Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
127. Malam pergantian tahun 2


__ADS_3

Masih di malam pergantian tahun.


Dua pasang mata saling bertatapan lekat. Pandangan mereka beralih ke langit menatap kembang api yang masih menyemburkan sinarnya. Masih dalam posisi memeluk pinggang, sesekali mengecup kening gadisnya.


Mereka menunggu datangnya pagi.


Kembali keduanya memandang langit, Alam pun menyeka wajahnya yang muIai basah. Entah kenapa tersibak rasa rindu didadanya.


"Yang, jika kamu melihat dari atas sana. Apakah kamu merestui kami? Bukankah dia gadis yang kamu maksud?" Ucap Alam masih memandang langit.


Ina bingung melihat ucapan Alam. Pandangannya beralih ke lelaki disampingnya.


"Kamu tahu, Na. Dulu saat kami merasa gundah gulana jendela yang menjadi saksinya. Aku pernah saat kami dipingit menyelinap ke jendela cuma untuk melepas rindu. Bahkan saat kami sedang berjauhan aku selalu minta Gita memandang langit."


Ina mengendurkan pelukannya, entah kenapa dia tidak suka Alam membahas tentang Gita. Mungkin ini yang disebut cemburu.


"Bukankah kamu sudah berjanjj tidak akan membahas soal Gita saat bersamaku. Tapi kenapa masih kamu lakukan, Lam. Gita sudah meninggal dan aku yang didepanmu yang masih hidup." Protes Ina.


"Maaf, aku hanya minta izin agar Gita merestui kita."


Ina mendengus kesal. Baginya sangat konyol meminta restu pada orang yang sudah meninggal. Tubuhnya melepaskan diri dari dekapan Alam. Tak lama sudah duduk manis dikursi dekat ranjang rumah sakit.


"Maaf, sayang." Langkah Alam masih terlihat hati-hati. Karena sebenarnya tubuhnya belum bisa benar-benar bangun.


Tadi, saat dia membuka mata, sosok Ina yang sudah ada di hadapan membuatnya lupa dengan kondisinya. Seakan ingin memberi kejutan pelan-pelan Alam berjalan mendekati gadisnya. Kerinduan yang belum sempat dia luapkan kini terbayar lunas.


Alam membungkukkan tubuhnya di hadapan Ina. Menggenggam erat kedua tangan kekasihnya. Seakan meyakinkan kalau saat ini hanya Ina yang bernaung dihatinya. Tampak Ina memang masih enggan menerima permintaan maaf Alam. Tapi lelaki tidak menyerah, walaupun dia dengan terpaksa mengiyakan permintaan Ina untuk tidak membahas Gita.


"Aku cuma mau jadi yang nomor satu buat kamu, Lam. Aku nggak mau dianggap sekedar pengganti saja." Keluh Ina.


"Iya, Insyaallah, Na. Kamu memang akan jadi yang utama buat Aku dan juga Shasa." Bujuk Alam.

__ADS_1


Aku yakin akan tetap jadi nomor dua dimata Alam. Apalagi ada Shasa..Ah, tidak Ina pikiran macam apa ini? Yang namanya orangtua pasti memprioritaskan anaknya. Tapi ... aku masih belum bisa menerima Alam membahas soal Gita. Batin Ina.


Aku harus bagaimana meyakinkan Ina agar dia tidak cemburu lagi pada Gita. Aku hanya ingin dia berterimakasih pada Gita karena jantungnya adalah milik Gita. tapi kenapa mulutku terkunci saat aku ingin menjelaskan semua ini. Batin Alam.


Beberapa jam kemudian langit sudah berganti peran. Sang surya sudah menunjukan keeksisannya. Ina menggeliat melihat jendela dengan tembusan cahaya matahari. Tubuhnya berbalik melihat lelaki disampingnya masih terlelap. Tangannya malah melingkar dipinggang Alam, dan kepalanya sudah berada di bahu lelaki itu.


"Morning, sayang" Bisiknya.


"Hmmm..." Alam mengeratkan tangannya ke pinggang Ina. Mereka saling memandang dan melempar senyuman. Tak lama kecupan mendarat di kening gadis itu.


"Kamu tenang aja, Na. Semalam kita nggak aneh-aneh kok. Cuma kayak gini aja." ucap Alam meyakinkan Ina. Karena memang mereka hanya tidur saja, tidak lebih. Ina membalas dengan senyuman, toh dia tidak melihat perubahan pakaiannya. Dia pun tidak merasa kondisi tubuh sakit atau apapun.


Cup!


Ina bangkit dari ranjang rumah sakit, lalu masuk kamar mandi untuk cuci muka. Lama dia menatap diri didepan kaca wastafel. Seakan mencoba berpikir apakah mereka melakukan hal aneh semalam. Tapi lagi-lagi Ina menepis karena memang tidak ada yang aneh.


"Aku cuma takut jika nanti Alam mengajakku menikah. Aku belum mau menikah! Aku masih ingin mengejar cita-cita." Keluhnya dalam hati.


