
Artinya: “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan.”(QS. Al-Ahqaf ayat 15:)
Tokyo, 20 Maret, 2023
Euforia kehamilan menjadi suatu momen membahagiakan bagi setiap pasangan. Ketika Tuhan menitipkan sosok mungil dalam rahim seorang perempuan, maka mereka sudah diberi tanggung jawab untuk menjaga titipan tersebut.
Siapa yang tidak ingin hamil? semua wanita mendampa adanya sang buah hati hasil cinta mereka. Sosok mungil yang akan hadir menambah kemeriahan rumah tangganya.
Allah menganugerahkan kehamilan pada wanita disertai dengan keistimewaan dan pahala yang sangat besar. Hal ini dalam ajaran Islam diketahui sebagai keutamaan wanita hamil dan menyusui yang berbuah ganjaran atau pahala yang besar jika dijalani sesuai akidah yang ada.
Ina duduk di depan cermin membersihkan wajahnya menjelang tidur malam. Tampak suara deburan air dari arah kamar mandi. Senyumnya menyungging ketika sosok itu keluar dari kamar ?mandi hanya berbalut handuk di pinggang. Tubuhnya makin berisi sejak tinggal di Jepang. Ina duduk di sudut ranjang hanya menggunakan lingerie panjang berwarna pink susu.
Setelah menutupi tubuhnya dengan setelan oblong dan celana pendek Alam mendekati istrinya. Siang dia sudah mendaftarkan Shasa ke sebuah Paud di dekat kantornya. Hal itu dilakukan supaya Shasa bersosialisasi dengan anak sebayanya.
"Na" Alam memulai pembahasan pada istrinya.
"Ya, pa." Ina menunggu apa yang akan dibicarakan suaminya.
"Aku sudah mendaftarkan Shasa ke Paud dekat kantor. Jadi mulai senen besok Shasa akan berangkat bareng aku." Jelas Alam.
"Mas, apa tidak terlalu cepat Shasa dimasukkan ke sekolah. Dia masih tiga tahun, biarkan dia menikmati masa bermainnya. Nanti tahun depan baru kita memasukkan Shasa ke Taman Kanak-kanak."
Alam duduk bersimpuh di hadapan Ina. Tangannya menggenggam erat ke jemari istrinya.
"Sayang, kalau buat aku ini lah saatnya Shasa bersosialisasi dengan anak usianya. Itu bisa membantu perkembangannya. Selama ini dia cuma berteman dengan Haiko, anak Nyonya Saera. Kamu tahu tidak, aku melihat Haiko itu mulutnya terlalu bijak untuk anak seusianya. Bisa jadi nantinya Shasa terpengaruh."
"Terserah, kamu saja, Mas. Kamu yang lebih tahu mana yang terbaik buat anakmu. Kalau aku hanya bisa mendukung saja. Kamu jangan membatasi pertemanan Shasa dan Haiko, selama ini aku lihat mereka senang bermain bersama. Kan ada aku dan Nyonya Saera yang mengawasi."
"Sayang, lihat tuh mama kamu. Udah makin hari makin cerewet. Bikin papa makin cinta mama. Nanti kalau sudah lahir jangan bikin mama dan papa sedih, ya."
__ADS_1
"Kamu ngomong apa sih, mas?"
"Nggak apa-apa, sayang. Aku cuma pengen anak-anak kita tumbuh menjadi sosok yang bermanfaat bagi orang-orang disekitarnya."
"Sudahlah, Mas. Aku merinding kalau membahas kayak begini. Jadi nggak usah dibahas lagi soal begituan" Ina mengelus perutnya.
"Mas"
"Apa sayang?" Alam berposisi sedang memangku tubuh Ina.
"Aku mau jalan-jalan."
Alam menjelit kearah handphone menandakan waktu sudah larut malam.
"Tapi, Na."
Ina mengelus perutnya mengingatkan kalau ini kemauan calon bayinya.
"Nggak pake mobil. Aku mau kita naik odong-odong." Alam membelalak mendengar permintaan Ina.
Kalau di Indonesia tidak masalah. Tapi ini di Jepang dimana dia menemukan odong-odong.
"Mas." Rengek Ina.
Huft, bagaimana ini?
Malam semakin larut, Alam semakin pusing dengan keinginan istrinya. Pasalnya, Ina minta suaminya tidur di luar kalau tidak di turuti.
"Naik yang lain aja, ya sayang." Bujuk Alam.
__ADS_1
"Nggak mau! Aku mau naik odong-odong! Kalau nggak!"
"Kalau nggak apa?"
Ina berjalan mengambil beberapa bantal dan selimut.
"Kamu tidur teras!" Ina langsung menimpuk bantal dan selimut ke arah tangan suaminya.
"Yang, jangan dong. Nanti kalau ada apa-apa sama aku gimana? Nanti banyak nyamuk di luar! Terus kalau ada yang nyulik aku gimana?"
"Ini Jepang, Mas. Bukan Indonesia. Ya kali disini banyak nyamuk orang negaranya bersih begini. Lagian siapa yang mau nyulik kamu, Mas."
Alam lagi-lagi membuang nafasnya dengan kasar, sambil mengerut dada mengingat istrinya lagi hamil. Dulu waktu Gita hamil, tidak ada permintaan aneh-aneh. Bukan tidak ada, sepanjang hamil Shasa dulu, Gita lebih agresif ketimbang biasanya. Selebihnya hanya permintaan makanan saja.
"Mas." Ina masih menunggu reaksi suaminya.
"Bentar, kamu tunggu sini." Alam pergi keluar meninggalkan istrinya berdua dengan Shasa yang sudah terlelap.
Beberapa saat kemudian terdengar suara mobil dengan musik menyerupai odong-odong. Tampak boneka mampang bergoyang dan menari di samping mobil.
Ina berlari keluar saat mendengar suara musik odong-odong tersebut. Tawanya pecah saat boneka tersebut berjoget dan berjalan kearahnya.
"Mas Alam mana sih?" Batinnya mencari keberadaan suaminya.
Matanya terus mencari keberadaan suaminya. Rasa bosan mulai menerpa, dia sudah tak tertarik dengan odong-odong. Ina masuk ke dalam meninggalkan mobil yang dibayar Alam menyerupai odong-odong.
Si boneka mampang pun duduk. Tampak sosok di balik topeng mulai kesulitan bernafas.
"Mas, kamu dimana?" Ina mulai ketakutan ketika suaminya susah di hubungi.
__ADS_1
Matanya melirik dari pintu luar. Ada boneka mampang yang tergolek di teras rumahnya. Ina memilih tidak keluar, karena sudah ketakutan melihat atribut boneka tersebut.
Lalu dimanakah keberadaan Alam?