
surat Ali 'Imran ayat 104 disebutkan: Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
"Ina"
Sebuah suara bariton terdengar menggaung di koridor rumah sakit kecil. Klinik kecil yang letaknya tak jauh dari kediaman kecil mereka. Sambil menggendong Shasa yang masih tertidur, Ina duduk menekuk kepalanya.
Guratan penyesalan tergambar di wajahnya. Bagaimana tidak? Dia menemukan suaminya pingsan karena berlindung di dalam kostum boneka. Seandainya dia tidak meminta suaminya jalan dengan odong-odong mungkin endingnya takkan begini.
"Kakak."
Ina berlari memeluk sang kakak, orang pertama yang di kabari terkait soal Alam. Kenapa harus Rangga? Karena keluarga yang dimilikinya hanya Rangga. Dengan bantuan warga terdekat Ina bisa membawa Alam ke Klinik sambil membopong Shasa.
"Alam kenapa, Na?" Tanya Rangga sambil menuntun adiknya kembali ke kursi.
"Alam pingsan kak, dia menghiburku demi memenuhi kemauan ngidamku. ini salahku kak! Ini salahku, andai saat dia pingsan langsung ku tolong mungkin akan beda ceritanya." Ina langsung menangis mengingat kondisi suaminya yang hampir kehabisan nafas.
"Kamu yang tenang, Na. Dokter pasti bisa menangani suamimu dengan baik. Alam itu anak yang kuat, kalau bongkahan salju saja bisa di lewatinya. Apalagi kostum boneka. Sayang .." Rangga memanggil istrinya.
"Iya, mas."
"Tolong temani Ina jaga Shasa. Kasian Ina lagi hamil muda." Titah Rangga.
"Iya, mas"
__ADS_1
Ina dan Laras duduk di salah satu kursi tunggu klinik. Suasana klinik yang sepi dan mencekam membuat bumil tersebut bergidik ngeri. Laras memberikan beberapa makanan yang dia bawa. Ina mengucapkan terimakasih sambil menyantap makanan tersebut. Tak lama Ina pun berlari ke toilet karena merasa mual. Laras menatap Ina dari kejauhan. Sorot matanya mengartikan ada sesuatu yang dipendamnya.
Kamu beruntung, Na. sejak dulu di kelilingi orang-orang yang sayang sama kamu. Selalu mendapatkan apa yang kamu mau. Beda denganku yang masih merangkak mencari kebahagiaan. Dalam satu tahun kamu bisa hamil. Sedangkan aku yang sudah menikah hampir dua tahun belum di beri keturunan.
"Ras, kamu kenapa?" Tanya Rangga yang muncul saat Ina pergi ke toilet.
"Aa...ku nggak apa-apa, mas." Laras mencoba berkilah.
Namun Rangga yakin istrinya memendam sesuatu. Lelaki itu langsung duduk di samping istrinya.
"Kamu kenapa, sayang? bilang sama aku. Kita kan sudah dua tahun menikah. Harus saling terbuka, jangan ada ditutupi." Ucap Rangga sambil menggenggam erat tangan istrinya.
"Mas, Ina beruntung bisa dapat keturunan sedangkan aku. Sampai sekarang belum ada tanda-tanda hamil. Aku capek, mas di rongrong terus sama mama Raya. Aku capek, mas setiap bulan berharap telat haid, tapi nyatanya." Rangga langsung memeluk istrinya mencoba menenangkan.
"Perasaan iri hati itu muncul karena sikap kamu yang tidak menyukai ketika melihat orang lain lebih baik dan sukses dari kamu. Rasa iri itu bisa membuat hati dan pikiran menjadi tidak tenang. Terus menyimpan rasa iri itu tidak baik dan akan membuat kamu merasa tidak nyaman.Energi dan pikiran kamu akan terbuang hanya untuk memikirkan sifat iri yang kamu miliki karena melihat orang lain yang lebih baik dan sukses dari kamu. Tapi, sebenarnya ada banyak cara untuk bisa menghilangkan rasa iri hati kamu pada orang lain.
Jadi please buang irimu pada Ina. Toh Ina selalu mensupport kamu, Ras. Walaupun kamu sempat nikung dia waktu kuliah dulu."
Laras menegakkan kepalanya ketika mendengar pernyataan Rangga. Ternyata suaminya sudah tahu penyebab dirinya di keluarkan dari kampus.
"Mas, sudah tahu soal itu?"
Rangga mengangguk "Alam juga sudah tahu kok. Soalnya pas kasus itu aku dan Alam mendatangi kampus. Makanya aku sempat marah saat mama meminta menikah denganmu. Tapi Ina meyakinkan aku agar membuka hatiku padamu. Dan benar, aku memang jatuh cinta sama kamu, Ras."
__ADS_1
"Maafkan aku, mas." Laras kembali menunduk malu.
"how is my husband, doctor?(bagaimana keadaan suami saya, dokter?)"
"thank God your husband can be saved. Because if it's not handled quickly, he won't survive (syukurlah suami anda bisa diselamatkan. Karena kalau tidak cepat penanganannya dia tidak akan selamat)." Jawab dokter.
Ina langsung berlari menemui suaminya.
"Sayang, maafkan aku. Maafkan aku! Aku janji nggak akan ngidam aneh-aneh lagi." Isaknya memeluk tubuh Alam yang masih belum sadar.
Tanpa Ina sadari sebuah tangan membelai rambutnya dengan lembut. Tangan itu menandakan kalau dia sudah lelah tertidur. Ina masih memeluk tubuh suaminya merasakan pergerakan, kepalanya terangkat melihat senyuman dari wajah suaminya.
"Mas, sudah sadar?" Tanya Ina dengan nada suara beratnya.
"Iya, sayang. Shasa mana?" Alam mendelik ke sekeliling klinik.
"Kamu baru sadar tapi sudah nanyain Shasa. Dia sama Laras dan kak Rangga." jawab Ina.
Alam membangkitkan tubuhnya, Ina dengan telaten membantu posisi duduk suaminya. Tangan Alam memegang perut Ina "Hai, anak papa. Kamu apa kabar, sayang? Papa kangen sama kamu."
"Mas, maafin aku. Gara-gara aku kamu jadi seperti ini. Lagian aku nggak minta boneka kostum, aku mintanya odong-odong, mas. Kamu terus membahayakan diri karena keinginanku. Bagaimana kalau terjadi sesuatu sama kamu? Kamu mau aku nanti jadi janda? kamu mau kalau Shasa jadi yatim piatu.
Please, jangan kayak gini lagi. Jangan buat aku cemas. Tapi ini juga salahku, ini salahku!"
__ADS_1
"Sayang, ini bukan salah kamu. Tapi bukan juga salah aku. Aku hanya lagi apes saja. Kamu tahu, Na. Bagiku semua akan kulakukan asal kamu dan calon bayi kita bahagia. Bagiku, kamu adalah penguatku dalam menjalani hidup. Kamu, aku dan Shasa juga calon bayi kita adalah satu kesatuan yang takkan terpisahkan."