Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
Satu tahun kemudian


__ADS_3

Atas nama cinta


Hati ini tak mungkin terbagi


Sampai nanti bila aku mati


Cinta ini hanya untuk engkau


Atas nama cinta


Kurelakan jalanku merana


Asal engkau akhirnya denganku


Ku bersumpah atas nama cinta


Pernikahan yang langgeng dan bahagia tentu menjadi tujuan utama dari setiap pasangan suami istri. Namun, untuk mewujudkannya, perlu perjuangan dan pengorbanan dari kedua pihak.


Perjuangan dan pengorbanan itu mungkin berlangsung selamanya. Itulah mengapa, butuh komitmen dan kejujuran agar setiap proses yang dijalani berlangsung tanpa halangan yang berarti.


Pernikahan bahagia bukan berarti pernikahan bebas masalah. Tak ada janji surga bahwa pernikahan bahagia tidak akan menghadapi persoalan dan pertengkaran.


Seperti yang pernah dialami diawal pernikahan Ina dan Alam. Ketika mereka sepakat menunda kehamilan dengan cara pisah kamar. Tapi ternyata hal itu tidak bertahan lama. Ina menyadari kesalahannya yaitu jauh dari baktinya pada suami.


Pernikahan bahagia bisa terwujud, satu di antaranya dengan kekompakan dan kesehatian suami istri mengatasi masalah itu, bagaimana merespons dan mencari solusi atas permasalahan tersebut. Pernikahan bahagia juga bisa tercapai jika suami dan istri terus menjaga rasa cinta, saling memiliki, saling pengertian, saling menghormati serta menghargai.


Ina memandang wajah suaminya yang masih terlelap. Senyumnya mengembang sambil mengelus wajah sang putri yang tidur di tengah mereka. Langit tampak cerah dari biasanya, Ina bangkit dari peraduannya.


Tak terasa waktu berlalu, Ina menikmati perannya sebagai seorang istri dan ibu sambung. Mereka menjalani indahnya kisah dalam rumah tangga. Ina mulai membiasakan diri bangun pagi, memasak untuk anak dan suaminya. Terkadang mereka bangun bersama setelah sholat subuh. Tak lupa menyiapkan


bekal untuk suaminya. sudah sebulan ini Ina selalu mengomel karena Alam makan fast food di kantor.


Ketika saat malam, sambil mengerjakan tugas Ina menunggu suaminya pulang. Walaupun terkadang dia tertidur, namun saat bangun selalu mendapati dirinya sudah di ranjang. Tentu saja sudah diikat dengan lengan kekar suaminya.


"Mas." Sapanya saat bangun paginya.


"Iya, sayang." Suara bariton tersebut mulai menyahut panggilannya.


"Kenapa tidak membangunkanku? Kamu tak perlu repot terus menggendongku." Ina merasa tidak enak pada suaminya.


"Aku hanya tidak ingin mengganggu istirahatmu, sayang. Kamu seperti gampang lelah beberapa hari ini. Kalau ada tugas yang tidak aku paham bilang sama aku." Ujar Alam sembari bangkit dari ranjang.


"Nggak tahu, Mas. Akhir-akhir ini kepalaku sering pusing. Bisa jadi efek begadang beberapa hari ini."


Alam berdiri memandang langit, sinarnya menyusup pada celah gorden yang melambai tertiup angin. Alam memasuki kamar mandi, sementara Ina dan Shasa masih bergelayut di balik selimut.


Lelaki itu tersenyum memandang kedekatan putri dan anaknya. Ina mengerjap matanya pelan-pelan, kepalanya menengadah ke arah suaminya yang duduk di sudut ranjang. Keduanya memandang kearah Shasa yang masih terlelap.

__ADS_1


Menurut dokter Shasa masih punya kesempatan sembuh yang besar. Dokter mendiagnosa stadium satu pada kanker yang diderita Shasa. Jadi masih bisa diobati. Sejauh ini perkembangan kesehatan Shasa lumayan pesat.


Ina bangkit mempersiapkan kebutuhan suaminya. Meskipun dia harus memakai masker karena tidak kuat aroma bawang. Namun, hal itu tidak menjadi halangannya untuk bekerja. Suara ketukan pisau terdengar sampai kekamar. Alam mendekati sang istri yang seperti lemas setelah memasak.


