Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
Surat Izin Meminang


__ADS_3

Suasana di kampus universitas Tokyo, siang itu tampak begitu cerah. Intensitas salju yang mulai menurun membuat gedung-gedung di sekitar kampus mulai menampakkan atapnya. Sebentar akan masuk musim semi dimana daun-daun berguguran di pelataran kampus.


Di sebuah taman kecil sekitar kampus, beberapa mahasiswa terlihat hilir mudik. Ada juga yang yang memilih duduk disekitar taman kampus. Dari latar sebelah kiri tampak dua muda mudi berjalan menuju bangku taman kampus. Si wanita muda itu memandang langit sambil tersenyum. Terucap rasa syukur karena masih bisa melihat pemandangan! indah0 nan surgawi.


Tetapi bagi lelaki disampingnya keindahan kampus bukanlah menjadi fokus utama. Bukan semata-mata karena mulai memasuki musim semi yang amat dinanti semua warga jepang. Tapi hal yang lain menjadi fokus utamanya, hatinya tengah berbunga-bunga karena merasa kesembuhan itu datang. Sumber kebahagiaannya telah datang, padahal selama ini dia merasa menjadi lelaki pesakitan. Namun, hal itu kini tak berlaku lagi. Sejak bertemu gadis itu, jantungnya mulai merasakan debaran kencang.


Baginya, sosok manis itu adalah jawaban yang selama ini dia cari. Sosok gadis dari seberang negara yang menjadi magnet baginya. Baginya, gadis ini memang tidak cantik tapi tak bosan dipandang.


Dialah Takeru Okada, lelaki yang henti memuja pesona Karina. Takeru adalah putra dari Pengusaha ternama Tuan Okada Matsumoto. Hampir sepekan dia mendekati gadis itu. Walaupun dia tahu tanggapan Karina padanya biasa saja. Seperti kata Karina, ada hati yang harus dijaganya. Takeru menganggap itu hanya alasan Karina saja. Karena dia yakin gadis itu hanya segan padanya.


Ayahnya seorang pengusaha ternama, dengan status ayahnya dia bisa mendapatkan apapun yang diinginkannya. Termasuk mendapatkan hati gadis disamping, dia pun bisa menjadikan gadis alasan sebagai obat penyimpangannya.


"Ina."


"'Iya, kak."


"Kamu ada acara tidak hari ini?"


"Kamu ikut aku, Ya?"


"Kemana?"


"Pokoknya ikut aku."


"Kenapa mengajakku kesini?"


"Karina"


"Iya, ada apa?"


"Kamu mau jadi pasanganku di prom night acara perusahaan ayahku. Acaranya tanggal 14 februari nanti."


"Enggak."


"Kenapa?"


"Karena ada hati yang aku jaga"


"Kita cuma jadi pasangan di depan papaku. Itu saja, please."


"Maaf, kak Takeru. Aku jauh-jauh kuliah disini bukan untuk cari pasangan. Aku mau sekolah, belajar yang benar agar tidak mengecewakan keluargaku."

__ADS_1


"Please, Karina tolong aku. Itu biar papa percaya kalau aku punya pasangan."


"Kenapa begitu ...?" Aku heran dia ngotot sekali mengajakku.


"Karena aku .."


"Apa?"


"Aku sakit, Na. Tapi sejak bertemu denganmu aku merasa mulai sembuh. Kamu, Na! Kamu yang membuat aku kembali pulih. Papa juga menjodohkan aku dengan Eren, anak Rektor kampus kita. Tapi tak menyembuhkan keadaanku. Tapi setelah bertemu kamu, aku merasa memiliki kekuatan mendekati seorang wanita"


Ina bingung dengan ucapan Takeru. Sakit? Pulih? Tidak bisa dekat dengan lawan jenis. Sinyal kata itu membuatnya bingung.


"Karina aku punya penyakit dimana tak memiliki perasaan khusus pada wanita. Maka itu papa menjodohkanku pada Eren. Tapi tidak mengubah apapun. Sejak bertemu denganmu, aku mulai merasa ketertarikan dengan lawan jenis."


Ina akhirnya paham dengan ucapan Takeru.


"Kakak, Pelangi ya?"


Sekarang gantian Takeru yang bingung dengan ucapan Ina.


"Unicorn? Lgbt?homo"


Takeru hanya menunduk lemas. Dia malu setelah Ina tahu penyakitnya.


"Obatnya kamu, Na."


"Jangan aku, kak. Coba kakak lebih mengenal Eren lebih dalam. Kakak hanya perlu mencoba dengan sedikit kesabaran."


Klik


Sepulang dari rumah singgah, Alam melajukan mobilnya menuju cinere. Bermodal nekat menemui mertuanya, berharap sekantong restu akan di dapatkan meskipun tak mudah.


Sore itu pukul 17.50, Alam sudah sampai ke kediaman sang mertua. Tepat saat sampai disana terdengar lantunan adzan magrib. Setelah memasukan mobil dipelataran rumah mertuanya, Alam melangkah menuju ke mesjid yang hanya berkelang 5 rumah.


