
1 bulan kemudian
Kabar kelahiran anak kembar Ilham pun tersebar di WA chat keluarga. Bukan kabar kelahiran saja, tapi Siti yang sudah sadar sejak koma sehabis melahirkan menjadi pelengkap. Siapa sangka Siti yang hampir dinyatakan meninggal terbangun dengan selamat.
Saat ini banyak keluarga besar Ilham berkumpul di ruang rawat istrinya Ilham. Dul dan Yulia beserta Ina datang menjenguk orangtua baru tersebut.
Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" jawab yang lain.
Yulia dan Dul muncul membawa kado besar untuk cucu kembarnya. Sebagian para tamu sudah pulang seperti mama Fatimah dan Papa Adolf yang harus kembali ke kantor. Begitupun keluarga besar Wijaya, hanya mama Mila yang masih dirumah sakit.
"Mama, papa, cuma berdua disini ... Terus Sasha sama siapa?" Tanya Alam saat melihat mertuanya datang.
"Ada kok sama..."
"Assalamualaikum..." Sosok gadis masuk ke dalam ruang rawat Siti.
Ibu Aisyah dan Edwar terdiam melihat siapa yang datang. Seketika ibu mendekati gadis itu lalu memeluknya dengan erat. Sebuah kerinduan pada pemilik wajah gadis itu.
"Kalian pasti mengira dia Gita, kan. Ibu Aisyah, Edwar ... Ini Karina, adikku beda Ibu. Ina salam sama ibu Aisyah, ibu angkatnya Gita. Ini Shasa, putri Alam dan Gita, usianya satu tahun.
Alam memandang suasana itu dengan rasa haru. Apalagi sebentar lagi Ina akan kuliah di jepang. Matanya tak lepas dari gadis yang mulai memenuhi relung hatinya.
Edwar menyikut tangan Alam. Dia tahu arah tatapan sahabatnya kemana "Jangan dipandang aja. Deketin? Nanti diembat orang lagi."
"Apaan, sih!" Alam risih dengan godaan Edwar.
"War, aku dengar Dinda hamil lagi?" Alam membuka percakapan.
"Iya, sudah masuk lima bulan." Jawab Edwar.
"Tokcer kamu, war." Alam menepuk pundak sahabatnya.
"Iyalah, dari dulu gue tokcer. Istri dikasih tanpa pacaran, anak malah mau tiga. Banyak anak banyak rezeki, Lam."
Alam menjelit kearah Edwar "Maksudnya apa nih? Pamer? Eh, harusnya kamu berterimakasih sama aku, War. Kalau aku nggak salah sebut nama pasti Dinda sudah jadi istriku."
"Padahal emang sengaja kamu buat seperti itu supaya pernikahan kamu batal. Kamu kan nggak cinta sama Dinda. Tadinya kalau kamu seandainya yang beneran nikah sama Dinda, aku yang mau nyusul Gita ke jakarta."
Pletak!
Semua yang ada diruangan tertawa melihat celotehan duo sahabat tersebut.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam."
__ADS_1
Semua diruangan menoleh pada sosok wanita berhijab diikuti dengan seorang pria.
"Sheila." sahut Siti.
Keduanya langsung saling memeluk melepas rindu. Sheila yang sudah dianggap Siti seperti adiknya sendiri.
"Andi?" Sahut Ina mengenal lelaki yang datang bersama Sheila.
"Hey, Chubby ... kamu disini rupanya." Ina menggaruk kepalanya saat Andi memanggil ejekan masa kecilnya.
"Please jangan panggil itu, disini." Bisik Ina.
"Miane..." Andi tersenyum simpul melihat temannya malu dengan julukannya.
"Ini bukannya pacar kamu yang ...." Ilham mengingat sosok lelaki yang datang bersama Sheila.
"Berdua aja, la."
"Aku sama Andi naik motor. Kak jo sama Istri bentar lagi nyusul."
"Istri???" Sahut mereka bersamaan.
Sungguh berita yang mengejutkan bagi mereka. Sebab tak ada kabar tentang siapa gadis yang sedang dekat dengan Jonathan. Hari ini kabar tentang pernikahan Jonathan menghebohkan satu ruangan.
"Beneran?" Jawab Alam masih tidak percaya.
"Hahahhahaa... kau kalah, lam. Makanya cari." Ejek Edwar.
"Karena disini cuma kamu yang jomblo." Balas Edwar.
