Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
BONUS PART 7


__ADS_3

"Papa." suara mungil itu muncul di depan pintu ruang rawat Ina.


Tubuh kecil itu duduk di kursi roda dengan kupluk putih. Kemunculan gadis kecil itu menjadi jawaban doa bagi Alam dan semua keluarga yang berkumpul. Dibantu dengan dua omanya, gadis kecil itu maju menuju box bayi.


"Adek." sahutnya melihat sosok mungil yang terlelap.


"Alo adek kecil, ini akak Ca mau main ama adek. Ambut adek otak sama kayak rambut akak. betul .. betul ..betul."


"Kata oma, rambut akak di botakin biar tumbuh jadi rambut yang baru. Bial bih antik." olceh Shasa.


Alam menyeka airmatanya. Putrinya telah melewati masa kritis. Suatu keajaiban yang tak terkira, padahal dokter tadinya memvonis Shasa tidak aka6n selamat.


"Terimakasih ya Allah, engkau telah menyadarkan putriku. Sekarang keluargaku sudah lengkap!" Ucap Alam penuh rasa syukur.


"Kapan Shasa sadar, Bu?" Tanya Alam


"Subuh tadi, Lam." Kata Marni.


"Kenapa tidak mengabari Alam?"


"Kan nggak surprise namanya. Tadinya kami menunggu kamu mampir ke ruangan Shasa. Tapi gara-gara rahmat bilang soal adek bayi, Shasa terus merengek minta ketemu sama adek bayi." Jelas Marni.


Alam memeluk Shasa sebagai rasa bahagia. Mengingat sejak Ina hamil, Shasalah yang bersemangat menunggu kedatangan adiknya. Rasanya dia menggendong gemas tubuh kecil itu. Namun ditahannya mengingat masih membawa tongkat infus.


"Papa, nama adek siapa?" Tanya Shasa.


"Muhammad Yusuf Spencer" Jelas Alam.


"Capa pa, ucup?" Shasa masih susah melafalkan nama adeknya.


"Yu..suf...!"


"Ucah benel, pa. Ucup aja ya?" Tawar Shasa.


"Iya, terserah Shasa aja deh." Alam sedikit kesal nama anak dipanggil Ucup. Masa iya anaknya di samain dengan nama penjaga kebunnya di Sukasari.


"Halo, ucup. Cepat gede, ya. Kalau gede harus lebih ganteng dari papamu" Edwar mengajak Yusuf berkomunikasi.


"War, namanya Yusuf bukan Ucup! Please, deh." Alam melototi Edwar yang terus memanggil anaknya dengan sebutan Ucup.

__ADS_1


"Mas, Ucup keren juga, lo. Lucu gimana gitu." Ina ikut nimbrung.


"Yusuf tetap Yusuf, biar kelihatan berkelas."


"Gayamu, lam. Ngomong berkelas, la wong kamu aja nggak naik kelas pas sekolah dulu."


"War, jangan jatuhkan harga diriku di depan anak dan istriku."


"Fakta." Edwar menjulurkan lidahnya.


"Sudah..Sudah! Kalian malah berdebat. Anakku mau istirahat." omel Ina.


Ina menggendong Yusuf dengan penuh kasih sayang. Bayi yang mereka nantikan setelah hampir dua tahun pernikahan mereka. Tangan Alam membelap kepala tipis Yusuf. Wajah mungil itu menggeliat seakan geli ketika kedua orangtuanya menciumnya secara bergantian.


"Yusuf, semoga kamu menjadi anak yang sholeh. Membanggakan kedua orangtuamu. Mama tidak sabar melihat kamu tumbuh besar. Pasti kamu lebih tampan dari papamu.


Kamu lahir dari sebuah perjuangan yang besar. Perjuangan mama dan papa harus menentang kodrat sebagai keluarga. Perjuangan dimana kami harus melewati tangisan dan amarah dari mereka yang meragukan. Tapi kamu tenang saja, Nak. Ada mama yang akan menjadi pelindungmu jika ada yang mengganggumu.


Biarpun kemarin ada yang bilang sama kita. kalau dia hanya punya seseorang yang lebih berharga di banding kita, nak. Tapi mama yakin buat mama kamu lebih berharga."


"Sayang..."


"Sayang." Alam merasa bersalah dengan ucapannya yang saat itu.


"Mas, kamu temani Shasa saja. Biar aku dan Yusuf disini." Dadanya sudah merasa sesak ketika mengingat apa yang dilakukan suaminya.