Setelah selesai Shalat magrib Alam langsung pulang ke kediaman Yulia. Rencananya dia akan membicarakan pinangan untuk Ina. Walaupun Ina bilang harus menunggu selesai kuliah. Tapi entah kenapa hasratnya ingin memperistri gadis itu semakin besar. Paling tidak sudah ikatan pasti diantara mereka.


"Assalamualaikum" Sapanya saat memasuki rumah.


"Waalaikumsalam" terdengar jawaban dari ruang tengah.


"Alam, kamu ngapain kesini malam-malam. Mau jemput Shasa, ya?"

__ADS_1


"Tidak, ma. Aku mau bicara penting sama mama dan papa."


Alam, Yulia dan Dul duduk diruang tamu. Tampak Bi Suti datang membawa teh dan beberapa cemilan.


"Ada apa, Lam?" Tanya Dul.


"Ma, pa, maaf kalau arah pembicaraan sedikit berani."


"Katakan saja,Lam."


"Mama Yulia dan Papa Dul saya ingin minta restu kalian untuk meminang Ina. Saya tahu ini terlalu cepat buat Ina, tapi paling tidak ada ikatan pasti dalam hubungan kami. Kalau mama takut perubahan status hubungan dengan Shasa. Sampai kapan pun Shasa tetap cucu mama, mungkin yang berubah status hanya saya saja. Dari menantu menjadi ipar."


Yulia kaget mendengar pernyataan Alam. Bagai petir yang menyentrum tubuhnya, Yulia tak henti menyebut istigfar saat mendengar ucapan Alam.


"Meminang?" Tanya Yulia masih setengah kaget.


Alam mengangguk dengan tetap menundukan kepalanya. Seyakin-yakinnya semangat Alam, tapi ada rasa menciut saat melihat respon mertuanya.


"Lam, kamu tahu kan. Usia Ina baru 20 tahun. Kamu tahu kan Ina masih terlalu muda untuk menikah. Mama tidak melarang kalian, tapi kamu harus bersabar menunggu 3 atau 4 tahun lagi. Mama yakin Ina pun sependapat. Dia masih mau mengejar cita-citanya. Kalau Ina mau menikah muda,dia tidak akan menolak lamaran Reza ataupun Gilang."


Alam masih menunduk walaupun rasanya tubuhnya lemas tak bertulang. Dia hanya bisa menunduk sesekali menganggukkan kepala di saat Yulia berbicara.


"Kemarin kamu bilang sama mama kan kalau Ken sudah bebas dan kembali masuk ke keluargamu. Kamu juga menitipkan Shasa pada mama agar tidak diincar Ken. Sekarang kamu minta mama merestui pinangan kamu.


Apa kamu mau Ina juga terjerat bahaya urusan keluarga kalian?


Mama tidak akan rela cucu dan adik mama terseret dalam bahaya!"


Alam tadinya memilih pamit dari kediaman mertuanya. Tapi Dul tahu perasaan hati menantunya sedang tidak baik.


"Lam, maafkan mama tadi ya. Dia bukan maksud menolakmu, mama sebenarnya sudah mulai menerima hubungan meskipun gengsi masih merajainya. Kamu tahu, Lam! Mama masih trauma dengan pernikahan kalian dulu. Bagaimana ibumu memperlakukan Gita dulu, bagaimana ibumu sering menekan Gita agar bercerai denganmu, dia bahkan mengancam Gita akan mengambil anak kalian si Chicko."


Deg! Bagai petir menerjang tubuhnya. Alam kaget mendengar penuturan Dul yang terakhir. Alam tahu mamanya dari dulu tak menyetujui pernikahan mereka. Tapi mengancam mengambil anak mereka? Alam tidak mempercayai hal itu.


"Nggak mungkin ibu melakukan itu, papa jangan fitnah! Aku tahu memang ibu tidak setuju dengan pernikahan kami. Tapi mengancam dengan mengambil hak asuh anak? Dia juga seorang ibu, pah! Nggak mungkin ibuku melakukan itu!"


"Sekarang kamu tahu kan, Lam. Apa yang membuat Gita tidak mempercayakan hak asuh Shasa sama kamu. Sekarang kamu tahu kan, mama tidak bisa menerima kamu sebagai adik ipar mama. Karena mama tidak mau Marni melakukan hal yang sama pada adik mama.


Kamu pikir, Lam. Ibu mana yang tidak sakit melihat putrinya diperlakukan seperti itu. Selama kamu sibuk dengan kasus Boy. ada mereka mau tahu keadaan Gita? Nggak ada, Lam! Nggak ada satupun keluarga kamu yang peduli dengan anak mama."


Tubuh Alam terasa semakin lemas. Setiap ucapan Yulia menjadi tusukan yang mengena setiap sudut tubuhnya.

__ADS_1


Bruuuuk!.


Maafkan aku Gita!


__ADS_2