Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
23. Sebuah Rasa


__ADS_3

"Sudah pulang, Lam." Sapa mama Yulia ketika melihat menantunya sedang duduk diteras rumah.


"Sudah dari tadi, ma. Mama belum tidur?"


"Nggak bisa tidur, Lam. Mama rindu sama Gita, putri mama satu-satunya."


"Sama, ma. Alam juga rindu Gita. Biasanya ketika Alam bangun tidur ada sosok wanita yang selalu meminjamkan lenganku mengganti bantal. Biasanya saat aku mau lelah ada Gita yang selalu menyemangati aku, ma. Sekarang penyemangatku sudah hilang."


"Kamu jangan lupakan Shasa, Lam. Dia juga penyemangat kita dalam menjalani hari-hari. Shasa bahkan menjadi pengobat rindu mama kalau sedang ingat sama Gita."


"Maafkan aku, ma. Maafkan aku dan keluargaku yang sudah membuat Gita seperti ini. Maafkan ibuku jika selama ini belum menjadi mertua yang baik untuk Gita. Alam tahu mama sampai saat ini belum bisa memaafkan ibu. Alam juga tahu mama masih belum bisa menerima Alam sepenuhnya."


"Lam, mama sudah memaafkan kamu, nak. Tapi maaf mama masih sakit hati dengan ibumu, bagaimana dia memperlakukan Gita dulu. Bahkan dia berusaha membuat kalian bercerai, hingga Gita drop beberapa kali. Bahkan saat kamu dipenjara dan Gita masuk rumah sakit, mereka tak ada satupun yang peduli sama Gita. Sakit rasanya, lam melihat anak mama diperlakukan seperti itu."


Alam hanya bisa terdiam. Disadarinya memang sejak dirinya berpacaran dengan Gita, ibunya yang pertama menentang hubungan mereka. Alam tahu kalau mama mertuanya dan ibu kandungnya punya masa lalu yang tidak baik. Masalalu yang berdampak hubungan mereka. Lelaki itu tiba-tiba bersujud di kaki mertuanya.


"Atas nama ibuku, tolong maafkan mereka, ma. Aku tahu Ibu dulu yang menentang hubungan kami. Aku tahu dulu Ibu seberapa keras pada kami berdua. Tapi sekarang ibu sudah berubah, ma. Tolong maafkan kesalahannya dimasa lalu, ma."


Yulia menatap langit, memang benar kata menantunya kalau dirinya saat ini masih merasa terluka dengan sikap keluarga spencer pada putrinya. Mama Yulia masih menghargai Alam sebagai ayah dari cucunya.


"Ma, aku kedalam dulu." pamit Alam meninggalkan ibu mertuanya sendirian.


klik


Kelap-kelip lampu kendaraan berjejer layaknya lampu neon. Tampak dari atas gedung pencakar langit bahwa kota Jakarta terlihat menawan. Cahaya rembulan yang menyinari kegelapan malam.


Seorang lelaki bertubuh tinggi tegap, berdiri disamping kaca ruangannya. Wajahnya yang tampan sesekali tersenyum sehingga memperlihatkan lesung pipinya. Salah satu tangannya memegang jendela dan tangan satu lagi dimasukan ke dalam kantong.


Pikirannya bergelayut mempertanyakan sikap seseorang. Dalam benaknya kenapa orang itu menghindarinya? Apa salah dirinya? siapakah lelaki yang bersamanya?


Pertanyaan demi pertanyaan bertumpuk membelenggu pikirannya.


"Pak, Rangga." Ucap suara seorang wanita yang membuatnya sukses berhenti melamun.


"Iya."

__ADS_1


"Ini pak, dokumen yang tadi bapak minta."


"Oh iya. Saya pelajari dulu, nanti saya panggil lagi."


"Iya, pak." Setelah meletakkan berkas, wanita itu langsung undur diri dari hadapan bos nya.


Rangga membuka beberapa berkas yang ada di mejanya. Namun, lagi-lagi pikirannya tertuju pada sikap Ina yang terus menghindarinya. Rasa penasaran pada sosok pria yang bersama Ina ikut menggelitik hatinya.


"Siapa lelaki itu? Kenapa Ina lebih memilih duduk dengan lelaki itu daripada bicara denganku?


Aaaaaarrrrghhh .... kenapa aku seperti ini? Gila kamu Rangga! Iya aku Gila, gila karena rasa tanggung jawabku pada Ina. Gila karena aku mencintainya."


