
Usai akad, semua yang berada dirumah membereskan bekas acara. Beberapa tamu sudah meninggalkan lokasi acara, salah satu Reza yang sejak acara sampai akhir hanya termenung. Jauh dilubuk hatinya masih besar rasa cinta pada Karina. Meskipun Ina beberapa kali menolak dirinya, termasuk menolak lamarannya. Reza tanpa pamit meninggalkan acara, walaupun dia datang dan pergi pun tidak ada yang perduli. Reza mengemudikan mobilnya tanpa tujuan, hingga rasanya dia lelah lalu menumpahkan semuanya didalam mobil.
Dia tahu sejak awal Ina tak pernah menanggapi perasaannya. Dari sejak kejadian Ina tenggelam di kolam renang, Ina dan Alam memang sudah saling terpaut. Terlebih lagi ketika Alam memberikan nafas buatan pada Ina, Reza merasa memang bos nya sudah mencintai Ina. Beberapa saat kemudian Reza memasuki pelataran mesjid guna melepaskan semua penat di dada.
Ting!
[ Sakit kan! seandainya kamu mau terlibat rencana saya. Kamu tidak akan sekecewa ini. Come on, kak Reza.].
Reza hanya menyunggingkan senyum membaca pesan itu. Sesekali kepalanya menggeleng ketika membaca ulang pesan tersebut.
[Kamu nggak malu masuk ke rumah tangga orang. Kamu itu cantik, masih banyak lelaki lain yang mau sama kamu. Jadi saya mohon jangan mengharapkan pak Ronal lagi. Dari dulu dia nggak ada rasa sama kamu. Dan saya pun akan mengecam kamu jika melakukan sesuatu pada Ina.]
Tak ada balasan dari si pemilik pesan.
Sampai dirumah Reza hanya mengunci pintu di kamar. Kamar mandi pun menjadi pelarian dari rasa patah hatinya. Andai wajah Ina tak mirip dengan mendiang istrinya Alam, mungkin saat ini dia dan Ina yang sudah bersanding. Reza terus berandai-andai ditengah hujaman air shower yang membasahi tubuhnya. Airnya sengaja di buat hangat tapi tak menghangatkan hatinya.
Pukul 14:00
Dikediaman Spencer
Selesai acara Akad Ina dan Alam pun berbaur dengan para tamu. Tampak keduanya tak melepas tangan satu sama lain. Seakan mereka sedang tak ingin berjauhan. Ina meminta izin pada suaminya untuk menemui Laras dan Rangga. Setelah mendapat izin, Ina berjalan mendekati sahabat dan kakaknya.
"Selamat ya, Na. Akhirnya kakak bisa menjalankan amanah dari papa Aryo. Tugas kakak sekarang sudah selesai, Na karena kamu sudah di jaga orang yang kamu cintai, Tapi kalau Alam macam-macam sama kamu. Kakak tidak segan-segan memisahkan kalian berdua."
"Kak Rangga tenang saja. Aku tidak akan menyakiti perasaan Ina. Aku janji kak, akan membahagiakan Ina sepenuh hati. Kakak tahu rasanya berpisah dari sedetik saja sudah membuat aku tersiksa. Jadi saat ini lah aku akan buktikan Ina adalah wanita yang paling bahagia bersamaku." Sahut Alam yang muncul ditengah mereka.
"Jangan banyak janji, Lam. Satu aja belum kamu tepati apalagi yang lain." Jawab Ina.
"Jangan panggil nama saja,Na. Beri dia panggilan yang pantas karena dia adalah suamimu." jawab Laras.
"Kak Ronal selamat, Ya." Beta muncul ditengah-tengah obrolan Rangga dan Alam.
"Beta? kapan kamu sampai?" Alam kaget Beta muncul. Sejak Gita meninggal Beta sudah jarang berkomunikasi dengan dirinya maupun dengan Rere. Beta saat ini tinggal di Hongkong ikut suaminya.
"Sayang, Ini Beta, sepupuku sekaligus sahabatnya Gita." Alam memperkenalkan Beta pada Istrinya.
"Karina." Ina mengulurkan tangannya kepada Beta. Tak pelak wanita itu memeluk Ina sebagai obat kerinduannya pada Gita.
