
POV ALAM
Mungkin saat ini aku adalah laki-laki paling merana. Lebay? mungkin iya. Sampai aku lupa kalau kami sudah putus...tus...tuuus.
Jujur jika mau diungkapin dari perasaan yang paling dalam, perasaanku sakit.
Jujur kenapa ini lebih sakit ketimbang melihat Gita yang masih peduli sama ilham.
Wajar, karena awalnya yang diharapkan Gita menjadi suaminya bukan aku tapi Ilham. Karena setelah aku kecelakaan dan mengganti wajah, aku menghadapi kenyataan Gita yang sudah kembali bersama Ilham.
Sakit rasanya melihat kebersamaan mereka. Aku mencoba memasuki kehidupan mereka.
Mencoba menjadi sosok yang selalu ada untuk Gita. Meskipun saat aku mengaku pun pundi-pundi kepekaannya tidak terlalu tajam. Dari situ aku menyadari kalau memang sejak awal cintanya bukan buat aku.
Tapi kami sudah terlanjur menjadi suami istri. Aku pun berusaha berjuang agar Gita tidak memikirkan Ilham lagi. Berhasil? Alhamdulillah kami menjalani rumah tangga yang bahagia. Meskipun banyak masalah dalam rumah tangga kami. Hingga kami pun pernah bercerai karena campur tangan kedua orang tua masing-masing.
Maut ....Iya ... Maut yang memisahkan kami. Kanker yang diderita Gita mempengaruhi kandungan. Dia pergi meninggalkanku dan anak kami, Vanesha Romanda Putri atau yang kalian kenal Shasa.
Sekarang hatiku terpaut pada satu nama, yaitu Karina. Karina yang wajahnya mirip mendiang istriku, Karina yang sejak kehadirannya mengetuk hatiku yang lama beku, Karina yang ternyata adik mama mertuaku.
Sumpah perasaan ini benar-benar nyata. Bukan karena dia mirip Gita, tapi cinta ini sudah tumbuh dari hati yang terdalam. Harapanku, Ina adalah pelabuhan terakhirku. Mengejar cintanya sangat sulit, dan sampai sekarang belum kugapai restunya.
Sampai akhirnya berbagai masalah yang kami hadapi bertubi-tubi. Hingga kami sepakat menurunkan ego. Sepakat mengakhiri apa baru saja kami mulai.
Saat keluarga Gunawan datang kerumah bersama dia pastinya. Aku senang bisa melihatnya lagi. Kemunculannya yang tiba-tiba menjadi angin segar buatku. Bahagia walaupun hanya bisa memandangnya. Aku berusaha mati-matian mencari celah agar bisa bicara berdua saja. Selesai acara makan siang dua keluarga. Kulihat dia menerima telepon entah dari siapa. Karena saat menerima telepon dia pamit ke teras belakang.
"Alam, ngapain?" Ina berbalik setelah menerima telepon.
"Ina."Sahutku, Menahan perasaan deg-degan.
"Ada apa?"
"Boleh aku tanya satu hal?" Ucapku
"Boleh"
" kamu yakin sama Gilang?"
Tampak wajahnya celingak-celinguk seakan tak ingin menatapku.
"Yakin! Kalau nggak yakin nggak mungkin aku menerima pertunangan ini. Paling tidak Gilang, tidak punya masalalu yang buat dia gagal move on."
"Aku bahas soal kamu dan Gilang.Bukan bahas siapa yang gagal move on. Aku kenal Gilang sudah lama, walaupun diantara kita sudah tidak ada hubungan. Tapi bisa kah kamu mendengar pendapat oranglain?"
"Aku pamit. Kak Gilang dan aku mau fitting gaun."
Aku menghela nafas panjang. Sikap Ina yang terkesan dingin padaku, benar-benar membuatku sesak. Aku tidak berharap dia minta balikan, tapi paling tidak bersikap biasa saja kan bisa.
__ADS_1
"Jadi bagaimana rencana kita Dul?"
"Ah, kamu tenang saja, Bobby. Rencana kita akan berjalan lancar. Aku akan bujuk Lia"
Rencana apa yang akan mereka buat?Kenapa sepertinya aku penasaran dengan hal ini.
Ah,Paling juga rencana mereka soal kerjasama perusahaan. Biasanya 'kan seperti itu.
"Kami pamit pulang, ya?"
Aku pun beranjak mendekati mereka. Menyalami keduanya. Tampak dimataku Ina duduk di sebelah mama. Rotasi kaca yang menghadap kearahku tapi seakan dia tak melihat. Tatapannya seperti tidak bahagia, itu yang kulihat.
Ah, Itu perasaanmu saja, Lam. Karena sejujurnya aku yang belum ikhlas bukan Ina.
