah lama pacaran di belakangmu.
Aku janji akan membuat kamu melupakan Roki. Aku janji akan mencintaimu melebihi perasaanmu dengan Roki.
[Cuplikan di tutup]
Tak berapa lama langit mulai menyemburatkan warn merah. Fajar perlahan mulai menyingsing. Sayup-sayup terdengar suara Adzan berkumandang dari ujung pantai. Suara Adzan yang terdengar kecil, Alam menebak lokasi mesjid pasti sangat jauh. Lelaki itu segera masuk kamar mandi untuk berwudhu. Setelah melaksanakan Khomat, Alam langsung menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim.
Setelah Salat subuh Alam memilih merebahkan diri di ranjang. Mengingat hari pertunangannya semalam. Berjanji akan selalu setia pada Ina. Tatapannya kearah cincin yang melingkar di jarinya. Status mereka bukan berarti kemenangan yang akan datang. Tapi, Ina harus mengorbankan perasaannya pada kakaknya. Sedangkan dirinya juga merasa tidak enak pada mertuanya.
"Sepertinya perjuangan kita masih panjang, Na. Masih aral melintang yang harus kita hadapi. Termasuk restua mama Yulia. Kamu tahu sendiri kan dia sangat membenciku. Apalagi saat kamu memutuskan tidak ikut keinginan kakakmu. Na, Kita akan bersama menghadapi mereka."
Zreeet Zreeeeet
Alam langsung mengangkat telepon yang ternyata dari Marni.
"Iya, bu"
klik
Rumah sakit Kasih Bunda
"Bagaimana keadaan cucu kami, dok?" Tanya Marni pada Dokter Ray.
"Untuk sementara kondisi cucu anda masih dalam penanganan medis. Hanya saja, suhu badannya meningkat dari 38 menjadi 40 derajat celcius. Maaf kalau saya boleh tahu apakah cucu anda punya penyakit serius?"
Marni dan Bobby saling memandang lalu menggelengkan kepalanya. Selama ini yang mereka tahu sang cucu tidak punya penyakit serius.
"Emang ada apa dengan cucu saya, Dok?" Tanya Bobby.
"Maaf, pak kalau saya telisik sepertinya ada gejala kanker dalam tubuh cucu anda." jawab Dokter.
Marni mengatup mulutnya dengan kedua tangannya. Tubuhnya terhempas lemas saat mendengar ucapan dokter. Bobby pun tak kalah kaget, dia pun menenangkan istrinya yang masih syok.
"Maaf, dok. Apakah anda yakin?"
__ADS_1
"Ini baru dugaan saya, pak, bu. Kalau mau pastinya kita tunggu hasil tes darahnya keluar." Jawab Dokter.
"Ya Allah kenapa kau berikan ujian seberat ini pada cucuku. Dia masih kecil masa depannya masih panjang. Kenapa tidak limpahkan pada hamba ya Allah. Biar hamba yang menggantikan jangan cucuku."
"Ma, sabar, Ma. Kan kata dokter itu baru dugaan dia. Kita akan baru tahu kebenarannya setelah hasil tes darahnya keluar. Jadi mama jangan mikir yang macam-macam."
"Alam iya Alam. Dia pasti tahu sesuatu beberapa bulan yang Shasa pernah mimisan dan Alam diminta Ilham untuk memeriksa Shasa. Aku yakin Alam tahu sesuatu tentang kondisi Shasa."
"Ma, sudah ya. Nanti kita bakal dengar penjelasan dokter dan penjelasan Alam" Bobby masih menenangkan istrinya.
Disudut rumah sakit, terdengar langkah cepat kaki seorang laki-laki. Tampak gurat kecemasan di gurat wajahnya. Siapa yang tidak cemas ketika mendengar sosok berharganya kembali drop. Langkah itu terhenti ketika melihat sepasang suami istri paruh baya sedang menangis.
"Ibu!" Pekiknya.
"Alam!" Seru Marni langsung menghambur ke tubuh putranya. "Shasa, Lam. Shasa ...! Kata dokter dia.." Bobby mencoba mengkode Marni tapi tak diindahkan.
"Lam, Tolong jelaskan pada kami, tentang kondisi Shasa yang sebenarnya. Bukannya kamu pernah periksakan Shasa pada Ilham. Apa kata ilham, nak?" Marni masih mendesak Alam.
"Maaf, Bu, Pa. Alam belum sempat membahas tentang Shasa. Karena begitu banyak masalah akhir-akhir ini. Maafkan Alam."
"Karena kamu terlalu sibuk sama urusan Ina. Makanya soal Shasa menjadi terabaikan. Ingat, nak. Kamu itu sudah menjadi seorang ayah, tanggung jawabmu pada anakmu jauh lebih wajib dari urusan asmaramu. Sekarang tolong jelaskan pada kami. Apa yang terjadi pada cucuku. Apa ada penyakit serius yang diidapnya. Bukan pertamakali Shasa mimisan hingga demam tinggi."
"Bu, Pah, Shasa .. Shasa mengidap penyakit yang sama seperti Gita. Shasa mengidap Kanker Otak tapi masih gejala awal."
Marni langsung syok saat mendengar pengakuan Alam. Tubuhnya terhempas ke lantai, bobby pun memapah istrinya duduk di kursi. Dia pun tak kalah terkejutnya, hanya saja dia masih bisa mengontrol perasaannya. Tak lama tampak Alam dan petugas medis yang lain memindahkan tubuh Marni ke hospital bed.
Alam pun mengikuti para petugas untuk menemani ibunya. Tampak dimatanya Bobby sedang menelepon seseorang. Alam yakin papanya menghubungi mertuanya.
"Jangan kabari mereka dulu, Pa. Kondisi mama Lia juga sedang tidak bagus. Kalau kita bilang sekarang yang ada mama Lia makin drop"
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
__ADS_1
Bersambung