Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
Kejutan 3 : Tak terduga


__ADS_3

Alam berdiri didepan kaca. Memandang dirinya sendiri, helaan nafas berat pun terdengar dari mulutnya. Sekotak cincin baru pun sudah berada di meja kamarnya. Tangannya menyambar gawai yang berada dipinggir ranjang. Entah kenapa dia ingin mengabari Ina, tapi di urungkannya. Alam memilih menyimpan handphone di lemari.


Masih menggunakan Jas, Alam keluar dari kamar. Namun bukannya masuk mobil dia malah mengajak Edwar mengopi santai di pos satpam. Pak satpam kaget melihat majikannya duduk santai di tempat istirahatnya.


Ini nggak mimpi kan. Mas Alam duduk santai dengan si Edwar. Mana mereka kelihatan akrab pula.


"Pak ayo ngopi bareng." Ajak Alam.


"Eh, iya pak. Saya mah disin.


i saja."Jawab pak satpam.


"Udah nggak usah malu-malu. Alam nggak makan orang kok, sudah jinak dia." Sahut Edwar.


"Eh, Iya pak. Saya disini saja." Pak satpam masih gengsi.


Si Edwar nggak sopan sama mas Alam. Itu Majikannya lo, panggil nama aja. Haduuh, Mas Alam diam aja dipanggil gitu. Kalau saya di posisi mas Alam, sudah saya pecat tuh si Edwar. Pake sok akrab lagi.


Pak Satpam pamit dari mereka dengan alasan pergi ke toilet. Sepeninggalan pak satpam, mereka mulai berbincang serius.


"Lam, kamu yakin mau tunangan sama perempuan pilihan papa-mu?"


Alam hanya menaikan bahunya "Entahlah, war, antara yakin tidak yakin. Aku coba jalani saja."


"Terus Karina gimana?"


"Kami sudah putus. Dia katanya mau ditunangkan dengan Gilang hari ini."


"Kamu mau ditunangkan hari ini dan dia juga mau tunangan hari ini. Waaaaah, kok bisa samaan ya."


"Maksudnya?"


"Kamu ingatkan, Lam. Rencana pernikahan Siti dan Ilham. Dimana mereka di prank kedua orangtua. Yang katanya mau dinikahkan dengan calon masing-masing. Akhirnya apa.... mereka ternyata disanding di pelaminan. Kamu ingatkan?" Alam mengangguk.

__ADS_1


"Mungkin nggak kamu dan Ina..."


"Nggak mungkin, War. Kamu kan tahu kalau mama Lia nggak setuju sama hubungan kami."


"Kalau dia berubah pikiran, kalau tante sudah merestui dan terlibat dalam prank ini. Gimana?"


"Udah, ah ... kamu siap-siaplah sebentar lagi berangkat."


"Lam"


"Iya kenapa?"


"Aku lagi ngebayangin kamu manggil mama mertua kamu dengan sebutan Kak Lia. Dan Shasa memanggil omanya dengan sebutan Bude. Gimana tuh? Geli aku ngebayanginnya."


Alam menarik sepatunya menimpuk kearah Edwar. Edwar mulai mengkondisikan kalau Alam sedang tidak ingin di goda. Tapi situasi itu berubah jadi tawa ngakak Edwar yang tak henti mengganggu Alam.


"Kamu kemana saja, Lam. Kita mau berangkat."


"Cari angin sebentar,bu."


"Iya, Bu. Semoga pilihan ibu dan papa bisa menjadi istri yang baik."


"Amin.Yuk semua sudah siap. Calonmu sudah menunggu di aula hotelnya Ine."


Alam dan keluarga besarnya berangkat ke hotel. Hanya keheningan yang terjadi selama dalam perjalanan. Terselip rasa penasaran tentang siapa calon tunangannya. Tapi entah kenapa semuanya bungkam saat Alam menanyakan siapa perempuan itu. Tangannya terus mengurut kening. Marni menganggap kalau putra sedang grogi.


"Kamu tenang saja. Pilihan kami tidak akan mengecewakan kok." Bisik Marni.


Alam hanya tersenyum kecil. Matanya memandang sang putri yang asyik berdiri didekat kaca. Shasa riang sekali melihat kendaraan lewat dan banyak pohon-pohon yang dilihatnya.


Mobil mereka akhirnya sampai di hotel. Beberapa sanak familipun sudah berkumpul di dalam aula. Alam berputar mencari siapa sosok calon tunangannya. Beberapa wanita cantik berjejer mendekatinya. Alam justru di tarik ke sebuah ruang yang dihias layaknya ruang pengantin.


"Ayah." Alam mendapati Brian tak jauh dari tempat dia berdiri. Kaki melangkah mendekati sang ayah lalu menyalaminya.

__ADS_1


"Ayah kok nggak ke rumah sih. kan bisa bareng berangkatnya."


"Ayah mau kasih kejutan buat kamu."


"Dan berbaliklah dia sudah menunggumu. Selamat ya."


Alam berbalik kearah belakang. Waktu rasanya pelan ketika melihat suara ketukan sepatu, Waktu rasanya ketika mendengar ketukan itu semakin dekat.


"Selamat ya, pak Ronal."


Alam menaikkan alisnya. Sosok yang muncul malah Alena, sekretarisnya.


"Apakah kamu orangnya?" Tebak Alam.


Alena menggeleng "Orangnya sudah di aula. Cantik. Yuk, pak kita kesana." Alena dengan penuh percaya diri menggandeng Alam.


Ketika sampai di aula suasana malah kembali sepi. Lampu mulai dimatikan. Tak lama Alena pun melepas gandengannya. Gelap gulita, Alam pun mencoba meraba jalan.


Kamu adalah bukti


Dari cantiknya paras dan hati


Kau jadi harmoni saat ku bernyanyi


Tentang terang dan gelapnya hidup ini


Kaulah bentuk terindah


Dari baiknya Tuhan padaku


Waktu tak mengusaikan cantikmu


Kau wanita terhebat bagiku

__ADS_1


Tolong kamu camkan itu


Lantunan lagu "Bukti By Virgoun" pun berkumandang. Diikuti lampu yang menyoroti seorang wanita. Kaki anggunnya berjalan pelan, Alam menatap wanita itu sambil tersenyum.


__ADS_2