
"bertahan,nak ada papa, ada mama, kamu mau lihat adek kecil kan. Papa mohon kamu bangun, nak. Shasa kan anak yang kuat, anak kuat pasti bisa sembuh." Alam memeluk tubuh Shasa yang dibantu alat medis.
"Mas.." Ina menenangkan suaminya yang tak mau jauh dari pembaringan Shasa.
"Na, Shasa kenapa belum bangun? Kamu sudah siapkan perlengkapan sekolahnya. Besok dia masuk sekolah." Alam terus menceracau membangunkan putri sulungnya.
Ina masih berusaha suaminya. Walaupun sejak satu bulan ini Shasa tertidur indah di rumah sakit, Alam mulai kurang memperhatikan diri sendiri dan Ina mulai di acuhkan. Ina harus paham bahwa pikiran suaminya sedang terkuras untuk Shasa. Dia harus tahu diri bahwa prioritas Alam saat ini hanya untuk Shasa.
Sudah dua bulan Ina dan Alam pulang ke indonesia. Setelah selesai ujian semester Ina mengambil cuti melahirkan selama satu semester. Meskipun awalnya Ina enggan mengambil cuti tapi suami dan keluarga lainnyan terus mendesak. Mau tidak mau Ina mengalah dari suara terbanyak.
Siang ini masih berada di rumah sakit. Ina berjalan dengan perut besarnya sendirian di lorong rumah sakit. Entah kenapa sejak Shasa masuk rumah sakit Ina harus tegak sendiri. Mau ngandalkan suaminya Ina segan. Dia tahu Alam sedikit trauma karena hal ini persis yang dialami Gita. Namun tak menutupi rasa Ina yang ingin diperhatikan di usia kehamilannya yang sudah memasuki 9 bulan.
"Na" Terdengar sapaan lembut membuyarkan lamunannya.
"Kak Rere." Seharusnya dia memanggil rere tanpa embel kak. Karena Rere adalah adik iparnya, tapi Ina menghormati wanita itu yang usianya diatas dirinya.
"Kamu dari tadi dicariin sama mama. Kamu kenapa kok murung terus hari ini? cerita sama aku. Apa Alam ada menyakiti peras aanmu?" Ina menggeleng.
"Terus kenapa kamu akhir-akhir ini banyak diam? Kamu kan lagi hamil tua. Jangan banyak pikiran, fokus ke kandunganmu. aku paham kamu pasti mikirin kondisi Shasa. Tapi jangan lupa ada yang lebih penting yaitu kandunganmu. Kamu tuh sudah sembilan bulan, jangan banyak keluyuran lagi." Tegur Rere.
"Aku nggak bisa ninggalin mas Alam sendirian mengurusi Shasa. kasihan dia terlihat masih syok dengan keadaan anaknya."
"Tapi harusnya dia juga memperhatikan kamu,Na. Biar aku ngomong sama Alam. Dan aku rasa dia juga harus memperhatikanmu." Rere yang sudah geram melihat sikap kakak iparnya.
__ADS_1
Ina menahan Rere, melarang adik iparnya melabrak Alam. Bagi Ina situasinya sedang tidak memungkinkan menuntut suaminya. Dia merasa bisa sendiri, walaupun sebenarnya dia sangat ingin diperhatikan. Ina bangkit dari kursi di koridor, merasa lelahnya sudah hilang. Langkah kakinya berjalan tertatih menuju ruang rawat Shasa. Rere dengan sigap memegangi Ina karena khawatir melihat cara jalan kakak iparnya.
"Aku nggak apa-apa kak Rere." Ina masih berusaha kuat.
"Kamu nggak usah bawel. Aku nggak mau ponakanku kenapa-kenapa." Rere tetap bersikeras membimbing Ina ke ruang rawat Shasa.
"Terimakasih, kak." Ina hanya tersenyum melihat kebaikan Rere.
