Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
51. Keadilan untuk Ina 2


__ADS_3

Flashback on


Assalamualaikum


Sapaan itu terdengar disebuah ruangan tata usaha fakultas llmu sosial dan ilmu politik. Seorang wanita paruh baya muncul ditengah para staf yang sedang berbincang santai. Salah satu dari mempersilahkan wanita itu masuk ruangan mereka.


"Ada yang bisa saya bantu, bu?" Sapa salah satu staf TU kampus.


"Saya mau bertemu ibu Ramida." Jawabnya.


"Oh, beliau lagi mengajar. Ibu kalau mau tunggu duduk disana saja." Kata staf tersebut yang menuntun tamu itu ke sofa ruangan TU.


Dia adalah Yulia. Wanita itu ingin minta keadilan untuk adiknya. Disandarkan tubuhnya ke sofa busa tersebut. Matanya melihat di sekeliling ruangan. Sesekali Yulia membuka gawai, membaca info berita dari aplikasi.


Beberapa saat kemudian yang ditunggu muncul. Yulia melihat sosok Ramida memang rada angkuh. Tak ada keramahan saat menyambut kedatangan dirinya.


"Silahkan, bu. Ada yang bisa saya bantu?" Sapanya datar.


"Oke, bu. Saya Yulia Gunawan, walinya Karina pertama Gunawan."


Oooo ... jadi dia istri tuanya mantan suami Kania. Cantik, sepertinya baik, saking baiknya dia mau menampung anak siri suaminya.


"Jadi ada urusan apa anda mencari saya?"


"Begini, saya dapat laporan masalah yang menimpa adik saya."


"Adik? Jadi Karina adik anda."


"Iya, bu. Saya ingin tahu apa masalah adik saya, sampai dia terancam berhenti kuliah."


"Apakah anda tahu kelakuan adik anda diluar sana? dimana dia memiliki image Ayam kampus, datang dan pergi ke kampus dengan lelaki berbeda."

__ADS_1


Yulia mengerutkan dahinya. Dia rasanya mau tertawa saat mendengar tuduhan Ramida.


"Lalu hubungannya dengan kegiatan belajar dikampus apa, ya? Dia pergi dan datang dengan lelaki juga tidak mengganggu proses belajar. Lagian apa buktinya adik saya seperti yang anda butuhkan."


Ramida menyerahkan beberapa photo Ina dengan lelaki yang berbeda. Yulia langsung tertawa saat melihat photo tersebut.


"Anda tahu ini siapa, Ini adalah suami saya ( photo 1), ini menantu saya ( Photo kedua), Ini supir saya (photo ketiga) dan Ini adalah ( Kakaknya Ina). Jadi apakah ini bukti kalau adik saya seperti itu. Hahhahaha .. anda dosenkan, seorang dosen punya daya pikir panjang.Tapi anda malah kebalikannya." Yulia menggeleng-geleng saat melihat sosok Ramida masih santai walaupun sudah terpojok.


"Tapi apakah anda tahu, bagaimana kelakuan mamanya Ina. Dia seorang murahan, simpanan om tua yang katanya papanya Ina. Benarkan?" ucap Ramida yang yakin Yulia akan kehabisan kata.


"Simpanan? Dengar,ya. Papa saya menikah dengan Kania itu sah. Bukan siri atau simpanan, saya tidak tahu anda ada masalah apa dengan Kania. Tapi yang jika memang anda memfitnah adik saya hanya karena masalah pribadi. Anda sungguh tidak profesional. Saya pamit, saya harap anda memikirkan lagi apa sudah anda lakukan. Tapi kalau tidak ada penindakan dari kampus ini, saya tidak segan-segan melaporkan kampus ini atas pencemaran nama baik." Yulia meninggalkan ruang TU sekaligus ruang ketua jurusan yaitu Ramida.


Yulia duduk di pelataran parkir kampus sambil menunggu Laras. Laras ingin bertemu Ina, menguatkan sahabatnya yang masih mogok kuliah.


Laras mendekati Yulia tapi tertahan saat mendapat telepon. Seketika wajahnya pucat, lalu membalikkan tubuhnya masuk ke ruang ketua jurusan.


[Kak, aku jalan sama kak Rangga, ya? Bolehkan?]


"Lam, kalau lewat jam sembilan Ina belum pulang. Kamu susul dia. Kamu sudah cari tahu soal pacarnya Ina itu."


"iya, ma. Kalau soal lelaki itu masih dalam penyelidikan. Mama tenang saja, mama lagi dimana? Aku ada sedikit informasi soal masalah Ina dikampus."


"Coba katakan, Lam."


"Kita bahas dirumah saja, ma. Lebih leluasa."


"Oke, kita ketemu dirumah. Mama tutup dulu, ya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Telepon pun ditutup.


Yulia memilih menelpon suaminya untuk menjemput ke kampus Universitas indonesia.

__ADS_1


Flashback off


Ina terbangun menatap cahaya matahari yang terik. Cahaya yang menyilaukan pandangannya. Matanya berputar pada tubuhnya yang berbalut selimut tebal. Aroma khas pohon jati menjadi penciuman pertama saat dirinya bangun.


"Sudah bangun, na."


Rangga berdiri membawa secangkir susu sereal untuk Ina. Mereka duduk berdua sambil bertengger di jendela rumah pohon.


"Kita menginap, ya." tanya Ina disambut anggukan Rangga."Tapi kita nggak aneh-aneh, kan?"


"Kamu semalam keren banget, na. Aku sampai kewalahan ngadepin kamu." Ucap Rangga sambil mengecup kening Ina.


"Jadi kita?" Ina memeriksa tubuhnya, tapi tidak ada yang aneh.


Rangga tertawa keras "Jadi kamu percaya? kalau kita cuma berdua mungkin bisa. Tapi kita saat ini sedang bertiga."


Ina mengerutkan dahinya "Bertiga?" Rangga mengangguk lagi lalu menunjuk kebawah. Wajah Ina langsung berubah kesal saat melihat sosok itu sedang duduk sambil menikmati minuman hangat.


Kakinya melangkah turun mendekati lelaki itu.


"Bisa nggak, kamu sekali saja tidak ikut campur urusan aku. Emang kamu nggak ada kerjaan lain selain membututi aku."


"Na."


"Apa! mau ngatain apalagi! bilang aja nggak usah takut. Kamu pikir saya akan diam terus." Ina mulai nyolot


"Ina, sudah. Dia kesini juga disuruh kakak kamu. Mungkin kakak kamu khawatir, makanya dia mengutus orang kesini." Rangga mencoba meredam emosi Ina.


"Bohong! aku bahkan sudah minta izin sama kak Lia.Dianya aja tuh yang cari alasan bawa nama kak Lia, kenapa? Kamu senang, ya berantem sama aku. Suka cari keributan!" Ina masih emosi walaupun dadanya mulai terasa sakit.


Ina berjalan kembali keatas rumah pohon. Saat menaiki tangga ketiga dadanya mulai terasa sesak. Dia mulai merasakan gelap. Tak lama pegangannya lepas, sayup-sayup Ina mendengar suara memanggil namanya, tapi bukan suara Rangga.

__ADS_1


__ADS_2