
"Pak ini ada paket untuk anda" Alena menyerahkan sebuah box makanan di meja kerja atasannya.
"Alhamdulillah" Alam membuka paket makanan berupa satu paket nasi goreng telur setengah matang dengan porsi jumbo. Tak lupa keripik emping menjadi menu tambahan.
"Emang dari siapa, Na? kok enak banget." Tanya Alam baru teringat menanyakan pengirim paket tersebut.
"Buat pak Ronal apa kabar? Semoga nasi gorengnya enak, pak. Dari Nabila." Alena membacakan surat yang tertera di dalam surat.
Brruuusssss ...
Alam langsung menyemburkan makanan ketika mendengar nama itu.
"Coba ulangi lagi? siapa pengirimnya?" Tanya Alam.
"Disini tertulis namanya Nabila, pak." Jawab Alena.
"Buang!" Amuk Alam.
"Kok dibuang, pak." Alena masih heran.
"Saya bilang buang! Ya, buang!" gusar Alam.
"Buat saya aja, Pak. Sayang kalau dibuang."
"Ya udah kamu aja yang makan."
Alam meninggalkan ruang kerjanya menuju rooftop kantor. Ada perasaan kacau mendengar nama itu. Padahal istrinya dulu sudah berbaik hati mencabut tuntutan pada mantan sekretarisnya. Helaan nafas panjang terdengar lemah. Dia sudah tenang, tapi kenapa masalah baru datang lagi ke kehidupannya. Alam merogoh rokok listriknya, tapi sebuah tangan menghentikan aksinya.
"Kamu mau cepat mati ninggalin aku, ninggalin Shasa dan orang-orang yang menyayangimu dengan benda laknat ini. Kamu lupa kalau benda pernah membuatmu pingsan diteras belakang waktu itu." Omel Ina sambil melototi kekasihnya. Alam tersenyum mendengar omelan gadisnya.
Tangannya melingkar dipinggang Ina. Hembusan nafas pelan sayup-sayup terdengar ditelinga Ina. Mata mereka saling menatap seolah ada debaran rasa yang tersirat di wajah keduanya.
"Aku nggak akan pernah ninggalin kamu, Na. Tapi kamu juga janji nggak akan tinggalkan aku." Alam dan Ina menautkan kelingking mereka. Senyum merekah di wajah keduanya.
Ina menunduk. Dia tidak bisa membayangkan kalau Alam tahu minggu depan berangkat ke jepang. Tangan Ina ikut melingkar di pinggang Alam. Sambil memberikan senyuman terbaiknya.
"Hmmm, gimana ya? nggak janji ah, siapa tahu pas aku kuliah nanti ketemu yang lebih ganteng, lebih muda pokoknya yang lebih gitu."
"Ya, udah nggak usah kuliah. Kita nikah terus tinggal dirumah baru kita. jadi aku bisa puas sama kamu seharian."
"Aaaauuuww" Alam meringis kesakitan ketika Ina mencubit perutnya. Matanya menjelit manja kearah Ina. Tangan Alam langsung membalas cubitan Ina, tapi Ina bisa mengelak. Sambil mengejek gadis itu berlari diikuti kejaran Alam yang masih ingin membalas.
"Nggak kena wweeeeeeek" Ina menjulurkan lidah tapi tubuh mungilnya tetap aktif berlari lincah mengitari bangku.
"Ina ... Ina kesini .. diam diam berlari ... datang pangeran tampan...
Hap!
__ADS_1
Lalu ditangkap!" Alam mendekap tubuh Ina dengan Erat.
"Itu bukannya lagu cicak didinding. Jadi kamu samain dengan cicak!" Protes Ina sambil berkacak pinggang.
"Bukan gitu, sayang. Kan liriknya aku ganti." bela Alam.
"Tetap aja kamu nyamain aku sama cicak."
"Iya, maaf, sayang."
Ina dan Alam memilih duduk dikursi panjang. Tangan Alam menjalar dibelakang leher Ina lalu sampai ke bahu. Ina merasa aneh dengan tingkah Alam seperti puber kedua.
"Lam"
"Hmm.."
"Aku berangkat ke jepang. Kamu janji ya mau nunggu aku selesai kuliah."
"Tidak. Tidak ada yang berangkat."
"Lam!"
"Apa! kamu mau kuliah di jepang tempat kuliah Rangga. Lalu kalian CLBK selama disana. Pulang kesini merencanakan pernikahan. Itu kan mau kamu,na."
"Lam!"
"Tapi nggak harus ke jepang, kan? Masih banyak universitas yang bagus diindonesia."
"Ya, kan ke jepang adalah cita-citaku sejak kecil." Ina tiba-tiba berdiri keluar dari pintu rooftop. "Aku mau pulang!" Pamit Ina.
