
"Kalian mau ngedate, ya?" Angel muncul ditengah-tengah pergulatan panas ketiganya.
"Iya" Jawab Ina cuek.
"Kalau gitu, kita bareng saja. Rame-rame kan seru juga. Gimana kak Ronal?" Angel menggamit tangan Alam.
Ina menjelit ketangan Alam dan Angel. Begitupun sebaliknya Alam pun juga menjelit kearah gandengan mesra antara Ina dan Reza. Semakin erat gandengan itu, semakin kuat jelitan mereka.
Tapi sayangnya Angel bisa melihat kecemburuan dari sorot mata keduanya. Gadis itu mengeratkan tangannya di siku tangan Alam. Dengan cepat dia melepaskan diri lalu meninggalkan orang-orang disana.
"Aku mau ngomong!" Ina menyeret Angel dengan kasar.
"Lepaskan, Na! sakit!" Pekik Angel.
"Nggak usah drama deh, kamu!" Bentak Ina.
"Na, kamu kenapa sih? kamu lupa kita sahabat."
"Udahlah Angel! Aku tahu drama kamu! Ngapain kamu masih masuk ke keluargaku, Hah! Apa yang kamu cari di keluarga kami! Harta? kamu bahkan sama mampunya dengan keluarga kami. Mau kamu apa!"
Angel bersikap seolah teraniaya. Ina sudah hapal kelakuan sahabatnya. Sahabat? entahlah! Apakah Angel masih bisa disebut sahabat atau tidak. Pastinya bagi Ina, Angellah yang memulai peperangan padanya. Ina tidak pernah membenci Angel, tapi karena Angel yang mulai lebih dulu. Maka sekarang Ina pun akan melakukan hal yang sama. Jika dia punya bukti, Ina tak akan segan membongkarnya.
"Na."
"Apa! Kamu mau bilang kalau jantungmu adalah jantung Gita. Heh! Mereka bisa kamu tipu tapi sayangnya aku tidak. Seorang Angelica Budiman yang terkenal cewek angkuh saat di SMA. Seorang Angelica Budiman, Anak seorang pengusaha yang doyan beristri lebih dari satu. Seorang Angelica Budiman yang membuli adiknya sendiri hanya karena seorang lelaki. Kamu tahu, Siska meninggal gantung diri karena siapa!"
"Siska meninggal karena dia hamil sama Andre, Na. Kamu tahu itu tapi kamu masih mencoba menyalahkan aku."
"Kamu yang membunuh Siska. Bukan fisiknya tapi kamu membunuh melalui psikisnya. Kamu dengan enteng menceritakan kelakuan adikmu. Tak ada rasa sedih saat kamu menceritakannya. Kamu lupa, Ngel. Mungkin Laras tidak ngeh dengan ceritamu, tapi aku tidak. Kamu membuat adikmu terpuruk dilingkungannya.
Ingat, Ngel. Kartumu ada padaku! Paham! Jadi kalau kamu macam-macam sama keluargaku. Tunggu saja akibatnya!"
"Na, kamu ngomong kayak gitu karena cemburu kedekatanku dengan kak Ronal. Kamu pikir aku tidak bisa membaca sorot matamu. Aku masuk ke keluarga Spencer, bukan ke keluarga Gunawan. Kenapa kamu yang sewot. Kan bukan keluargamu. Kamu sadar nggak sih, Na? Kamu sama mama kamu itu 11 - 12, kamu dulu sok sedih karena mama kamu nikung bersama Dodo. Lalu? Bedanya apa dengan kamu, yang sok cuek dengan kak Rangga tapi nyatanya kamu embat juga. Kamu sok sokan cuek sama kak Ronal, nyatanya kamu juga suka sama ..."
"Nggak usah bawa-bawa mamaku, Ngel. Kamu tahu apa soal keluargaku, Hah!" Ina melayangkan tamparan ke wajah Angel.
"Kamu munafik, na. Munafik!"
Ada tangan lain.menahannya. Ina yang sudah tersulut emosi menghempaskan tangan yang menahannya. Tapi lagi-lagi pinggangnya ada yang menahan.
"Please, Na. Jangan lakukan itu."
"Kak Eja?"
"Aku mohon jangan lakukan itu. Jangan kotori tanganmu hanya untuk orang seperti dia."
"Kak, dia sudah menghina mamaku. Aku nggak terima, kak!"
Na, aku tahu kamu marah bukan karena Angel mengungkit mama kamu. Aku tahu kamu marah karena Angel dekat dengan Ronal. Sadar, Na... Dia itu menantumu, suami dari keponakanmu. Sadar, Na, ada ikatan keluarga yang akan mengikat kalian.
Ina duduk teras depan pintu masuk. Reza dengan telaten mendampingi Ina yang masih menstabilkan emosi.
"Na?"