Mereka akhirnya sampai di kamar rawat Shasa. Tampak gadis kecil itu masih terlelap indah. Namun sepertinya Alam tak ada di tempat. Ina mengambil tempat di sebelah Shasa.
"Halo anak mama, apa kabar? Shasa kok betah banget tidurnya. Nggak kangen sama mama, sama papa, sama dedek ganteng. Shasa bangun dong, biar bisa main sama dedek ganteng. Mama kangen sama Shasa yang cerewet, papa juga kangen mau anterin Shasa kesekolah. Shasa mau main sama Haiko lagi, makanya cepat bangun, nak." Suara Ina yang santai mendadak berat.
Ada rasa sesak menyeruak di dada. Anak sekecil itu harus menerima penyakit mematikan. Tak terasa bulir-bulir bening membasahi wajah chubbynya. Menangisi keadaan anak sambungnya. Termasuk menangisi keadaan kehamilannya dalam kondisi musibah. Suaminya lebih mengutamakan anak sambungnya. Tapi dia sadar, kalau sikap suaminya sebagai bentuk rasa sayang pada putrinya.
"Kamu darimana saja, Mas." Sapa Ina.
"Shasa bagaimana kondisinya, Na." Ina menahan sesak didadanya. Ada sudut kekecewaan dalam hatinya ketika mendengar pertanyaan suaminya.
"Masih sama, Mas." Jawab Ina datar.
"Harusnya yang kamu tanyain bagaimana keadaan Ina, sudah makan apa belum, Kak Alam nggak lihat Ina pucat kayak gini.Semua juga tahu kalau kamu amat mengkhawatirkan Shasa. Tapi ingat, Lam! ada Ina dan kandungannya yang juga kamu perhatikan." Omel Rere yang geram dengan sikap Alam.
Meskipun mendapat omelan dari Rere. Lelaki itu tak memberi respon sedikitpun. Bahkan dia seolah masih linglung dengan kondisi Shasa. Ina paham dengan perasaan suaminya, wanita memilih diam tanpa protes apa-apa pada Alam.
__ADS_1
Flashback on
"Bagaimana kondisi anak saya, dok?" Tanya Alam saat menemui dokter Budi.
"Ada penjepitan pembuluh di otak anak anda. Hal itu yang bisa memicu kapan sadarnya. Sel kanker sudah menggerogoti tubuhya. Termasuk mempengaruhi penurunan imunnya. Dan maaf setelah saya periksa anak anda sudah berada di stadium akhir."
Alam hanya menunduk lesu ketika dokter menyebut stadium akhir pada kondisi Shasa. Tangannya mengepal kuat seakan ada penahanan emosi. Seketika tubuh besarnya runtuh melipat kaki di lantai. Tangannya meraih kedua jemari dokter Budi, dia tak malu dilihat orang banyak asal dokter bisa menyelamatkan putrinya.
"Tolong sembuhkan anak saya, dok. Hanya dia satu-satunya yang saya punya. Sejak istrinya saya meninggal hidup saya hanya untuk anak saya, dok. Tolong selamatkan anak saya, masa depannya masih panjang. Saya mohon, dok."
"Saya akan berusaha pak. Tapi anda juga jangan lupa berdoa agar Tuhan memberikan keajaiban pada putri anda." Dokter mengangkat tubuh Alam yang bersujud di kakinya.
Tanpa Alam sadari ada sepasang mata yang mendengar ucapannya. Hatinya terasa sakit ketika lelaki itu bilang hanya Shasa yang dia punya. Bulir-bulir airmatanya membasahi wajahnya. Tubuhnya berbalik kearah berlawanan.
Tangannya menari ke layar gawai. Beberapa saat dia sudah berbicara pada seseorang di ponsel.
"Kak aku mau nginap di rumah boleh."
"Iya, aku minta dijemput di rumah sakit kasih bunda."
Mungkin aku perlu menenangkan diri dulu.
Flashback off
__ADS_1