Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
28. Menjelang pesta Anniversary


__ADS_3

"Ina..."


"Iya, Ngel."


"Aku boleh bertanya sesuatu padamu."


"Soal?"


"Kak Rangga."


Ina membalikkan tubuhnya menghadap Angel.


"Ada apa dengan kak Rangga, Ngel?"


"Apakah kamu punya perasaan lebih pada kak Rangga?"


"Kenapa kamu nanya seperti itu, Ngel? Ya, kali aku suka sama kakakku sendiri."


"Tapi kalian bukan kandung, lo. Bisa aja kan kalo ..."


"Inti dari pertanyaanmu sebenarnya apa,Ngel? Kamu takut kak Rangga dekat dengan orang lain. Ya kejar, dong. Mana dia tahu kamu suka sama dia kalau kamunya nggak ada usaha."


"Kamu mau kan, na, bantu aku buat dekatin ke kak Rangga. Please, na kamu kan tahu kalau aku suka sama dia sejak SMA dulu."


Ina mendengus kesal.


Bukannya Angel tahu aku paling malas nyomblangin orang. Nah, sekarang dia malah minta aku nyomblangin dia sama kak Rangga. Comblang mencomblang buatku proses yang paling ribet, kalau suka sama suka mah enak. Tapi kalau bertepuk sebelah tangan gimana, apalagi kak Rangga lagi dekat kak Jihan. Kalau gagal kan kasihan Angel.


"Maaf, Ngel. Kamu tahu kan aku malah comblang-comblangan, kamu usaha sendiri aja deh. lagian kak Rangga lagi dekat sama cewek sepantaran dia."


Angel mendekati Ina seakan kepo dengan ucapan temannya itu "Serius, na?" Ina mengangguk. Angel langsung memasang muka cemberutnya, sejak dulu dia sudah menyukai kakak temannya itu. Kalau Ina bilang ada Rangga dirumah Angel pasti datang ikut menginap disana.


"Sudahlah, Ngel. Dimata dia, kita ini masih kecil. Umur kak Rangga itu sudah masuk buat cari istri. Kita belajar yang benar aja dulu. Kamu lihat Laras, sampai sekarang dia belum pacaran sama siapapun. Toh, hidupnya enjoy aja tuh."


Angel tertawa, dia tahu kalau Laras belum dekat dengan pria mana. Bahkan si ketua osis yang terkenal ganteng di sekolahnya dulu ditolak sama Laras.


"Kamu lupa, Na. Laras kan emang nggak boleh disuruh pacaran sama ibunya. Alasannya harus fokus sekolah, mending kalau pintar, ini pintar aja enggak, sok sokan fokus belajar." Celoteh Angel.


"Paling tidak, aku bukan kayak kamu, Ngel. Nempel sana sini sama cowok. Aku bisa menjaga punyaku, lah kamu? entah masih atau jangan udah enggak."


Laras datang saat Angel meremehkan dirinya.


"Maksud kamu apa, Ras? kamu ngeremehin aku, ya.


Gini-gini aku..."


"Sudah...Sudah....kok malah pada berdebat sih? Kita sahabat, Saling merangkul, mengingatkan, bukan saling memojokkan." Ina menengahi kedua sahabatnya yang mulai cekcok.


"Yuk, Na. Kita ada mata kuliah pak Jum. Entar telat berabe." Laras menarik Ina dari hadapan Angel. Ina hanya pasrah saat Laras menariknya keluar kantin.

__ADS_1


Mata Ina beralih ke sebuah mobil yang bertengger didepan gedung belajarnya.


"Kak Alam?" Sapanya mendekati lelaki itu.


"Mama minta kamu ikut ke acara di vila. Jadi aku ditugaskan menjemput kamu."


"Tapi aku masih ada mata kuliah kak. Jadi maaf aku nggak bisa ikut. Tapi kalau kakak mau menunggu nggak papa." Tawarnya pada Alam yang lebih mementingkan memegang gawai daripada menatap Ina.


"Oke... saya ada urusan dekat sini. Saya akan pergi dulu. Dan saya menganggap kamu sudah menolak ajakan mama tadi. Buang-buang waktu saja!" ketus Alam.


Ina menatap Alam dengan perasaan bingung.


Kenapa dia begitu tidak asing buatku. Seperti sudah mengenal lama. Ah, Ina itu hanya perasaanmu saja. Lagian tuh orang dari awal tidak pernah ramah sama kamu.


