
Langit pagi ini terlihat terang benderang. Terlihat cahayanya memantul ke jendela kamar. Tirai putih terlihat bergoyang menandakan angin pagi sangat kencang. Sosok wanita berdiri kokoh, tangannya terampil membenarkan apa yang dihadapannya. Tampak sosok lelaki yang sedang menanti wanita itu menyelesaikan pekerjaannya.
"Kan sudah rapi." Ucapnya sambil mengalihkan diri dengan kegiatan lain.
"Sayang, aku izin, ya. Aku antar mama Lia ke Bogor." Sahutnya sambil memeluk wanita yang sudah semalam menjadi istrinya.
"Kakak ... Bukan mama lagi ..." Wanita itu mengoreksi ucapan suaminya.
"Ah, Iya kakak. Kak Lia. Maklum aku belum terbiasa. Ya, udah kita sarapan dulu."
"Eh, Mas."
"Bisa kita bicara sebentar." Ina melabuhkan bokongnya di sudut ranjang. Kepalanya menunduk seakan berat membahas hal itu.
Alam menghampiri Ina seakan tahu ada kegelisahan di wajah istrinya. Tangannya menelusup ke tulang pipi.
"Ada apa, sayang? ceritalah. Apa kamu masih marah soal tadi malam. Aku minta maaf kalau itu sudah membuatmu kesakitan."
"Aku ... aku ... aku ingin kita menunda momongan. Aku ingin fokus kuliah, bukannya kita harus fokus soal kesehatan Shasa. Aku takut, jika suatu saat aku hamil, malah kuliah dan Shasa akan terabaikan. Jadi aku minta persetujuanmu untuk ... "
" Untuk apa?"
"Untuk memasang KB."
Alam membuang nafasnya dengan kasar. Hari pertama pernikahannya sudah di suguhi permintaan yang menurutnya sangat berat. Tapi sesekali tangan mengurut dada. Dia mencoba mengerti dengan ucapan istrinya.
"Na, Jodoh, maut, rezeki, hamil. Itu semua Allah yang mengatur sayang. Jika kamu tidak mau hamil nggak apa-apa, Tapi jika suatu saat Allah memberinya dalam kehidupan kita terimalah sebagai anugerah. Maaf, aku keberatan kamu memakai KB, itu justru semakin berbahaya.
Kamu masih muda, Na. Kejarlah apa yang ingin kamu kejar. Apa kamu mau di Jepang nanti kita pisah kamar? aku nggak apa-apa kok. Kamu bisa tidur bersama Shasa."
Ina menatap suaminya dengan perasaan tidak enak. Bukan dia tak mau jadi istri yang baik, tapi masa iya sedang kuliah tiba-tiba hamil. Bagi Ina, itu sangat menghambat, toh dia bisa fokus melimpahkan kasih sayang pada anak sambungnya.
"Yuk, kita ke meja makan mereka pasti sudah menunggu" Alam mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Di meja makan semua keluarga berkumpul. Ada dua keluarga yang tinggal disana. Keluarga Spencer sebagai pemilik rumah dan Keluarga Gunawan sebagai besan malah sekarang bukan besan tapi iparan. Meja makan yang luas sengaja di rancang Marni. Bobby sering kedatangan kolega kadang keluarga besar. Seperti saat ini, tampak dua keluarga yang saling akrab, tawa riang semua jadi satu. Ina bersama Alam memandang fenomena ini ketika keluar kamar. Meskipun kakinya sedikit lebih baik. Tapi tidak dengan cara berjalannya yang di rasa kurang nyaman.
"Senang, ya, mas. Lihat mereka akrab seperti itu. Coba dari dulu"
"Iya, sayang. Ada hikmahnya pernikahan kita bisa menyatukan dua keluarga yang perang kutub."
"Huft, perang kutub? Ada ada saja kamu."
"Tapi, benarkan? perang kutub yang dimulai ketika aku menyakiti perasaan Gita. Perang kutub yang kami picu karena keegoisan sebagai anak."
"Sayang, please yang lalu biarlah berlalu. Bukankah kamu sendiri yang bilang agar tidak mengingat hal yang bikin sedih. Aku janji tidak akan mengecewakan kamu, mas."
Tapi maafkan aku soal tadi masih jadi ketetapanku. batin Ina.
"Hai Gery, kamu kenapa kok wajahmu sembab?"
Gery hanya menyusut suara hidungnya.
"Oma Lia, Opa Dul, jika mama ada kesalahan Gery minta tolong dimaafkan." Gery bersujud di bawah di kaki Omanya.
"Kak Alam, Oma Ina, mama kecelakaan. Mobilnya tertabrak truk. Pak Yanto meninggal di tempat dan mama .. Mama sekarang kritis!" Gery tak dapat menahan air matanya ketika menceritakan keadaan mamanya.
"Innalillahi wa innalillahi rojiun." Ucap mereka bersamaan.