"Kamu tidak boleh banyak pikiran, sayang. Intensitas ASI mu akan menurun jika kamu seperti ini. Ingat, anak kita yang akan kena imbasnya. Kalau kamu masih marah dengan aku karena masalah itu. Aku minta maaf, sayang.


Tidak ada maksud aku mengecewakan perasaanmu. Tidak ada maksud aku membuat hatimu sedih. Itu terjadi karena aku masih down dengan keadaan Shasa."


Alam duduk disamping Ina yang baru saja menyelesaikan ASI-nya. Rona wajah ina sedikit menyipit karena menahan perih gigitan dari Yusuf. Ketika dia baru sadar dari koma-nya, Ina dibangunkan dengan tangisan kencang Yusuf. Yulia langsung menuntunnya untuk belajar memberikan ASI pada bayinya. Ina dengan cepat bisa mencerna apa yang diajarkan sang kakak.


"Na, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Aku tahu begitu banyak kesalahan yang membuatmu kecewa. Tapi asal kamu tahu, Na. Selama ini aku sudah mengerahkan rasa cintaku padamu. Meskipun begitu banyak tantangan yang harus kulewati." Alam masih mencoba meyakinkan Ina yang masih marah padanya.


"Mas... aku.."


Alam merangkul Ina dengan memeluknya mesra. Tak lama Ina sudah berpindah diatas paha suaminya. Tangan Alam menelusup di sela-sela rambut Ina yang sebatas leher. Peraduan rindu yang menyatukan rasa dan cinta yang kekal diantara mereka.


"Mas. Aku juga mencintaimu." Alam menarik dagu istrinya saling menenggelamkan bibirnya. Merajut cinta yang beberapa saat yang lalu sempat goyah.

__ADS_1


"Nanti setelah kita pulang. Aku mau adain aqiqah Yusuf dan Shasa. Soalnya dulu Shasa belum sempat dibuatkan aqiqah." Usul Alam.


"Iya, mas. Itu soal gampang. Jangankan kedua anak kita, aku mamanya sendiri belum pernah di aqiqah." Jawab Ina.


"Ya sudah sekalian kamu juga di aqiqah, bagaimana?"


Ina tergelak. Mana mungkin dia ikut aqiqah mengingat dia bukan anak-anak lagi.


"Nggak usah, mas. Biar anak-anak saja yang di aqiqah. Aku sudah tua ngapain di aqiqah."


"Aku ingin mendengar sekali lagi, na. Apa kau mencintaiku?"


Ina menghela nafas pendeknya. Bukankah tadi dirinya sudah mengatakannya. Kenapa dipertanyakan lagi? Ina memegang tangan suaminya. Meyakinkan lelaki halalnya agar tidak meragukannya. Ina meletakkan tangan Alam diatas dadanya.


"Katakan padanya, mas. Katakan kalau saat ini aku lah yang menjadi jantung hatimu. Katakan kalau aku akan menjadi satu-satunya wanita yang kamu cintai.


Katakan pada si pemilik jantung ini kalau dia jangan takut, karena aku akan mencintai lelaki ini seumur hidupku. Aku akan menjadi ibu yang baik buat Shasa.


Selama nafasku masih ada, selama mataku masih terbuka. Kamulah yang aku cintai sampai detik ini. Meskipun aku tahu, tidak mudah membuatmu menggeser dia di hatimu."


"Na.."


Alam menyeka airmatanya, terdengar susutan hidung menandakan dia terharu pada ucapan istrinya.


Dua hari kemudian


Ina dan Shasa akhirnya sudah pulang diperbolehkan pulang. Semua keluarga menyambut dua cucu dari keturunan Spencer pun sudah kembali ke rumah.


"Akhirnya kita pulang juga, sayang." Ina berbicara pada buah hatinya.


"Yang" Alam menempelkan lehernya diatas bahu istrinya.


"Iya." Sahut Ina masih sibuk bersama Yusuf.


"Minggu depan kita aqiqahkan mereka, ya."


"Menurut aku jangan sekarang, mas. Shasa dan aku kan masih dalam tahap pemulihan. Bagaimana kalau Yusuf usianya lewat 40 hari?"


"Ya, sudah kalau itu menurut kamu. Aku ikut saja."

__ADS_1


"Gitu, dong. Itu baru suamiku." Ina menjentik hidung Alam.


__ADS_2