Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
66. Ide Bobby


__ADS_3

Jakarta merupakan ibukota negara Indonesia. Kota yang menjadi tumpuan mengadu nasib bagi penduduk Indonesia. Kota yang merupakan jantung perekonomian negara. Aktivitas pagi ini disuguhi dengan beberapa pedagang makanan yang menjajakan bawaannya.


Seperti yang ditemui Ina saat turun dari angkot. Seorang ibu tua yang membawa jualannya didepan pintu kantor Spencer corporation.


Ina sengaja tidak mau naik mobil karena takut identitasnya ketahuan. Kalau seandainya ketahuan sudah pasti Ina akan jadi omongan lagi. Sejak Alam mulai mencuekinya lagi, Ina tidak pernah menginjakkan kakinya diruangan lelaki itu. Walaupun dia ingin bermain bersama Shasa lagi.


Ibu tersebut diusir oleh satpam kantor. Ina yang melihat hal itu tentu saja kesal. Langkahnya mendekati si Ibu tersebut.


"Pak, jangan kasar sama orangtua?" Omel Ina.


"Maaf, neng. Ibu ini berjualan didepan kantor. Nanti mengganggu aktivitas kantor." Jawab pak satpam.


Pak satpam sebenarnya tidak tega mengusir si ibu jualan. Tapi dia juga takut dimarahi atasannya.


"Ada apa ini?" Sebuah suara mengagetkan orang-orang disekitar tempat kejadian.


Ina menunduk saat melihat siapa yang datang. Lelaki itu pun tersenyum melihat Ina. Tangannya membelai rambut Ina.


"Ini, Om eh maaf bapak. Ibu ini diusir karena jualan disini. Tapi cara mengusirnya kasar sekali." Adu Ina.


"Apa benar itu!" Matanya beralih ke lelaki berseragam putih didepannya.


Pak Satpam hanya menunduk malu. Matanya melirik kearah Ina, terbersit kekesalan pada gadis itu.


"Maaf, Tuan. Saya hanya menjalankan tugas."


Lelaki menatap si ibu dengan tersenyum "Bu, maafkan anak buah saya. Kalau boleh tahu ibu jualan apa?"


Si ibu hanya memberikan bahasa isyarat. Ina akhirnya paham kalau ibu penjual makanan itu tidak bisa bicara.

__ADS_1


"Maaf, pak. Si ibu bisu. Ini jualannya gado-gado dan gorengan." Ina mengartikan bahasa isyarat si ibu penjual.


"Bu, dagangan ibu saya beli semua." Ucap lelaki itu memberikan uang warna merah.


Si ibu hanya memutar lima jari menandakan menolak uang yang lebih banyak dari jualannya. Ina kembali mengartikan kalau ibu merasa duitnya terlalu banyak.


"Kamu hebat, Ina. Bisa paham bahasa ibu tadi."Puji Bobby pemilik Spencer corporation.


Ina hanya tersenyum simpul. Dulu saat kecil, dia sering menginap dirumah sakit. Bertemu anak-anak tunarungu, anak-anak pengidap kanker. Kadang Ina iri pada mereka. Walaupun penyakit mereka berat, tapi tak menyurutkan semangat anak-anak itu.


"Ada berita heboh!" Nofi yang super heboh datang sambil memekik di telinga para office girl.


Ina yang baru sampai ke ruangan mencoba mendengar dari sudut lain.


"Apa sih!" Arthi sedikit risih dengan kehebohan yang dilakukan teman seprofesinya.


Arthi yang mendengar cerita Nofi tertawa kencang.


"Istri pak Ronal namanya Gita. Bukan Karina, Nofi!"


Ucapan Arthi disambut tawa semua yang ada diruang, membuat wanita itu merah padam. Nofi berbalik melihat Ina sudah berdiri didepannya. Ada rasa tidak enak karena orang dibicarakan mendengar ucapannya.


"Na, maaf, ya. Tadi aku sudah membicarakanmu. Bukan maksud menyebarkan gosip jelek tentangmu. Tapi kami cukup kaget melihat kemiripan wajah kalian."


Ina tersenyum kecil. Saat ini dia mencoba positif thinking dengan semua yang di hadapinya.


"Nggak papa, kak Nofi. Aku maklum sama wajahku yang pasaran ini. Oh, ya apa yang harus aku kerjakan hari ini?" Ina bingung karena belum ada intruksi apa-apa.


"Belum ada kayaknya. Oh ya kamu antarkan ini ke ruangan pak Reza, ya. Tadi dia nitip ini sama aku. Cuma aku harus ke lantai atas dulu."

__ADS_1


"Ruangan pak Reza dimana?"


"Lurus dua pintu dari tempat pak Ronal." Sahut Nofi sambil berjalan masuk lift.


Ina langsung berjalan ke ruangan Reza. Langkahnya melewati ruangan Ronal. Dari kaca pintu terlihat Bobby dan Ronal sedang berbicara serius. Tapi bukan itu yang ingin dia lihat. Dia hanya ingin mengecek apakah Shasa ada diruangan lelaki itu.


"Sepertinya Shasa tidak ada disini. Kenapa aku merindukan anak itu, ya? apa karena dia cucuku? entahlah, aku takut Angel tidak bisa menjaganya dengan baik. Aku tahu Angel tidak suka anak kecil. Sejak Shasa tinggal sama Omanya rumah jadi sepi?"


"Kangen Shasa apa papanya?" Ina tidak sadar ada yang mengajaknya bicara.


"Shasalah. Ngapain juga aku kangen papanya, nggak penting! Lagian tuh orang aneh, ya. Tadi baik, katanya nggak mau ribut lagi, eh sekarang dia malah kumat PMS nya. Dasar..." Ina menyadari ada yang mengajaknya bicara. Kepalanya menoleh kearah suara.


"Om ... eh bapak ..." Ina merasa tidak punya muka setelah membicarakan soal Alam.


"Kebetulan. Karina, Om mau minta bantuan sama kamu?" Bobby mengajak Ina masuk kedalam ruang kerja Alam "Duduk" Bobby mempersilahkan Ina duduk.


"Ada yang bisa saya bantu,om?"


"Ina, tadi om lihat kamu pintar berkomunikasi dengan penyandang disabilitas seperti ibu tadi. Perusahaan kami berencana mengadakan beasiswa untuk anak-anak disabilitas. Om, mau kamu jadi guide untuk anak tunarungu."


"Kapan om acaranya?"


"Nanti malam gedung kesenian Jakarta."


"Oh, saya sendiri, om."


Bobby tersenyum kecil "Kalian berdua yang berangkat."


Ina dan Alam saling menoleh "Apa! Berdua!" mereka cukup kaget dengan ide Bobby. Alam dan Ina saling melempar tatapan sinis.

__ADS_1


__ADS_2