__ADS_1
"Kamu mirip sekali sama Gita. Aku yakin Gita pun tersenyum diatas sana." Suara Betapun terdengar berat.
"Sudah...sudah ini bahagia kami, jangan pake tangisan." Alam melerai tubuh Ina dari pelukan Beta.
"Dari dulu nggak berubah, posesif bener sama pasangan." Beta kesal Alam melepas paksa.
"Nanti istriku ikutan mewek." Balas Alam.
Beta pun undur diri. Rangga hanya tersenyum melihat tingkah adik iparnya. Tak lama Rangga pun pamit untuk pulang.
Marni menemui Ina dan Alam yang masih berbaur dengan para tamu keluarga. Wanita itu meminta Alam mengajak istrinya istirahat di kamar.
"Na, sekarang kalian istirahat saja dulu."
Marni mendekati Ina yang masih meladeni tamu. Acara hari ini cukup melelahkan bagi keduanya. Terutama bagi Ina, dengan gaun yang lumayan ribet plus sunting mahkota yang berat membuatnya ingin cepat- cepat menyelesaikan acara ini.
"Bukannya langsung resepsi, Ma." Sahut Ina.
Marni kaget saat menantunya menanyakan soal resepsi. Apakah menantunya ingin berpesta mewah, sedangkan perusahaan tengah bermasalah. Keluarga sepakat mengundurkan resepsi karena aset perusahaan menurun.
"Oh, Gitu ya, ma. Maafin Ina ya banyak nanya." Marni hanya tersenyum kecil lalu meninggalkan keduanya.
"Yuk,sayang kita ke dalam. Capek,nih."
"Eh, anu begini begitu .... Shasa mana? Pasti dia rewel banget." Ina masih gelagapan saat Alam merangkul bahunya.
"Kok nanyain Shasa sih, ini aku lo suami kamu, dahulukan suami baru anak." Alam menjentik hidung Ina.
Ina menelan salivanya ketika Alam membawanya kekamar. Bukan maksud lancang dia menanyakan soal resepsi. Setahunya, biasa pernikahan pengusaha tidak pernah tinggal yang namanya resepsi. Namun, dia salah, bisa jadi memang keluarga mereka tidak memakai resepsi.
Ina duduk di sudut ranjang, matanya terus berputar ketika melihat dekorasi kamar pengantinnya. Aksennya seperti vila di bali yang pernah ditempatinya bersama sang mama.
"Romantis sekali. Ini idemu, Lam."
"Kamu suka? Jangan panggil aku Alam. Panggil mas saja."
"Suka sekali,sayang. Makasih, ya kamu sudah mau bikin kamar seperti ini."
__ADS_1
Alam memegang kedua tangan istrinya.
"Na, sekarang kita adalah suami istri. Apa yang aku miliki adalah milikmu juga. Kita akan memulai suatu kehidupan baru, saling sayang, saling mendukung, susah senang kita hadapi bersama.
Aku akan menjadi suami yang baik buat kamu, jika aku punya kesalahan tolong tegur, jika aku menegur kesalahanmu tolong turuti demi kebaikan.
Na, terimakasih sudah mau menjadi istriku. Sudah mau sama Duda rese ini, Ah iya aku sekarang bukan duda lagi."
Ina menundukan kepalanya, keduanya saling bertatapan meskipun malu-malu. Alam mendekatkan tubuhnya, mengecup kening istrinya.
"Mas, aku bahagia sekali dengan hari ini. Kita disatukan dengan ikatan yang lebih pasti. Terimakasih dengan cinta dan kesungguhanmu selama ini. Tolong bimbing aku agar menjadi istri yang baik buat kamu, serta ibu yang baik buat Shasa. Aku tak punya pengalaman dalam berumah tangga."
Alam mendekatkan wajahnya pasangan halal. Tangannya mengusap bibir Ina, tak lupa menarik dagu istrinya. Ina pasrah ketika Alam ******* rakus bibirnya, tangannya melingkar di leher suaminya. Walaupun mereka belum melepaskan atribut pengantin. Semakin lama pagutan mereka semakin dalam hingga peci dan mahkota akhirnya mereka lepaskan. Kakinya menggiring Ina ke ranjang pengantin.
Ceeekleeeeek!
Bruuuuuk!
"Aaaaaaaaa....."
*
*
*
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
Bersambung
__ADS_1