Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
Di bus


__ADS_3

"Sayang.." Ina mendadak kembali mengkerut saat melihat siapa menyapanya setelah Takeru.


Aduh, mampus aku.


"Dia siapa? kenapa dia memanggilmu, sayang." Tanya Takeru


"Dia ...."


"Perkenal saya Ronal. Suaminya Karina." Alam memperkenalkan diri dengan penuh percaya diri.


Ina hanya menggigit bibirnya saat Alam mengaku sebagai suaminya. Padahal mereka saja belum menikah.


" Apa benar itu karina?" Takeru seakan menelan kekecewaan.


"Jawab, dong sayang. Oh ya Tuan siapa namanya."


"Takeru"


"Namanya ngingetin aku sama adiknya Yamato yang suka sama Hikaru, aduh yang peliharaannya siapa, ya digimon apa gitu?"


Ina melongo mendengar ocehan Alam.


Itu yang dia bahas apaan,ya. Digimon? Film apa itu. Yang aku tahu yang pake mon nya ya pikachu.


"Oke, kamu nggak percaya kalau kita sudah menikah. Na, mana jari kamu." Alam langsung menarik jari Ina yang tersemat cincin yang kembar dengan dirinya.


"Percayakan? kami adalah suami istri."


"Na, aku duluan, ya."


Takeru berlalu meninggalkan Ina dan Alam. Tampak Alam terlihat puas setelah mengungkapkan hubungan mereka di depan Takeru. Netranya beralih gadis disampingnya.


"Kenapa liatnya begitu?"


"Kamu barusan bikin aku malu, tahu nggak!" omel Ina sambil memalingkan tubuhnya dari hadapan Alam.


"Hmmm .. dimana malunya? apa karena aku bilang kita suami istri? Kan emang benar kan. Kita sebentar lagi akan menikah. Kamu akan jadi Nyonya Ronal Wassalam, salahnya dimana?Oh, aku tahu... kamu memang ingin menutupi hubungan kita biar kamu bisa tebar pesona si keru - keru itu."

__ADS_1


"Takeru bukan si keru. Aku cuma takut nanti ucapan kamu berpengaruh sama urusan di kampus. Aku kan masih anak baru, Lam. Kalau mereka percaya aku sudah nikah gimana?" Keluh Ina.


"Kalau kamu takut mereka mengecam soal hubungan kita. Lalu bagaimana yang aku rasakan tadi, Na? Ada seorang lelaki yang datang menemui calon istriku. Aku laki-laki, Na. aku bisa lihat dari tatapan wajah si Keru kalau dia suka sama kamu. Salah kalau aku mencoba menyelamatkan kamu dari gangguan yang datang? Salah kalau aku merasa takut jika ada laki-laki lain mencoba menggoyangkan hubungan kita."


"Kamu nggak salah, Lam. Aku yang salah, karena aku kesannya cuma mikirin diri sendiri. Maafin aku ya, Lam." Sahut Ina sambil menunduk.


Alam menarik dagu Ina sambil tersenyum "Makasih, ya sudah ngertiin perasaan aku." Ina menghambur tubuhnya dalam dekapan Alam.


"Ya, udah kamu harus antar aku ke kampus. Tapi ingat jangan tebar pesona disana." Alam mengiyakan permintaan Ina.


Alam dan Ina berangkat ke kampus naik bis yang akan mengantarkan mereka ke tujuan. Tangan Alam tidak pernah lepas sedetikpun dari gadisnya. Bahkan banyak wanita menatap kearahnya. Ina yang kesal menutup wajah Alam dengan topi dan kacamata.


"Makasih, ya." Bisik Alam.


"Buat?"


"Buat cemburunya barusan. Kamu tahu kalau aku suka dicemburui."


"Heeeh! gitu, ya." Wajah Ina langsung memerah bak buah tomat.


"Terserah kamu sajalah" Cicit Ina yang pasrah melihat sifat Alam.


"Kok bisa Gita berpaling ke kamu padahal dia hampir menikah dokter Ilham. Padahal dari kacamata aku gantengan kak Ilham dari kamu."


"Itulah namanya cinta."


"Heeh! mulai deh!"


"ehmmm... jadi ceritanya dimata kamu dokter Ilham lebih ganteng."


"Emang iya!"


"Sini, ya aku kasih hukuman." Alam menggelitik ketiak Ina sambil gadis menjerit-jerit.


Para penumpang menatap mereka karena dianggap berisi.


Saat Ina asyik bercanda ria, gedung kampus sudah tampak. Tapi sayangnya mobil tetap melaju melewati gerbang kampus.

__ADS_1


"Astagaaaa.... Kampusnya sudah kelewat." Pekik Ina.


Ina meminta sopir bus untuk berhenti. Setelah mereka turun, Ina menggerutu sepanjang jalan. Termasuk menuduh Alam penyebab terlewatnya tujuan. Alam hanya menyengir saat melihat Ina menekuk wajahnya.


"Sayang."


Ina tetap berjalan mengejar pagar pintu kampus. Mana jam pertama mata kuliah si dosen killer. Suara panggilan dari Alam pun diabaikannya.


"Hey, kamu tidak capek menekuk wajah seperti itu."


Ina menoleh sambil memasang muka masam. Perasaannya masih kesal karena diyakininya sudah terlambat masuk mata kuliah si dosen killer. Dia pasrah jika nanti nilainya benar-benar akan dikurang dan mengulang tahun depan.


klik


"Serius, yah. Kak Ronal mau nikah?" Terdengar nada terkejut ketika mendapat kabar sang kakak akan melepas masa lajangnya.


"Iya, ham mereka akan menikah bulan depan. Tapi atas permintaan Ronal resepsinya habis lebaran. Kamu pulang, ya. Kami juga rindu pada si kembar." Ucap Brian.


"Lihat si ya, Yah. Pasalnya bawa bala-bala ini yah. Lagi aktifnya. Sayang, sini ada ayah mau ketemu sama kamu." Sahut Ilham memangggil istrinya yang sedang menyuapi si kembar.


"Assalamualaikum, ayah. Apa kabar?" Sapa Siti ayah mertuanya.


"Katanya kak Ronal mau nikah" Ilham menceritakan kabar yang baru di dengarnya.


"Wah, akhirnya sold out juga kakakku. Cepet, yah. Sama siapa?" Tanya Siti.


"Sama Karina." Sahut Brian.


"Serius sama Karina, yah? soalnya dulu kak Ronal jutek banget sama Ina." Ilham masih belum percaya dengan berita ini.


"Iya, kamu tahu sendirilah kakakmu kayak gimana. Sekali dingin ya kayak es, tapi sekali jatuh cinta luntur deh es nya. Sifat kakak kamu itu mengingatkan ayah saat muda dulu."


Pengumuman soal pernikahan Alam menjadi berita yang paling mengejutkan. Pasalnya yang mereka tahu, Alam pernah berjanji tidak akan menikah lagi. Sekarang hampir 1,5 tahun sejak kepergian Gita, mereka dikejutkan dengan berita pernikahan tersebut.


"Mas, kak Alam mau nikah sama adiknya mama Yulia, ya. Nggak nyangka, ya. Aku lihat kak Alam itu jutek banget sama Ina."


"Kita tidak pernah tahu kapan cinta itu bisa datang, sayang. Dulu kamu juga begitu kan sama aku. Sekarang malah jodoh, kan." Jawab Ilham.

__ADS_1


"Iya, Kak Alam juga dulu sama Gita juga jutek banget. Di panggil gentong, anak kota manja lah. Akhirnya Bucin juga."


__ADS_2