"Papa bilang nggak usah masak kalau mama sedang kurang sehat. Kita ke dokter ya? Papa nggak tenang kerja kalau mama kayak gini." Alam melihat wajah Ina sangat pucat.


"Aku nggak apa-apa, pa. Papa kalau mau ke kantor pergi saja."


"Benar tidak apa-apa?" Ina mengangguk. Dia yakin hanya sekedar kelelahan saja.


"Nanti ada tante Maudy mau main kesini. jadi kamu tidak kesepian."


"Papa berangkat, ma." Pamit Alam.


"Bentar!" Ina mengendus tubuh suaminya.


"Kenapa, Ma?"


"Ganti bajunya! Kalau perlu mandi lagi!" Titah Ina.


"Kok gitu, ma. Papa sudah wangi begini kok di suruh mandi sih?"


"Justru karena papa wangi, mama nggak suka! Mandi atau papa nggak boleh kekantor!"


"Kok gitu sih? Aneh banget kamu!"


"Kok balik lagi?" Ina kaget mendengar suara mobil suaminya.


"Apa ada yang tertinggal?" Ina kembali bertanya pada suaminya.


"Kamu bawa ini ke kamar mandi. Terus kamu celupkan alat ini ke air seni." Alam mengarahkan istrinya mempergunakan alat tersebut.


POV Ina


Sudah satu tahun pernikahan kami berjalan. Susah sedih senang kami lalui bersama. Apalagi kami membangun rumah tangga mandiri di negara orang. Tidak mudah membuat kami beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Apalagi kami mengandalkan suara adzan dari ponsel karena tidak ada mesjid di sekitar tempat tinggal kami.


Beberapa hari tubuhku tidak terlalu fit, apalagi aku sudah masuk semester empat. Makin tinggi semester semakin banyak tugas. Ya, namanya juga kuliah, pasti banyak tugas. Tapi aku juga manusia yang memiliki keterbatasan fisik. Bukan itu saja, akhir-akhir ini aku sering tidak kuat mencium aroma yang kuat. Seperti wangian atau yang menusuk indera penciuman.


Jangan -jangan aku corona ... bukan kah tanda-tandanya seperti itu ya?


Sampai tadi suamiku pulang cepat, ku bilang pulang cepat karena baru berangkat dia sudah kembali lagi. Dia datang membawa sebuah alat tes.


Aku duduk diatas toilet, memandang benda tersebut. Ini bukan yang pertama dia membeliku alat ini. Mungkin dia masih berharap kalau aku hamil. Ku tutup mata, sedikit mengintip apa yang terjadi.


"Ya Allah, semoga tidak mengecewakan lagi."


Aku keluar kamar, kutundukkan kepalaku di depan Alam. Tampak wajahnya terlihat cemas.

__ADS_1


"Aku tahu sayang .... mungkin bukan rezeki kita." Terdengar pasrah dari nada suaranya.


"Sayang, maaf ya." Jawabku


"Iya, sayang nggak apa apa."


Alam melangkah ke sudut ranjang. Aku hanya mengekorinya dari belakang.


"Mas.."


"Maaf,ya ..." Ku julurkan benda tersebut sambil menutup matanya.


"Satu... dua...tiga..."


*


*


*


*


Alhamdulillah beberapa part lagi Ina dan Alam akan di penghujung cerita. Nggak terasa kita akan berpisah dengan Ina dan Alam.


Eitttssss... Tapi jangan sedih ... bentar lagi kisah Rangga dan Laras akan menemani kalian insyaallah menjadi bacaan kalian setelah lebaran nanti dengan judul Laras Dan Rangga.


Kisah ini menceritakan Laras yang pergi dari rumah akibat tekanan mama mertuanya. Namun saat dalam persembunyiannya Laras mendapati dirinya sudah berbadan dua.


Hingga beberapa tahun kemudian Laras kembali dipertemukan oleh Rangga melalui anaknya.


*


*


*


*


Tetap terus pantengin cerita ini.


Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya


Jangan lupa komennya juga rate


Kalau berkenan bantu vote dan hadiah

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2