Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
43. Tanpa kepastian


__ADS_3

"Ga, apa yang mau lakukan sekarang?"


"Mencari ina"


"Jadi kamu tidak tahu dia dimana?"


Rangga menggeleng "Sejak mama Kania meninggal, rumah ina sudah kosong."


Aku rasa aku bisa bantu dia "Aku tahu Ina dimana?"


"Bener, Jihan!"


Aku melihat wajahnya berbinar saat kukatakan keberadaan Ina. Kelihatan dia sayang banget sama Ina.


"Dimana?"


"Besok kita kesana, gimana?" Lelaki itu menggangguk.


"Ji, aku dengar kamu lagi dekat dengan anak om hermawan, ya"


Deg! Aku sudah lama tidak mendengar kabar kak Jo.


"Nggak kok cuma teman biasa aja. kenapa?"


"Aku mohon hati-hati ya.Kamu tahukan kalau om Alex dan Papa tiriku terlibat dalam ambil alih perusahaan om Hermawan. Aku takut dia punya maksud tertentu."


Aku hanya bisa menghela nafas panjang. Bukan satu dua orang yang bilang begitu, tapi sudah banyak. Aku bersyukur punya keluarga dan sahabat yang masih biasa mengingatkan aku.


Ngomong-ngomong soal kak Jo, dia apa kabarnya, ya. Sejak terakhir pergi ke nikahan Siti, aku tidak pernah melihatnya. Waktu pulang pun aku juga tidak bertemu dengannya, malah Akbar yang mengantarku pulang.


Aaahhh, lega sih karena nggak dibuntuti lagi.


"Yuk, kita pulang" Rangga menggandeng tanganku.


Kami berjalan memasuki mobil. Rangga sesekali tersenyum padaku, Ina kamu beruntung jika mendapatkan lelaki seperti Rangga. Ketimbang Ina sama Dodo.

__ADS_1


POV author


Pagi ini jihan ada rapat penting tanpa sempat sarapan dia berlari ke mobil. Papa Alex mengingatkan ada sekretaris baru untuk jihan. Jihan mengiyakan sambil berlalu dari hadapan papanya.


Dia takut papanya membicarakan soal pernikahannya dengan Rangga. Karena Rangga sudah membatalkan rencana pernikahan mereka. Hanya saja, Rangga belum membicarakan hal ini.


Mobil Jiham melaju kearah kantor. Sekarang yang mengurus perusahaan adalah Jihan. Papa Alex hanya mengawasi melalui daring. Tampak Rangga sudah menunggu di depan mobilnya. Lalu menggandeng Jihan masuk ke kantor.


"Wah, mereka serasi ya?" Bisik para staf saat melihat Jihan dan Rangga berjalan menuju ruang rapat.


Jihan hanya tersenyum kecut. Karena yang mereka puji-puji hanya semu semata. Tidak ada rencana pernikahan, tidak ada pasangan serasi dan jihan hanya bisa meratapi bahwa dirinya akan menjadi gadis tua.


Semalam setelah bicara dengan Rangga, jihan menangis di kamar. Bukan soal pembatalan tapi soal statusnya yang belum menikah. Pastinya dia akan malu untuk ikut kumpul dengan temannya.


Lamunannya buyar saat benda pipih ditangannya bergetar. Tatapannya terlihat kecut saat tahu siapa yang menelponnnya.


"Jihaaaaan!"


"Iya Clara, Ada apa?"


"Maaf Clara hari aku full schedule. Nanti sore aku juga ada janjian sama Rangga."


"Ciyeeee yang sudah move on dari ilham. Katanya tadi malam kamu pertemuan keluarga, ya? Gimana hasilnya? Kapan kalian menikah?" Cerca Clara.


Jihan tersenyum kecut saat mendengar ucapan sahabat. Rasanya tidak etis kalau dia menceritakan di telepon.


"Malam minggu kamu nginap dirumah, ya clara." Ajak Jihan.


"Kenapa harus malam minggu? kan pastinya kamu lagi sama Rangga?"


"Pokoknya aku tunggu dirumah pas malam minggu. Udah dulu Clara aku sudah sampai kantor.


Sampai di kantor jihan mulai memasuki ruang rapat dibukakan pintu oleh Rangga. Jihan tersenyum saat Rangga juga memapahnya untuk duduk. Banyak tatapan indah yang ditujukan untuk kedua. Walaupun yang sebenarnya tak seperti kenyataan.


Ji."

__ADS_1


Panggilan Rangga membuyarkan lamunannya. Semua staf di ruang rapat ternyata menunggu dirinya untuk membuka rapat.


Helaan nafas panjang terdengar dari wanita itu. Jihan memulai rapat dengan lancar. Rangga tersenyum melihat kinerja Jihan.


"Ji, aku ada urusan. Nanti sore jadikan menemui Ina." Tagih Rangga.


"Insyaallah, ya, ga. Nanti aku kabari lagi. "


Rangga berlalu dari hadapan Jihan. Lama Jihan menatap punggung lelaki itu. Sekarang dia terkepung dengan hubungan palsunya bersama Rangga.


klik


"Ga, apakah kamu sudah bicara pada keluargamu?" Tanya Jihan saat mereka bersiap-siap menemui Ina di kediaman Gunawan.


"Kamu sabar dulu, Ji. Aku pasti akan bicara pada mereka. Aku mau ungkapin perasaan pada Ina. Nanti kalau diterima, aku akan menemui mereka membicarakan tentang perjodohan ini. Tapi kamu sudah ngomong sama Om Alex."


Jihan memalingkan wajahnya menatap kaca mobil. Belum kelang dari ingatannya bagaimana papanya menentang pembatalan perjodohan itu.


"Ji." Panggilan Rangga sukses membuyarkan lamunannya.


Jihan hanya membalas senyuman kecut terbayang kejadian tadi malam. Bagaimana Akbar menyatakan perasaannya. Tapi dia bisa apa? Dia hanya anak yang diatur garis hidupnya oleh orangtuanya.


"Aku harap kamu benar-benar menepati janji, Ga. Capek begini terus, aku nggak mau ada yang berkembang lagi dihatiku. Aku cukup tahu diri kalau kamu nggak pernah punya perasaan apapun. Semoga kamu tidak menggantung permasalahan ini tanpa kepastian. Di gantung itu nggak enak, Ga."


"Ji. Antarkan aku ke daerah Cibubur dulu. Nanti kamu jemput Ina, sedangkan aku menunggu dirumah pohon. Tempat berlindung saat Ina masih kecil."


Jihan menatap Rangga dengan sedikit takjub. Lelaki disamping tetap bersikap santai setelah semua yang terjadi. Tubuhnya yang bak gitar spanyol disenderkan pada kursi mobil. Sekelebat rasa kesal menghinggap dihatinya, susah payah dia bermaksud membantu, sekarang malah seperti sopir gojek.


"Ga, aku cuma ngantar kamu ke rumah Gita, lo. Bukan untuk jadi kurir perjodohan. Kamu harusnya yang mengantar Ina."


Cup!


"RAANGGAAAAAA!"


Jihan memukul lengan Rangga, tetapi lelaki hanya tertawa mendengar amukan Jihan.

__ADS_1


"Please Ji. Aku cuma bisa ngandalin kamu saat ini. toh kalau aku udah jadian sama Ina kan kamu yang senang juga. Jadi tidak ada yang minta perjodohan kita lagi."


__ADS_2