
Pagi ini
"Bu. Laras berangkat kerja dulu, ya." Pamit Laras pada Mala di kamar ibunya.
"Iya, nak. Hati-hati. Oh, ya soal yang kita bicarakan tadi malam, ibu minta kamu berpikir lagi. Semua kembali ke kamu, nak. Kamu sudah besar, sudah tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik." Jelas Mala.
Laras hanya tersenyum kecil "Bu, buat aku restu ibu nomor satu. Kalau pada akhirnya Laras harus dipecat karena tidak menyanggupi keinginan bu Raya, Laras ikhlas, bu."
"Sudah, kamu berangkat saja. Nanti terlambat." Mala mengalihkan pembicaraan. Dia paham perasaan putri terombang ambing karena permintaan atasannya. Bukannya tidak setuju, tapi Mala takut apa yang dia alami dulu juga menimpa putrinya. Bedanya Mala belum sempat menikah harus menerima kenyataan kalau calonnya juga menikah di hari yang sama.
Mala ingat saat masa mudanya, dia berpacaran dengan Donal. Saat itu usianya 20 tahun yang bekerja di kediaman Pattimura. Donal sebagai anak tunggal digadangkan pewaris perusahaan Pattimura. Mala yang sempat di jodohkan sama Oma Maria, neneknya Donal. Karena Maria sering bilang padanya kalau Mala adalah cucu menantu pilihannya.
Pada saat yang tiba dimana, Gladys ibu kandung Donal merestui keinginan terakhir Oma Maria. Persiapan demi persiapan sudah mereka lalui. Mala rela mengundang sanak kerabat dari Wonosari untuk menghadiri pernikahannya. Rencananya pernikahan diadakan di rumah pakde nya Mala.
Hingga saat acara itu tiba, Mala mendengar Oma Maria masuk rumah sakit dan Meninggal dunia. Mala yang masih menggunakan kebaya pergi ke rumah sakit menemui Oma. Tapi apa yang dia lihat? Donal menikahi wanita lain didepan Oma Maria yang sedang koma.
Gladys yang tadi digadangkan setuju malah memakinya. Baru saja perasaan hancur karena pengkhianatan Donal, dimaki-maki Gladys, hingga akhirnya sang ayah langsung drop karena serangan jantung. Mala pulang dengan perasaan hampa di tambah omelan budenya.
"Makanya Mala, Jangan mimpi ketinggian. Apalagi sampai menikah dengan orang kaya seperti mereka. Eling! Eling!" Omel Bude nya.
Kembali ke masa sekarang.
Mala merasa dadanya sesak. Lalu bangkit mengambil obat. Batuk yang tak henti-henti terus menggerogoti pernafasannya. Mala menumpahkan air minum dan gelas pun pecah di lantai. Beberapa tetangga yang mendengar langsung menerobos pintu rumah Mala. Mereka saling bahu-membahu menyelamatkan Mala, tak lama tubuh Mala sudah berbaring di ranjang puskesmas. Beberapa tetangga menjaga kediaman Mala. Sedangkan salah satu dari mereka mencoba menghubungi Laras.
"Nggak diangkat, pak" Gerutu Lisa
"Coba lagi. Kasihan bu Mala, sepertinya sakitnya parah." Bujuk pak Karta pada putrinya.
"Sudah, pak. Tapi tetap nggak diangkat." Jawab Lisa sambil menggerutu.
Sementara saat Laras tiba di tempat kerjanya. Hampir semua karyawan kantor menatap sinis kepadanya. Laras tidak memperdulikan itu, dia disini bekerja bukan mencari perhatian orang-orang disana. Laras menyimpan barangnya di loker. Lalu kembali bekerja seperti biasanya.
__ADS_1
"Waahh, anak emas masih punya muka masuk ke kantor" Ledek mereka.
"Bagi dong jimatnya, biar pak Rangga lengket sama saya."
"Udah, biarin aja di berharap. Paling juga ditinggal kabur lagi nantinya." Celetuk yang lain.
