Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
63. Sisa Rasa


__ADS_3

Mengapa masih ada


Sisa rasa di dada


Disaat kau pergi begitu saja


Mampukah ku bertahan


Tanpa hadirmu sayang


Tuhan sampaikan rindu untuknya


Masih tersimpan


Setiap kenangan


Semua cinta yang kau beri


Kau tak kan terganti.


Ina menangis memeluk undangan pernikahan Rangga dan Jihan. Rasa kecewa yang mendalam bahkan teramat mendalam. Luka yang pernah dia rasakan saat Dodo mengkhianatinya kini kembali mendera.


Hujan turun membasahi bumi seolah tahu apa suasana hati gadis. Tubuhnya dibiarkan menghirup udara air hujan, Ina duduk ditepi jendela. Tatapannya kosong sama seperti saat dia menerima kenyataan perselingkuhan mamanya dan Dodo.


"Non, hujan. Tutup jendelanya, nanti non sakit." Ucap Bi Suti saat melihat kamar Ina basah karena angin hujan masuk ke kamar gadis.


"Non." Bi Suti mengguncang tubuh Ina yang masih mematung.


Ya Allah non Ina kenapa lagi?


Bi Suti panik melihat Ina yang masih terdiam. Tatapannya beralih ke undangan yang dipeluk Ina. Dengan pelan Bibi mengambilnya dari tangan gadis itu. Tapi diambil lagi dengan Ina.


"Bi, jangan ini undangan aku nikah sama kak Rangga." Ucap Ina kembali memeluk undangan layaknya memeluk boneka.


"Non, sadar! Aduh sepertinya aku harus kabari ibu dan bapak, nih."


Bi Suti segera mengambil handphone untuk menghubungi majikannya. Bibi kasihan melihat tingkah Ina yang mulai aneh. Dengan pelan bibi menuntun Ina ke tempat tidur.


Kembali mencoba menghubungi majikannya tapi tidak ada respon.

__ADS_1


"Aduh gimana ini? ibu dan bapak tidak ada yang bisa dihubungi. Ah iya, den Alam. Mungkin den Alam bisa membantu."


Bi Suti menghubungi Alam sebagai pengganti majikannya.


Satu jam kemudian


"Kenapa undangan ini bisa sampai ke Ina." Omel Alam pada Bi Suti.


Bi Suti bingung harus menjawab apa. Pasalnya dia sendiri tidak tahu perihal undangan tersebut.


"Saya tidak tahu, Den. Saya hanya menemukan non Ina melamun di dekat jendela. Saat saya ambil undangannya dia malah bilang kalau itu undangan pernikahannya. Saya takut non Ina kumat kayak dulu." Jelas Bi Suti yang cemas melihat Ina yang masih kosong.


"Bi, Saya bisa minta tolong?"


"Apa Den?"


"Bacakan ayat suci Alquran didekat Ina. Saya bisa saja membacakan sendiri tapi kami bukan muhrim. Sambil menunggu mama Yulia pulang Bibi baca ayat-ayat apa aja deh. Mau ayat pendek atau ayat panjang pokoknya bacakan saja. Biar Ina sedikit berkurang dropnya."


"Baik, Den."


"Saya pulang dulu, bi. Kalau ada apa-apa kabari saya." Pamit Alam.


"Den Alam?"


"Kita baca sama sama aja, Den. Semakin banyak yang doakan semakin manjur buat non Ina."


Alam akhirnya membantu Bi Suti membersihkan kamar Ina yang sehabis banjir. Setelah semua beres Alam dan Bi Suti sholat berjamaah. Lalu diteruskan membaca ayat-ayat Alquran. Lantunan ayat suci Alquran terdengar merdu dari kamar Ina. Lama Alam memandang Ina yang sudah tertidur.


Aku ingat Gita down karena dilecehkan Ilham. Sebegitu downnya saat itu, sampai mama Yulia memintaku membaca lantunan ayat suci Alquran. Setelah Gita mulai tenang. Begitu juga saat di Malaka, sewaktu Gita masih merasakan trauma hanya lantunan ayat suci yang membuatnya tenang.


Kenapa, Na? Kenapa apa yang kamu alami sama dengan Gita? Apakah ini namanya ikatan darah? entahlah, aku cuma ingin melihat kamu tersenyum lagi.


Alam menyeka airmatanya. Terselip rasa iba atas apa yang dialami tante mertuanya. Tangannya mengambil selimut menutupi tubuh Ina. Hujan semakin deras, hawa dingin menusuk tulang.


Mata Alam mulai mengantuk dan tertidur disamping Ina. Begitupun Bi Suti yang ikut menemani Ina dikamar.


"Ada apa ini?" Yulia kaget melihat banyak yang berkumpul dikamar Ina.


Yang membuat dia kaget Alam tertidur posisi duduk didekat bantal Ina.

__ADS_1


Alam terbangun melihat kedatangan mama mertuanya.


"Mama sudah pulang?" Alam menyalami tangan Yulia.


"Apa yang terjadi, Lam?"


"Ina depresinya yang dulu kumat lagi, ma."


"Kenapa bisa begitu?"


Alam menyodorkan undangan pernikahan Rangga dan Jihan."Dia baca ini, ma. Tanya aja sama Bi Suti? Alam pamit pulang, ma."


Yulia duduk disamping Ina. Membelai rambut adik semata wayangnya. Bulir airmata menetes diwajah wanita paruh baya itu.


"Kenapa, Na? kenapa kamu bernasib sama dengan Gita. Kamu tahu Ina, saat Gita mendengar kekasihnya balikan sama mantannya, reaksinya sama seperti yang kamu alami saat ini."


Alam menoleh kearah Yulia, dia paham orang yang dibicarakan Yulia adalah dirinya. Tapi dia sudah berulangkali menjelaskan kalau itu hanya salah paham. Sayangnya Yulia terus mengungkit seakan dirinyalah penyebab down nya Gita.


"Ma, aku pulang dulu." Pamit Alam.


"Tunggu!"


"Iya, ma."


"Lam, mama minta mulai sekarang kamu jangan jemput Ina ke kantor lagi. Ada pak sopir yang akan mengantar Ina. Ingat Ina cuma menunggu sampai kasus kampusnya selesai. Sampai pembuka kuliah di Jepang dimulai.


Satu lagi, mulai sekarang yang menjaga Shasa adalah Angel. Jadi mama minta kamu jangan minta tolong sama Ina lagi."


"Jepang!" Alam cukup kaget dengan informasi yang didengarnya.


Dia cukup kaget mendengar pengumuman Yulia. Tapi dia bisa apa? Dia hanya menantu yang sampai saat ini kehadirannya masih belum diterima.


Berselang satu jam setelah Alam pulang. Sebuah mobil terparkir didepan gerbang. Seorang lelaki berperawakan tinggi memasuki gerbang kediaman Gunawan. Dengan penuh percaya diri dia memasuki kediaman Gunawan. Tapi ternyata dia diusir oleh Yulia.


"Mau apa kamu kesini?"


"Saya mau bertemu dengan Ina, tante."


"Ina tidak ada! dan jangan ganggu adik saya lagi."

__ADS_1


"Tapi, tante?"


"KELUAAAAR!"


__ADS_2