Alam hanya mencibir ucapan sahabatnya. Dia tak terlalu panas saat diledek jomblo, karena dia pun sudah pernah menikah. Tangannya melirik jam tangan menandakan ada jadwal lain diluar.
"Ma, aku ada rapat hari ini. Aku duluan, ma titip Sasha, ya."
"Lam, aku boleh nebeng." Ucap Ina.
"Mau kemana?"
"Ke pusat rehabilitasi, Lam. Ada seseorang yang akan kutemui disana sebelum aku berangkat ke Jepang."
"Ehmmm, anterin tuh." Ledek Edwar.
Yulia memasang wajah tidaksuka "Na, biar pak sopir aja yang mengantarmu." Ucap Yulia.
"Iya, kak". Ina menurut saja saat Ilham mengantarkan Ina sampai pintu masuk rumah sakit.
"Terimakasih, Na. Kamu mau menemui Dodo, aku harap kamu mau memaafkan dia."
__ADS_1
"Iya, kak Ilham." Ina hilang dengan masuk dalam mobil. Namun didalam mobil Ina melihat Jihan sampai dirumah sakit.
Itu kak Jihan kok sama laki laki lain, ya. Bukannya kak Jihan nikah sama kak Rangga. Ah, tidak beres ini, kak Jihan pasti selingkuh dibelakang kak Rangga.
Ina yang tadinya berencana menjenguk Dodo. Mengurungkan niatnya mencari tahu siapa yang sedang bersama Jihan. Rasa penasarannya saat melihat Jihan menggandeng seorang lelaki lebih besar daripada menjenguk Dodo.
"Pak, saya balik kedalam dulu." Pamit Ina langsung masuk kembali ke dalam ruangan.
Braaakkkkk!
"Jadi benar yang aku lihat. Kak Jihan selingkuh dibelakang kak Rangga. Aku nggak nyangka! Kenapa kakak tega sama kak Rangga. Kurang baik apa kakakku itu."
"Na." Alam menarik Ina yang masih emosi.
"Apaaaa!" Ina menepis tangan Alam dengan kasar
"Na, dengar dulu." Alam masih mencoba menenangkan Ina.
"Ikut aku!"
Alam menarik Ina lalu mendorong tubuh Ina disudut toilet.
"Kamu mau bela dia jelas jelas dia..."
"Kekasihmu itu tidak pernah menikah dengan Jihan. Dia tidak datang di hari pernikahannya, dia kabur Ina, kabur! Apakah lelaki seperti itu yang kamu harapkan, Ina" Bentak Alam.
"Sekarang kamu minta maaf sama Jihan. Cepat temui jihan dan minta maaf!" perintah Alam.
"Jadi kamu tahu kalau kak Rangga dan kak Jihan tidak menikah. Kenapa tidak mengatakan sebelumnya? Kenapa kalian banyak merasahasiakan sesuatu padaku. Kenapa!" Ina melorotkan tubuhnya didinding pintu masuk toilet. Tangisan keluar dari suara gadis.
"Maaf, Na." Alam jongkok sejajar dengan posisi duduk Ina.
"Apa kamu masih mencintai Rangga?" Tanya Alam.
Ina hanya terdiam tanpa menjawab pertanyaan Alam. Masih berusaha menenangkan Ina, Alam melabuhkan kepala Ina diatas bahunya.
Na, Jika kamu memang mencintai Rangga. Aku akan menyatukan kalian berdua.
Buatku mencintai tidak harus saling memiliki.
Aku bahagia kalau kamu bahagia.
Yulia meminta maaf atas kelakuan adiknya. Ada rasa tak enak karena Ina sudah membuat keributan. Jihan memaklumi karena Ina tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Tante, aku paham apa yang dirasakan Ina. Dia pasti mengira aku dan Rangga sudah menikah. Biar aku yang bicara sama Ina dari hati ke hati. Tante jangan marahi Ina. Ina dan Rangga saling mencintai tante." Ucap Jihan dengan bijaksana.
Yulia kagum melihat sikap Jihan yang sangat dewasa.
__ADS_1
"Sekali lagi tolong maafin Ina nak Jihan. Dia masih labil belum tahu mana yang benar dan mana yang buruk."
Jihan hanya tersenyum kecil. Dia memang sedikit kaget saat Ina datang mengamuk padanya. Tapi dia tahu kalau Ina hanya salah paham padanya.