"Hahhahahaa .. iya juga..Yang cantik paripurna aja ditinggal. Apalagi yang model kayak gini."
Laras hanya menggenggam ujung bajunya dengan keras. Menahan gejolak am¿arah yang ingin dia luapkan. Langkahnya berdiri memasuki ruangan Raya.
"Assalamualaikum, Bu." Sapanya di dalam ruang atasannya.
"Waalaikumsalam, Laras. Ada apa? Saya belum pesan kopi."
"Saya... Saya.." Laras masih gugup.
"Saya mau mengundurkan diri,bu." Ucapnya
"Maaf, bu. Saya juga tidak bisa memenuhi permintaan ibu. Untuk menikah dengan anak ibu." Laras mengeluarkan surat pengunduran dirinya.
"Tunggu! apa karena ini kamu mengundurkan diri? Maaf, Ras bukan seperti ini caranya. Saya tidak akan memecat kamu karena masalah ini. Tapi mulai besok kamu kerja dirumah saya. Bagaimana?" Tawar Raya.
Laras hanya menunduk. Dia heran kenapa Raya ngotot ingin dirinya menikah dengan Rangga. Padahal diluar sana banyak yang sepadan dengan mereka, bukan seperti hidupnya yang miskin. Laras juga tidak mau di cap matre oleh orang-orang.
Laras duduk didalam pantry, merenung semua yang terjadi dua hari ini. Raya yang maksa buat dirinya menikah dengan Rangga, Ibunya yang tidak setuju karena takut nanti ditindas, orang-orang dikantor yang membully dirinya. Permasalahan itu yang dadanya sesak. Seketika pertahanannya runtuh, dia yang mencoba untuk kuat. Akhirnya pecah juga.
"Eh, ngapain lu mewek? Sono kerja! Kamu pikir kita bakal kasihan sama kamu, hah!"
"AKU SALAH APA SAMA KALIAN! SAMPAI SEGITUNYA BENCI SAMA SAYA! HAH! SEJAK SAYA MASUK DISINI KALIAN MEMPERLAKUKAN SAYA SEMENA-SEMENA. KENAPA? APAKAH SAYA TIDAK BOLEH KERJA DISINI!"
Semua di pantry terdiam. Laras yang mereka anggap pendiam ternyata bisa marah juga. Tak ada yang merespon ucapan Laras tapi mereka juga tidak beranjak ditempat. Maya yang mendengar omelan Laras langsung nimbrung.
__ADS_1
"Ngapain kamu ngamuk-ngamuk begitu? Biar ada yang kasihan sama kamu, gitu. Hey, jangan manja disini hidupnya banyak yang lebih keras dari kamu. Mereka dulu juga sama seperti kamu, dilatih mentalnya tapi mereka nggak secengeng kamu. Bener kata orang, anak zaman sekarang mentalnya rebahan." Jawab Maya.
Maya teringat kalau dulu dia dilatih seniornya waktu jadi OB. Disuruh bersihkan kamar mandi sampai pingsan. Bahkan dia harus menginap dikantor karena pekerjaannya belum selesai. Tidak hanya dia saja, beberapa temannya juga begitu. Bagi yang tidak kuat tentu saja memilih mundur.
Maya pun saat ini menikmati hasilnya saat ini. Dia sudah menjabat sebagai kepala kebersihan.
"Lalu kamu bangga dengan sikap kamu yang seperti ini, Maya?" Suara datang dari depan pintu pantry.
"Sikap kamu itu mencerminkan pemimpin yang semena-mena. Pantas saja mereka sikapnya seperti ini, karena kamu mendidiknya dengan cara yang sama. Seandainya posisi itu ada pada anak gadismu, apa yang akan kamu lakukan? Maya .. Maya ternyata seperti ini kinerja kamu. Saya kecewa sama kamu."
Tak lama Maya menerima telepon "Bu, saya izin anak saya pingsan di wc sekolah." pamit Maya.
*
*
*
*
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
Bersambung
__ADS_1