Setelah mobil mereka menghilang dari halaman rumah. Kami memutuskan masuk kedalam. Tak ada obrolan apapun di dalam ruangan. Aku duduk teras belakang menemani Shasa yang masuk kedalam kolam ikan.
Putriku yang satu ini sangat riang sekali. Ah, Gita lihatlah anak kita, dia tumbuh menjadi anak yang ceria. Aku merindukan kamu, Gita.
"Lam"
"Iya, pa"
"Papa mau bicara serius sama kamu. Bisa ikut papa ke ruangan."
Aku mengikuti permintaan papa. Entah kenapa aku merasakan ada yang penting akan mereka bahas. Ada Ibu dan juga Rere. Kenapa rasanya aku seperti disidang? Apakah karena video penangkapanku dan mempengaruhi kelangsungan perusahaan. Tumben papa melibatkan Ibu dan Rere.
Aku?Kan apa kubilang. Pasti soal yang di anyer itu. Apakah mereka akan mencabut jabatanku? Kalaupun iya, aku terima konsekuensinya. Toh, aku bisa pulang ke sukasari bersama Shasa. Ah, tidak aku harus menguatkan hak asus Shasa dulu. Tidak mungkin aku main bawa saja.
"Kalau memang kalian menghukumku untuk soal di anyer. Aku terima konsekuensinya."
"Hahahahaa... Iya kami memang menghukummu dengan syarat"
"Syarat?"
"Iya. Dengan syarat kamu harus menerima pertunangan dengan perempuan pilihan kami."
Syarat apa ini? Pertunangan? Astaga!
"Bagaimana, Lam." Sahut Ibu.
"Papa dan Ibu aneh. Masa aku diopor-opor. Kalaupun ada yang mau sama aku, harus bisa menerima Shasa." Protes.
"Lam, ini buat kebaikan kamu nak? Agar kamu tidak larut dalam kegalauan. Ibu dan Papa sudah tua. jika kamu mau sama dia, papa akan langsungkan pertunangan kalian besok. Kalau cuma cari tempat kita punya gedung milik keluarga.
Kamu adalah cucu tertua di keluarga kita. Meskipun jarak usia kamu lebih tua 6 bulan dari roki. Harapan papa besar padamu,nak. Kamu pun harus punya pendamping hidup."
Aku merasa tidak enak pada keduanya. Aku tahu rencana mereka sebagai bentuk sayang.
"aku..."
__ADS_1
"Baiklah, tapi bolehkah kami saling mengenal terlebih dahulu."
"Boleh, nak. Kalau seandainya kamu merasa tidak cocok, kamu boleh menolaknya. Tapi ibu yakin kamu tidak akan menolaknya."
Aku penasaran seperti apa perempuan pilihan mereka.
Klik
"Gimana? Masih segugut?" Laras mengangguk. Tubuhnya merasa lemas di hari pertama haid.
"Maaf, Ya, mas." Laras merasa tidak enak.
"Nggak, papa, sayang. Kan sudah sah, jangan kapanpun kita bisa kok." Jawab Rangga mencoba berbesar hati.
Kemarin malam, Laras dan Rangga mencoba menunaikan kewajiban pertama sebagai sepasang suami istri. Namun, tiba-tiba Laras mengeluh nyeri di perutnya. Rangga mengira hanya alasan Laras yang belum siap dijamah. Tapi ternyata dugaannya salah. Laras pingsan setelah mencoba melawan rasa sakitnya.
Akhirnya Laras di bawa ke puskesmas yang letaknya jauh dari cottage. Dari keterangan dokter baru diketahui kalau Laras sedang menstruasi. Rangga yang tidak terlalu paham dengan penjelasan dokter hanya diam.
"Kalau perempuan sedang menstruasi apa bisa berhubungan." Tanya Rangga yang membuat Dokter cantik itu tak bisa menahan tawa.
"Sudah berapa lama kalian menikah?"
"Baru kemarin dok." jelas Rangga.
"Oh, begitu. Kalau saran saya, ya..anda harus bisa menahan diri sekitar satu minggu."
"Whaaat lama sekali." Kaget Rangga.
"Harus bersabar."
Dokter pun pergi meninggalkan Rangga.
Sekarang mereka masih berada di Anyer. Menikmati liburan setelah resepsi. Entah ini bisa dibilang bulan madu atau bukan. Pasalnya, Sejak haid pertama Laras tak bisa beraktivitas.
Rangga muncul membawa beberapa makanan. Tadi dia searching di internet tentang makanan untuk mengurangi nyeri haid istrinya.
Laras menatap Rangga yang menyuapinya. Ada rasa tidak enak karena di layani suaminya, dia merasa harusnya dirinya yang membaktikan pada suaminya.
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
Bersambung
__ADS_1