Alam mengejar Ina yang masih kesal "Na..." Tapi Ina tak memperdulikan panggilan Alam. Langkah terus melaju sampai di depan pintu kantor.
Ina menyusuri jalan berharap dicegah Alam. Tapi nyata lelaki itu tidak mencegahnya sama sekali.
"Mbak mau kemana?" Suara sapaan terdengar disampingnya.
"Mau naik becak nggak mbak?" Suara itu si abang becak terus mengganggu Ina.
"Maaf, pak. Saya lagi pengen jalan kaki biar sehat." Jawab Ina tanpa menoleh kearah si pengayuh becak.
"Sombong amat, Mbak. Kalau ngomong nengok kenapa?"
"Maaf, pak. Saya sudah ada yang punya." jawab Ina.
"Saya juga ada yang punya kok, mbak. Orangnya imut cantik tapi suka ngambek."
Ina merasa gerah dengan si abang becak akhirnya menoleh. Senyum mengembang dari si abang becak gadungan. Ina masih memasang wajah juteknya meskipun dia tahu siapa pembawa becak.
__ADS_1
"Yang..." Alam menyikut lengan Ina.
Ina masih melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan panggilan Alam.
"Duh, Gini, ya rasanya pacaran sama ABG." Alam menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"Alam turunin aku!" Pekik Ina yang kaget digotong Alam lalu didudukkan ke bangku becak.
"Neng tenang aja, nanti abang anterin ke tempat yang paling romantis. Neng mau kemana abang anterin deh. Tapi jangan jauh-jauh dari abang, ye." Alam mengoceh sambil mengayuh becak.
Ina terkikik dibalik bangku becak. Dia tidak bisa menyembunyikan tawanya melihat gaya Alam mengayuh becak. Matanya menjelit kesal melihat kekasihnya jadi tontonan orang.
"Duh, mas. masih muda kok bawa becak. Jadi mantu saya aja. Anak saya ada cewek satu masih muda." Promosi seorang wanita saat Alam menepikan becaknya.
Klik
"Sayang, kita sudah sampai dirumah." Alam memberhentikan mobilnya didepan pagar rumah.
Sejak dalam perjalanan Ina tertidur. Setelah puas jalan-jalan bersama Ina. Kini waktunya mereka pulang ke rumah.
Alam memandang lama kekasihnya sambil membelai rambut panjang Ina.
"Kenapa perasaanku tidak enak, ya? Apa mungkin cuma perasaanku saja? Semogalah. Aku cuma minta satu, saat ini aku butuh kamu menjadi penyemangatku,Na. Seandainya mama Yulia memang mau menguatkan hak asuh Shasa, aku takut tidak diberi kesempatan membesarkannya."
Ina sebenarnya sudah bangun. Dia mendengar semua ucapan Alam. Dia merasa bersalah jika tetap melanjutkan hubungan tersebut. Tapi tidak dapat di pungkiri kalau dia juga mencintai Alam.
Maafkan aku, Lam. Gara-gara aku kamu kena imbasnya. Ya Allah apa yang harus aku lakukan.
Ina pura-pura terbangun lalu berpamitan dengan Alam. Lelaki itu mengecup kening Ina sebelum turun dari mobil. Setelah mobil Alam pergi, Ina masuk ke dalam rumah.
Ina berjalan memasuki rumah. Suasana rumah sepi dan gelap. Dia menebak kalau kakaknya sedang tidak ada dirumah. Ina melangkah pelan menuju tangga kamarnya. Dengan selamat Ina memasuki kamarnya lalu menghidupkan lampu.
"Darimana kamu?" Yulia duduk di dekat jendela kamar mengagetkan Ina.
"Jalan-jalan kak." Jawab Ina melepaskan tasnya dan menghempas tubuhnya dikasur.
"Kemana dan sama siapa?" cerca Yulia.
"Sama-sama teman lah kak."
"Siapa teman kamu? Laras? Tadi Laras kesini nyari kamu."
Ina hanya diam.
"Akhir-akhir kamu berubah, Na. Sering keluyuran tidak jelas. Kamu sering ketemu sama siapa sih? Rangga? Reza? Ataaau ..."
"Kak, aku capek. Aku mencari informasi tentang kampusku di jepang. Kak Rangga mau bantu aku untuk fasilitas di kampus sebab dia alumni disana. Makanya aku beberapa hari ini sering keluar kak."
__ADS_1
"Ngapain kamu minta bantuan Rangga. Kamu nggak lupa, Na, Rangga itu mau bantuin kamu karena mau dekati kamu. Dia pernah nyakitin kamu dan kamu masih bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Dimana harga diri kamu!"