Rangga meninggalkan ruangannya yang terletak di lantai 7. Bergegas mengambil kunci mobil dan jas kantornya. Dia yakin Ina takkan menghindarinya kalau datang kerumah.


"Tapi apakah Ina sudah pulang kerumah? Apa dia masih tinggal ditempat persembunyiannya? Aku cek saja langsung."


Baru saja kakinya melangkah keluar kantor, Rangga merasakan gawainya bergetar. Langsung saja dirinya memakai headset yang tertempel di kantong bajunya.


"Iya, ma."


"Iya, aku masih dikantor. Ada apa?"


"Kamu pulang, ya. Ada keluarga om alex disini. Ada jihan juga."


Rangga mendengus, akhir-akhir ini orangtuanya getol menyuruh dirinya dekat dengan Jihan. Memang dia dan Jihan sudah akrab sejak Beberapa tahun yang lalu. Jauh sebelum kedua orangtua mereka terlibat satu project. Tapi dia hanya menganggap Jihan tak lebih dari teman baik, bahkan Jihan pernah bilang tak ingin lebih dari sahabat.


Dan sekarang perempuan itu bersikap seolah mau didekat-dekatkan dengan dirinya. Itu membuat Rangga jengah, menganggap Jihan tak konsisten dengan ucapannya. Hembusan nafas berat keluar dari rongga mulut. Mau tak mau dia memutar mobilnya untuk pulang ke rumah.


Mungkin aku belum bisa bertemu dengan Ina saat ini. Tapi aku yakin waktu yang akan mempertemukan kami, waktu yang akan mendekatkan kami bukan sebagai kakak adik. Aku takkan lelah berharap, Na.


Dan aku juga harus mencari waktu untuk menjelaskan pada Jihan agar dia tak berharap banyak. Hatiku cuma untuk Ina seorang. Tidak lebih. Semoga saja Jihan mau menerima keputusa yang aku buat. Dia kan sudah dewasa, dia pasti paham.


Sebuah mobil merek BMW keluaran terbaru memakirkan di depan sebuah rumah besar. Kaki panjangnya melangkah ke lingkupan tangga yang hanya 5 tingkat. Tangannya membuka gagang pintu stainless.


Senyuman merekah menyambutnya didepan ruang tamu. Bibir membalas senyuman sang mama, pelukan hangat ibu dan anak menjadi tontonan haru bagi siapapun melihatnya.

__ADS_1


"Om, tante .. apa kabar?" sapanya pada kedua tamunya sambil mencium tangan keduanya.


"Baik, Rangga kamu semakin mirip sama Aryo, gagah dan tampan." Puji Alex.


"Makasih, om. Jihan mana?"


"Ciyeee ... udah ditanyain. Samperin dia lagi teras belakang dekat kolam renang." goda Raya saat putranya menanyakan Jihan.


"Iya, ma."


Laki-laki itu langsung melangkah keteras belakang. Tampak wanita memakai dress silver membalut tubuhnya yang putih. Lama dia menatap sosok itu yang menenggelamkan kakinya dipinggir kolam renang.


"Hai." Sapanya.


"Hai juga, Ga. Udah pulang." Sapa Jihan datar.


"Kalau belum pulang yang didepanmu siapa?"


"Wowo kali ... hahahhaaha."


"Haish ... wowo nya ganteng kan ... " ucap rangga penuh percaya diri.


"Ishhh ... ganteng tapi belum laku ... hahahaha.."


"Kayak kamu laku aja .. aku mah laki ampe tua mah masih ada yang nyari."


Pletak


"Dasar bangkotan ... " Jihan menjulurkan lidah.


"Gimana keadaanmu? Luka mu sudah kering." Tanya Rangga.


Mengingat yang dia tahu, Jihan belum lama ini habis operasi karena ada penyakit di dinding rahimnya.


Jihan kamu itu gadis yang baik.Tapi maaf aku belum bisa membalas perasaanmu. Semoga suatu saat kamu menemukan seseorang yang bisa menerimamu. ucap Rangga dalam hati

__ADS_1


Rangga, walaupun orangtua kita berusaha mendekatkan kita. Tapi maaf, aku belum punya perasaan apapun padamu. Saat ini aku masih nyaman dalam zona pertemanan, tidak lebih dari itu. Ada sosok lain yang kucintai, tapi aku juga tak bisa bersatu bersamanya. ucap Jihan dalam hati.


__ADS_2