
Buat aku meminta lowongan pekerjaan pada kak Dul untuk mengisi waktu. Aku belum sarjana, kuliahku saja berhenti untuk sementara. Kata kak Lia kasusku lagi diusut karena tidak ada itikad baik dari kampus. Aku hanya pasrah, jika memang mereka tidak mau menerimaku. Toh, aku bisa kuliah di tempat lain atau mungkin aku bisa kuliah di jepang. Di kampusnya kak Rangga.
Barusan kak Dul mengatakan bahwa ada lowongan buat aku. Yang katanya di perusahaan kenalannya. Aku cuma bisa ikut saja. Toh, dimanapun itu sama saja, yang penting tidak menganggur.
Untuk tamatan SMA seperti aku, mendapatkan tawaran kerja walau hanya staf biasa sudah bersyukur. Ya, walaupun aku melalui jalur koneksi. Kalau kata kak Dul, dia cuma bantu nyarikan, soal penempatannya terserah perusahaan. Ya, aku juga tidak berpikir muluk sih.
Pukul sepuluh aku sudah tiba di perusahaan Spencer. Mataku memandang isi ruang tunggu. Sepi! tidak ada orang lain selain aku. Walaupun sedikit rasa kantuk mendera pada akhinya aku memberanikan diri mendatangi resepsionis.
Hingga akhirnya seorang wanita mengantarku pada sebuah ruangan. Sebelumnya aku membenahi pakaian agar terlihat rapi.
"Silahkan masuk, mbak."
Mbak yang mengaku bernama Alena pun mempersilahkan aku masuk.
"Pak yang mau interview sudah datang."
Aku hanya melihat kursi yang hanya menghadap dinding. Saat ada mempersilahkan masuk, aku seperti mengenal suara itu.
"Pak saya mau ..."
Dan kursi itu berbalik. Senyumnya mengembang seakan sedang mengerjaiku.
"Kamu!"
Terkejut! Iyalah. Aku tidak pernah terpikir kalau direkturnya adalah dia.
Haduh, kiamat .... ini kiamat ... punya bos kayak dia! yang ada jantungku bakal kumat tiap hari. Makan hati, apalagi cara ngomongnya ketus banget.
"Selamat datang. Nona manja."
__ADS_1
Nona manja! enak aja dia manggil aku begitu.
"Oke kita mulai interviewnya. Kamu harus tahu kalau saya tidak suka cewek lelet, saya suka kopi gulanya sedikit saja, makanan saya biasanya lebih suka telur ceplok setengah matang, saya ...."
"Stop! Saya disini mau kerja bukan jadi OB."
"Memang kamu ditempatkan jadi OB kok. Hanya kamu cuma khusus kebutuhan saya. Termasuk membersihkan ruangan saya. Paham!"
Aku hanya bisa mencelos. Bagaimana bisa aku malah jadi OB, terus mengurusi keperluan dia pula. Hadeeeeh! tidak benar ini.
"Nona Karina Permata, bagaimana?"
"Saya pikir-pikir dulu, pak."
"Jawabannya ada dua. Mau atau tidak?"
"Maaf, saya mengundurkan diri." Aku pun beranjak dari ruangan bapak resek itu.
Dia berdiri didepan pintu seakan mempersilahkan aku keluar ruangan. Masih dengan senyumannya yang bikin aku mual melihat.
"Kasihan papa Dul, sudah nyari koneksi buat adik tersayangnya. Eh, adiknya malah nolak lowongan. Diluar sana banyak yang nyari kerja, bahkan yang sarjana pun masih mau bekerja sebagai OB. Kamu yang hanya tamat SMA, malah milih milih kerja. Tidak bersyukur."
"Heh, dengar, ya. Bapak Resek, kalau tahu ini kantor kamu aku ogah kerja disini. Apalagi mulut cabe kayak kamu. Heh, anak tiri tapi banyak gaya."
Aku sengaja bilang begitu, pengen tahu reaksinya. Selama ini aku mencoba diam setiap berkata kasar.
"Oh, Gitu" Dia mendorong tubuhku ke dinding.
"Dengar! Kalau tidak karena papa Dul, aku juga ogah menerima kamu bekerja disini. Kamu itu cuma cewek manja, nggak bisa apa-apa, dan pasti tidak pernah kerja. Jadi aku tidak kaget saat kamu menolak lowongan ini."
__ADS_1
Aku pun meninggalkan kantor. Rasa kesal membuncah dalam dada, ingin rasanya aku membanting orang kalau tidak memikirkan sedang berada dimana.
Zreeeet zreeeeet
"Na..."
"Iya, kak Dul"
"Katanya kamu nolak lowongan dari perusahaan?"
"Iya ... masa aku jadi .."
"Coba aja dulu, na. Hitung-hitung sambil nyari kampus kamu."
Haduh. Aku malas banget balik lagi kesana.
"Inaaaa..."
Kakiku terhenti saat suara itu menggaung di telingaku. Sosok yang sudah hampir satu bulan tak ingin kutemui. Sosok yang sangat aku rindukan, sekarang ada di hadapan.
Tak lama kepalaku sudah berlabuh diatas dadanya. Wangi tubuhku yang sangat aku rindu. Sejenak aku lupa kalau kami sedang di tempat umum.
"Kakak kangen kamu, Na."
"Aku juga."
Kami saling bertatapan. Senyum dan lesung pipinya membuat aku tidak ingin melepaskan pandangan.
Ya Allah jika aku bisa meminta, aku tak ingin waktu ini cepat berlalu. Aku mencintainya dan kami saling mencintai.
__ADS_1