Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
Akad nikah


__ADS_3

Aku menanti hari ini dimana kami akan disatukan dengan ikatan halal. Menanti dimana ada seorang yang akan menjagaku.


Kalau kalian bertanya bagaimana perasaanku saat ini?


Tak bisa kujawab dengan untaian kata. Tak bisa kuungkapkan dengan tindakan. Aku hanya bisa merasa debaran haru yang menelisik jiwaku.


Hari ini aku bukan lagi Karina yang bebas, aku bukanlah Karina yang bisa semau gue. Aku akan menjadi seorang istri dimana ada lelaki yang akan ku temani hingga akhir hayat. Ada seorang lelaki yang selalu menjagaku.


Mama lihat kah dari atas sana hari ini aku akan menikah dengan lelaki yang kucintai. Hari ini akan ada lelaki yang mengikrar janji sehidup semati.


Mama restu dari atas sana sangat kuharapkan.


Aku tahu mama pasti merestui kami, karena aku tahu mama sayang padaku.


Meskipun hubungan kita tak seperti ibu dan anak pada umumnya. Tapi aku yakin di balik sikap mama selama ini, pasti ada sisi keibuan walaupun tak banyak.


Aku janji ma, akan memperlakukan Shasa seperti mama menyayangi kak Rangga.


Jika aku punya anak nanti, aku tidak akan membedakan Shasa dengan anakku.


Ma, hari ini aku akan menikah dengan menantu kak Lia.


Lucu, ya... aku malah berjodoh dengan lelaki absurd seperti dia.


Semoga aku adalah persinggahan terakhirnya.


Dan semoga dia adalah yang pertama dan terakhir.


Ina duduk di depan meja rias. Menatap dirinya yang polos tanpa make up. Salah satu MUA yang mendatangi kediaman Pramono sudah menuntun Ina duduk di meja rias. Sambil mempersiapkan beberapa atribut untuk merubah penampilannya, siti duduk mendampingi calon kakak iparnya.


"Gimana perasaanmu, Na?" Tanya Siti sambil menggendong Dita.


"Nggak karuan, kak." Ina memegang dadanya karena sedari tadi merasa grogi.


"Itu biasa, Na. Namanya juga pertama kalinya, kamu siap-siap ya, aku keluar dulu ngasih Dita sama papanya." Siti pamit keluar dari kamar yang ditempati Ina. Ina beberapa kali menggigit kukunya, namun di tahan sama Siti.


"Kamu lama-lama kayak Gita. Dia kalau cemas suka begitu, gigit-gigit kuku."


"Iyakah."


Siti meninggalkan Ina yang akan di make over oleh MUA.


"Mbak kita mulai, ya dandannya?" Ina mengangguk sambil membaca bismillah namun tangannya ditepuk.


"Mbak grogi, ya?" Tanya MUA nya. Ina kembali mengangguk.


"Biasa itu mbak, Kan yang pertama kali." Ina hanya menyunggingkan senyum kecil.


Langit seakan mendukung acara hari ini. Tampak cahayanya menyinari bumi menggantikan rembulan sebagai penerang gelap. Terdengar kicauan burung menggema di plafon kamar yang ditempati Ina. Suara kicauan yang syahdu menyejukkan jiwa seakan setara dengan perasaannya saat ini. Hembusan angin yang menyapa siapa pun yang merasakannya.


Masih di kamar rias, Ina baru saja selesai dirias dengan MUA nya. Ina seakan pangling dengan wajahnya sendiri. Masih dalam posisi di depan cermin, masih dalam tahap antara percaya dengan tidak percaya kalau dirinya akan menikah hari ini.


"Mbak cantik sekali, mirip idola saya Ayu tingting." Puji MUA sambil membereskan alat-alat lalu menyambil pakaian pengantin serta suntingnya.

__ADS_1


Ina hanya menyungging senyum. Meskipun nama artis yang disebutkan masih asing ditelinganya. Maklum dia tidak terlalu suka membaca berita artis indo, kecuali kalau berita tersebut tentang karya terbaru si artis. Setelah dibaluti dengan kebaya putih tulang, kepalanya pun dipasangkan sunting menyerupai mahkota. Matanya mengerjap tatkala merasakan berat menunggangi kepalanya.


"Sudah siap" Siti masuk mengecek keadaan calon kakak iparnya.


"Sudah, mbak." Jawab MUA nya.


Siti menatap Ina serasa devaju melandanya. Bak pinang di belah dua ina berdiri di depan kaca. Wanita itu tersenyum seakan melihat sahabatnya hidup kembali. Rasa haru menyeruak tatkala sang pengantin tersenyum kepadanya.


Kalian benar-benar mirip. Aku seperti melihat Gita hidup kembali.


Aku merindukanmu, Gita.


Semoga kamu melihat kebahagiaan ini dari atas sana.


Ina dituntun keluar dari kamarnya. Aura bahagia terpancar dari wajahnya. Semua yang ada diruangan pun ikut terhanyut dalam suasana penuh debaran tersebut.


Tak terkecuali Ilham, sejak Ina keluar dari kamar sampai dia berjalan menuju ruang tengah menunggu rombongan pengantin. Lelaki itu sama sekali tidak berkedip melihat perubahan penampilan Ina. Sama seperti Siti, Ilham pun merasakan Devaju, teringat saat melihat Gita keluar dari ruangan untuk disandingkan dengan Alam. Hanya saja, Ina memakai kebaya sedangkan Gita langsung memakai gaun pengantin. Perubahan wajah Ilham tak luput dari pantauan Siti, meskipun tak seharusnya terbakar cemburu. Tapi sayangnya, Siti tak bisa menahan rasa cemburunya apalagi kalau menyangkut soal Gita.