Ketika hendak keluar kamar mandi. Ina mendengar suara para tamu yang menengok Alam. Dari suaranya terdengar kalau yang datang adalah keluarga kekasihnya. Bergegas Ina keluar dari kamar mandi. Semua orang menatap bergantian kearah mereka. Ina hanya bisa tersenyum kecut saat Marni menatapnya penuh selidik. Entah kenapa dia merasa Marni tak seramah dulu lagi. Ina pun menunduk sesekali menjelit kearah kekasihnya.


"Bisa, tante." Jawab Ina gugup.


"Oke, kamu tunggu tante di lantai bawah." Jawab Marni tegas.


Ina hanya mengangguk kecil. Jantung berdebar kencang, seakan meyakini akan ada hal yang tak enak. Tapi buru-buru dia menepis kecurigaaannya. Tak terasa dia sudah berada di lantai dasar rumah sakit. Ina memegang perutnya yang sudah berdemo. Langkahnya pun sudah berlabuh di sebuah kantin rumah sakit.


"Na." Sebuah suara menyapanya. Ina mempersilahkan tamunya duduk didekatnya.


"Na, tante tahu kamu mencintai Alam. Tante juga tahu kalau Alam juga mencintaimu. Hanya saja.." Marni menghentikan ucapannya. Kepalanya menunduk seakan ada beban berat yang dirangkulnya.


"Kenapa tante? Tante tidak setuju dengan hubungan kami?"

__ADS_1


"Maaf, Na. Tante tidak mau berurusan lagi dengan kakakmu. Tante capek dicurigai terus menerus sama Yulia. Sekuat apapun kalian berjuang, Yulia tidak akan pernah merestui kalian. Tante mohon lepaskan Alam, biarkan dia bahagia dengan kehidupannya seperti sebelum kamu hadir di hidupnya."


Ina tersenyum kecut, sesekali dia tertawa mendengar ungkapan Marni. Bukankah kalau dia dan Alam berjuang lebih keras lagi kakaknya pasti merestuinya.


"Tante takut sama kak Lia bukan karena saya 'kan. Tapi tante takut hak asuh Shasa jatuh ke kami. Iya, kan. Dengan alasan kebahagian Alam gitu! ckckckckckk. Kalian egois!"


"Bukan begitu maksudnya, Na. Tante cuma ingin Alam hidup tenang dan bahagia, itu saja. Nggak ada hubungannya sama Shasa!" Marni masih berusaha sopan pada kekasih putranya.


"Ada, tante. Bukankah tante sendiri yang mengancam Gita supaya hak asuh Shasa jatuh ke tangan kalian. Sampai tante memaksa Gita meninggalkan Alam. Kalau Alam tahu yang sebenarnya bagaimana? Aku yakin dia akan marah sekali sama tante. Aku bukan Gita, yang gampang ditekan oleh orang seperti anda."


"Kamu mengancam saya!" Berang Marni. Ina hanya tersenyum remeh, dia melihat Marni seperti pucat saat membahas soal hak asuh Shasa.


"Saya rasa sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, tante. Tapi saya dan Alam tidak akan menyerah begitu saja. Kami akan tetap berjuang mempertahankan cinta kami." Ina pergi meninggalkan Marni sendirian di cafe.


"Waitres!" Panggil Ina.


"Yes can I help you?( Ya, ada yang bisa saya bantu?)"


"Will you ask the woman for payment later? (Nanti minta pembayaran ke wanita itu?)" Ina menunjuk Marni yang masih diduduk.


"Oke (Baik)"


Ina pulang ke Apartemen. Sampai disana dia melihat Shasa dan Mbak Diah sedang asyik bermain. Shasa memanggil Ina tapi ekspresi Ina membuat Shasa takut.


Mbak Diah menyapa Ina, tapi karena masih kesal dengan sikap Marni, Ina pun mengabaikan sapaan Diah. Gebrakan pintu yang kencang membuat Shasa ketakutan. Mbak Diah hanya menggeleng kepala melihat sikap Ina.


Tak lama Ina sudah membersihkan diri, gadis itu keluar kamar. Shasa mendekati Mbak Diah karena takut melihat Ina.


"Maaf, nak. Tadi tante lagi kesal jadi kebawa sampai dirumah." Ina meminta maaf pada Shasa.


" Bak iyah..Uang, yuk. Ca au ama yayah." Shasa kembali merengek pada Mbak nya.

__ADS_1


"Maaf Non Ina, sikap non tadi membuat Shasa takut. Saya akan bawa Shasa pulang dulu ke rumah sakit. Kebetulan ibu Yulia dan pak Dul sudah berangkat dari tadi. Non kalau ada masalah itu urusan anda, tapi ingat non anak sekecil Shasa biasanya otaknya akan membekas sampai dia besar. Bukannya non Ina sekarang kekasih pak Ronal! Jangan sampai sikap anda barusan menjadi bomerang untuk hubungan kalian. Maaf non, saya pamit membawa Shasa ke rumah sakit." Mbak Diah meninggalkan Ina yang terdiam mendengar ucapan pengasuh itu.


Apa yang harus aku lakukan sekarang!


__ADS_2