Alam kaget ketika mendengar pak Yanto meninggal dunia. Pak Yanto seorang ayah yang rela merantau demi menafkahi dua anaknya yang masih sekolah. Pengabdian pak Yanto yang bertahun-tahun mengabdi pak keluarga Gunawan patut di apresiasi. Meskipun dia sempat kecewa karena saat di usir, pak Yanto malah meminta pekerjaan pada Grace.
Begitupun dimata Dul dan Yulia, Pak Yanto sudah 20 tahun ikut dengan Opa Gunawan. Bukan sekedar supir, tapi sudah seperti keluarga sendiri. Dul pun tidak marah atau kecewa saat Yanto memilih ikut Grace saat itu. Mungkin karena tuntutan nafkah karena Yanto kepala keluarga.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" Titah Yulia diiyakan oleh semua yang dirumah.
"Gery antar kami ke rumah sakit dimana mama kamu di rawat.
Oh,Ya bagaimana dengan jenazah pak Yanto?"
__ADS_1
"Pak Yanto masih dirumah sakit yang sama,Opa. sekarang lagi diruang jenazah."
Mobil melaju ke rumah sakit dimana Grace dirawat. Seburuk-buruknya sikap Grace, sesakit-sakitnya perasaan Yulia pada Grace, dia tidak akan membencinya. Bagaimana pun Grace adalah keponakan sedarahnya.
Setiba di rumah sakit mereka disambut Maudy, Rio dan Yoshida. Maudy berhambur memeluk sang kakak dengan tangisan. Yulia berusaha menyabarkan adiknya yang masih syok.
Ketika melihat kondisi pak Yanto, Dul tak bisa menahan tangisnya. Airmatanya terus meleleh tanpa bisa ditahannya. Dul merasa kehilangan sosok yang sudah seperti teman baginya. Tubuh Yanto yang sudah tidak bisa dikenali lagi jasadnya. Tak bisa dia membayangkan bagaimana perasaan keluarga Yanto yang di kampung.
Di sudut ruangan lain, Yulia dan Maudy berdiri disebuah kaca. Dimana Grace terbaring berjuang melawan maut, Yulia tidak menyangka nasib ponakannya sangat tragis. Tampak Gilang duduk di sudut ruangan menahan tangis melihat keadaan mama angkatnya.
"BUUUG!" Sebuah kepalan menghantam perut Gilang. Tangan itu tak henti menghujam perut lelaki itu. Tampak si pemilik tangan tak hentinya melampiaskan kemarahannya pada Gilang.
"Bangun! Sejak kamu masuk ke keluarga kami mama berubah! Kamu tahu? Mama yang aku kenal sosok yang penyayang. Bukan yang seperti sekarang. Kalau terjadi sesuatu sama mama, kamu yang harus bertanggung jawab, Gilang! Brengsek!"
Gilang langsung memegang tubuhnya yang terasa sakit. Dia merasa tidak pernah merasa mempengaruhi Grace. Gilang sudah beberapa kali minta Grace tidak menyita kediaman Gunawan. Tapi yang di cegah sangat susah untuk di nasehati.
"Dengar, ya! Aku tidak pernah mempengaruhi mama. Dia melakukan itu untuk melindungi aset keluarga kita. Kamu lupa kalau perusahaan itu berasal dari Oma Samara bukan Opa Gunawan. Kamu harus tahu itu mama lakukan itu demi kamu!"
"Dia mamaku bukan mamamu! Kamu itu cuma asisten mama yang ketiban durian runtuh diangkat anak sama mama. Satu hal semenjak mama mengangkat kamu jadi anak, banyak sekali masalah di keluarga.
Dan jangan kamu bilang saya tidak tahu kalau kamu yang korupsi di kantor. Makanya usaha snack mama pailit." Amuk Gery.
"Apa buktinya kalau aku korupsi. Jangan fitnah kamu!"
"Aku punya buktinya dan sudah aku serahkan ke pihak berwajib. Oh, ya kak Alam sewaktu kakak ditangkap karena membawa lari Ina, dia pernah mencoba melecehkan Ina. Tapi gagal karena ada keanehan di kamar onty Gita. aku rasa onty Gita tidak terima dengan kelakuan Gilang pada Oma Ina."
BUUUUUGH!
Alam langsung melayangkan bogem mentah ke perut dan wajah Gilang.
"Tadinya aku masih bisa bersabar sama kamu, Lang! Kamu itu sahabatku sewaktu kuliah di seoul. Kamu memang tidak ingat aku karena wajahku berubah. Tapi aku masih ingat sama kamu, Lang. Aku Ronal! Temanmu! Tapi sekarang kita bukan teman lagi, Lang. Bagiku kamu itu kuman yang perlu dibasmi."
Beberapa orang berseragam coklat datang menghampiri Gilang.
__ADS_1
"Saudara Gilang, anda kami tahan atas dugaan korupsi pada usaha milik ibu Grace dan sabotase kendaraan milik ibu Grace."