Rombongan penjemput pengantin pun tiba. Tak terkecuali Maudy, Rio dan Geri pun ikut dalam rombongan. Maudy tak bisa menahan rasa haru saat melihat Ina yang cantik bak bidadari, namun dia pun ikut merasakan Devaju ketika mengantarkan keponakannya menikah di cottage.


"Kak Lia kenapa menangis?" Ina mengusap air mata sang kakak.


"Kakak senang, Na. Kamu akhirnya melepas masa lajangmu. Mendapatkan lelaki yang tepat untuk menggantikan tugas kakak sebagai walimu."


"Terimakasih, kak. Ina senang kalau melihat kakak bahagia. jikalau Ina belum bisa menjadi istri yang baik mohon arahannya. Jikalau ada kesalahan dari Alam pun kami masih membutuhkan bimbingannya."


"Na, tadi Rangga menelepon. Dia tidak bisa jadi wali nikah kamu, katanya Laras kecelakaan dan sekarang masih di rumah sakit. Jadi papanya Gita yang akan jadi wali kamu, nak."


Ina memegang dadanya ketika mendengar Laras kecelakaan. Rasa simpatik pun melanda hatinya, namun apa boleh buat saat ini dia tidak bisa menengok sahabatnya.


Ina dituntun berjalan memasuki mobil pengantin yang sudah disediakan. Dea didapuk menjadi pendamping pengantin duduk di sebelah Ina. sementara Yulia dan keluarga yang lain masuk ke mobil yang lain. Dea menatap Ina sambil tersenyum, dia paham rasa grogi yang melanda si pengantin wanita.


Klik


Sementara di kediaman Spencer para tamu sudah memenuhi ruang tengah. Ruangan yang akan dijadikan tempat akad pernikahan Ronal dan Ina. Beberapa keluarga sudah berkumpul menanti sang pengantin wanita. Tampak Beta ada di salah satu rombongan tamu bersama suaminya. Beta duduk bersebelahan dengan Rere, dia sebenarnya penasaran dengan calon pengantin wanita yang di gadangkan mirip mendiang sahabatnya.


"Re, calonnya kak Ronal cantik nggak?"


"Cantik dong,Ta. Sama cantiknya dengan Gita."


"Beneran dia mirip sama Gita?"


"Pokoknya kamu lihat dan nilai sendiri, Ta."


Sementara di sebuah kamar tampak Alam mematut diri disebuah cermin. Lama dirinya memandang cermin. Alam tampak gagah dengan jas berwarna putih. Semua yang tertempel ditubuhnya tak luput dari pandangan dirinya, ada secercah harapan pada pernikahannya kali ini.


Terdengar helaan nafas saat tubuhnya mendekati sebuah photo. Seakan berharap restu pada sosok di photo itu. Tangannya menyeka wajahnya yang mulai basah.


Yang, maafin aku, ya. Aku sudah menodai janjiku untuk tidak menikah lagi.


Tapi aku yakin kalau Ina bisa menjadi ibu yang baik buat Shasa.


Mohon restunya, Yang.

__ADS_1


"Lam."


"War, bagaimana dengan penampilanku?"


"Ganteng, kok. Ini yang ketiga kalinya melihat kamu menikah."


"Samawa, Ya, Lam."


"Terimakasih, war."


Alam dan Edwar keluar dari kamar menuju ruang akad. Meskipun bukan yang pertama dia menikah tapi ras deg-degan tidak hilang. Alam duduk di tengah para tamu pria, salah satu petugas dari WO menuntun Alam ke meja akad.


"Apakah kak Rangga sudah sampai?" tanya Alam.


Rangga pernah bilang kalau Ina menikah dia yang menjadi wali nikah. Karena sudah janji dengan papanya.


"Apakah wali nikahnya sudah datang?" tanya penghulu.


Semua tamu saling berpandangan. Karena tidak ada yang tahu siapa yang akan menikahkan.


"Sekali lagi apakah wali nikahnya sudah datang?" Pak penghulu mengulangi ucapannya.


"Maaf, pak kita tunggu mempelai wanita sampai." Sahut Edwar.


"Oke, saya masih ada jadwal tiga pasangan termasuk kalian. Saya tidak bisa berlama-lama."


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


"Maaf, pak saya terlambat." Rangga muncul sambil mendorong istrinya diatas kursi roda.


"Alhamdulillah." Batin Alam dalam hati.


"Kita tunggu mempelai wanitanya sampai."


"Lam, mempelai wanitanya sudah dikamar. Nanti setelah akad baru keluar" Bisik Edwar.


Rangga duduk ditengah penghulu. Tangannya siap menjabat erat tanda akad akan segera dimulai.


"Bismillah. Saudara Ronal Wassalam saya nikahkan engkau dengan adik perempuanku yang bernama Karina Permata Gunawan binti Gunawan Artomoro dengan mas kawin satu aset apartemen mewah dan uang sebesar 5M dibayar tunai."


" Saya terima nikahnya Karina Permata Gunawan binti Gunawan Artomoro dengan mas kawin satu aset apartemen mewah dan uang 5M dibayar tunai."


"Bagaimana? Sah?"


Tetap terus pantengin cerita ini.


Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya


Jangan lupa komennya juga rate

__ADS_1


Kalau berkenan bantu vote dan hadiah


Bersambung


__ADS_2