"Hmmm ...."
"Kuya apa yang bikin orang baper"
Ina tampak berpikir "Uya kuya?"
__ADS_1
"Salah? hayo tebak lagi?"
"Kuya bubuk soto. kan bikin baper alias bawaan laper"
Reza menggeleng "Apa dong, kak? nyerah deh."
"Kuyakin cintaku padamu."
"Ish ... itumah kak Reza aja yang ngegombal."
"Ada lagi"
"Hah! belum selesai." Reza menggeleng.
"Jajanan apa yang disukai banteng?"
"Apa ya?"
"Ayolah, na? dijawab?"
"Hadiahnya apa?"
"Ada deh"
"Ish .... kakak curang! Nyerah deh!"
"Jawabannya .... Eh itu ada pesawat lewat."
"Mana?" Ina mendongak keatas.
"Ketipu... Hahhahaha..."
"Nah, Gitu dong. Kan cantik kalau ketawa."
"Yaudah kamu siap-siap. Katanya tadi ngajak jalan. Jadi kan kita jalan?"Sambung Reza.
Tak lama Ina muncul memakai kaos oblong dan celana jeans kulot 3/4. Reza menatap style Ina yang terlihat santai.
"Kamu tahu, Na?kalau pakai kayak gini takutnya aku lagì bawa anak."
"Mau aku ganti?"
"Nggak usah. Apapun yang kamu pakai cocok aja."
"Ish ..."
Ina dan Reza berangkat ke sebuah cafe. Jarak cafe dari rumah lumayan jauh. Anehnya, Ina tak merasa mengantuk seperti biasanya.
Reza memandang gadis disebelahnya dengan senyuman.
Lambat laun kamu akan membuka hatimu padaku. Sekarang saja kamu sudah memberiku sinyal.
Mereka tiba di cafe. Ina memilih lokasi balkon yang menghadap kolam renang. Namun, ternyata Angel dan Alam sudah menunggu disana. Angel sengaja memesan kursi empat supaya Reza dan Ina berbaur.
"Kak aku pikir kita mau jalan ke mall. Berasa saltum."
"Iya, kan kita dinner dulu, sayang."
Wuiiiih mereka udah sayang-sayangan. Itu berasa mereka sudah jadian. Batin Alam
__ADS_1
"Kak Ronal mau pesan apa?"
"Apapun pilihan kamu aku ikut aja."
"Hahahhahaa ... tuh Ngel. Dia bilang apapun pilihan kamu dia ikut. Kasih aja kopi sianida, dia pasti mau kok. Tapi kamu hati-hati Ngel, kamu siap-siap digentayangin mendiang istrinya. Sebab mereka ini cinta mati, jadi kalau ada yang deketin suaminya. Nanti bakal ada teror dari arwah Gita." Ina mencoba mematahkan Angel.
Dasar duda genit. Istrinya belum lama meninggal dia udah gaet perempuan lain. Huh! tak aduin sama kak Lia, biar nggak bisa dapatin hak asuh Shasa. Umpat Ina dalam hati.
Reza duduk di depan panggung live musik memegang sebuah gitar.
"Buat gadis cantik yang ada didepan saya. Hari ini saya sangat senang. Dia mau diajak jalan. Semoga bukan hari ini saja, hari ini esok dan seterusnya. Lagu buat kamu ... Kamu yang Kutunggu."
Karnamu
Dikirim Tuhan
Untuk melengkapiku
Tuk jaga hatiku
Karnamu
Hasrat terindah
Untuk cintaku
Takkan cemas
Ku percaya kamu
Karena kau jaga
Tulus cintamu
Ternyata
Ternyata
(Ooh ternyata)
Ternyata
Kamu yang kutunggu
Tepuk tangan yang riuh saat Reza bernyanyi mendekati kursi tempat Ina duduk. Semua mata tertuju pada keduanya.
"Na, sekali lagi saya bertanya padamu? Mau kah kamu menjadi pacarku. Menjadi kekasih dari seorang duda tanpa anak. Menjadi kekasih dari seorang lelaki yang usianya jauh diatasmu." Reza duduk membungkuk membuka sebuah kotak. Kotak yang disodorkan ke hadapan Ina.
Memori Ina berputar, bagaimana cara Dodo melamar dirinya, bagaimana Rangga melamarnya dengan cara yang serupa.
Dan sekarang Reza melakukan hal serupa. Ina berjalan mundur, seperti ketakutan yang melanda. Tak disadarinya kakinya melangkah keujung kolam renang.
Byuuuur!
Tubuh Ina berhambur kedalam genangan air. Tak lama dua lelaki menyebur masuk kedalam kolam renang. Tubuh Ina masuk kedalam lantai dasar kolam.
Kenangan itu berputar lagi.
AKU BENCI LAMARAN!
__ADS_1