"Dia siapa?" Tanya Laras.


"Menantu tante Lia, yang dulu nyelamatin aku pas kabur dari rumah."


"Ganteng, ya."


What ganteng kata laras. Ganteng dari mana, dari sedotan monas kali ya. Hihihihi.


Ina dan Laras memasuki kampus. Dari jauh sepasang mata memandang mereka penuh kebencian. Senyum sinis mengembang di bibirnya.


"Buah tidak jatuh dari pohonnya. Anak dan Ibu sama saja. Keluarga penggoda."


"Bu" sapa keduanya yang sudah melintas di hadapannya. Wanita itu melengos tanpa membalas sapaan Ina dan Laras.


"Nggak tahu."


Beberapa jam kemudian


Kaki Ina terhenti saat sebuah mobil bertengger di depan gedung belajarnya. Senyum mengembang saat sosok itu keluar dari mobil sportnya.


"Tumben." Jawabnya dengan sumringah.


"Apanya yang tumben? Bukannya biasanya begitu, na."


"Ya, udah." Ina melenggap masuk ke mobil Rangga.


Namun, langkahnya terhenti melihat sosok cantik yang duduk didepan. Ina urung masuk mobil.


"Kok nggak masuk?" tanya Rangga.


"Kakak, mau jadiin aku nyamuk gitu?Kalau mau pacaran ya pacaran aja. Nggak usah sok sokan jemput." Ina meninggalkan Rangga yang masih bingung dengan sikap adiknya.


"Na. Kamu mau kemana?"


"Aku pulang bareng Laras aja. Selamat pacaran." Ina melambaikan tangannya meninggalkan Rangga yang membawa Jihan di mobilnya.

__ADS_1


Tiiiiiin tiiiiin sebuah mobil mengklakson membuat langkah Ina terhenti.


"Katanya buang-buang waktu. Ngapain masih disini?"


"Ini demi mama. Kayaknya pengen banget ngajak kamu. Daripada aku kena semprot."


Ina masuk kedalam mobil Alam. Matanya tertuju pada layar pipih yang bergetar. Ina mencoba cuek dengan panggilan tersebut. Namun, akhirnya dia menyerah dan mengangkat telepon tersebut.


"Na, kamu dimana?" Ucap suara tersebut.


"Bukan, urusan anda. Ngapain telepon saya? Bukankah anda biasanya sibuk dengan lelaki." Ina mematikan handphone sekaligus mematikan daya selulernya.


"Siapa?" Tanya Alam.


"Bukan urusan kamu." Jawab Ina ketus.


"Kita pulang dulu, ambil barang-barangku." Ucap Ina dalam perjalanan.


"Kata mama nggak usah. Masih ada pakaian yang bisa kamu pakai disana. Mama sudah siapkan pakaian gantimu."


"Oh, gitu, ya."


"Enak ya jadi kamu. Cuma mengandalkan wajah mirip Gita, kamu bisa menggaet keluarga mama Yulia. Sebenarnya apa rencana kamu masuk ke keluarga istriku? pasti karena harta kan? Heeeh, sudah ku tebak. Perempuan macam kamu sudah banyak aku temui. Sok sok polos padahal ada maksud tertentu."


Alam melirik gadis disampingnya yang sudah tertidur dan menutup telinganya dengan Headset. Senyum sinisnya terus mengembang, sesekali menatap jijik pada gadis itu. Mobilnya terus melajukan kencang menuju Vila yang berada di bogor.


Sementara di kediaman Kania.


Kania menatap pilu layar pipih yang baru saja lepas dari genggamannya. Perasaannya sakit saat putri semata wayangnya bersikap ketus padanya.


Maafkan mama, nak. Mama rasa ini karma yang pantas mama dapatkan, Mama tahu kamu masih marah. Mama tahu kamu belum bisa menerima semua ini. Na, mama cuma ingin memperbaiki hubungan kita disisa umur mama.


Kania menatap hasil lab yang diambilnya dari rumah sakit tadi. Dengan memeluk surat lab, Kania menangis sejadi-jadinya.


Aku positif HIV


Ya Allah Inikah hukuman yang kau berikan padaku.


Bersambung.


Hai readers mulai sekarang Ina double up, ya.


Up pagi dengan Up malam pukul 21.00


Tetap terus pantengin cerita ini.


Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya

__ADS_1


Jangan lupa komennya juga rate


Kalau berkenan bantu vote dan hadiah


__ADS_2