
Berapa kali seseorang membutuhkan waktu untuk jatuh cinta. Mungkin kalau orang lain yang senasib dengan Alam butuh bertahun-tahun untuk mengikrarkan kesetiaannya. Itu yang pertama dialami Alam setelah Gita meninggal. Dengan keteguhan kuat berjanji tidak akan ada yang menggantikan mendiang istrinya. Apakah ampuh? Ternyata tidak. Sejak kehadiran Ina semua mengubah segalanya. Meskipun Alam masih belum bisa mengikis Gita dihatinya. Alam harus menelan ludahnya sendiri ketika hatinya mulai panas saat Ina pacaran dengan Rangga.
Apakah dia harus terang-terangan mengatakan pada Ina kalau hatinya mulai berdetak. Alam malah mengagungkan kegengsiannya. Dia memilih bersikap dingin pada gadis yang mirip dengan mendiang istrinya. Itupun untuk menutupi bahwa pesona kemiripan yang mulai mengubah pikirannya.
Beberapa wanita sudah disodorkan ibuku, termasuk sekretarisnya Alena yang masuk kandidat. Sampai kencan buta pun disodorkan Marni dengan alasan Shasa butuh ibu. Alam masih berpegang teguh bahwa putrinya tidak akan kekurangan kasih sayang. Hingga suatu hari mama mertuanya menemukan seorang gadis yang pingsan ditengah jalan. Semua dimulai dari sana, sebuah getaran yang tak biasa. Alam masih mencoba menampik perasaannya. Dia yakin kalau gadis itu hanya mirip saja. Alam mulai merasa mama mertuanya berubah saat gadis itu masuk di lingkungan keluarga mendiang istrinya. Mama mertuanya mulai protektif saat dirinya mencoba mengakrabkan diri dengan gadis "kembaran istrinya."
Alam pun tidak menyangka respon ibunya sangat bagus ketika mengenal Ina. Sampai suatu ketika saat acara ulangtahun istrinya Ilham yang diadakan secara mewah. Ibunya terus menanyakan Ina.
Flashback on
Pagi ini keluarga Spencer sudah bersiap-siap sarapan di lobby atas. Mama Marni menggendong Shasa sambil mengajak sang cucu melihat pantai. Alam menyusul sang ibu untuk menggantikan mengasuh Shasa.
"Lam" Mama Marni mendaratkan bokongnya di gazebo.
"Iya, bu." Sahut Alam sambil menggoyangkan tubuh bermain dengan sang putri.
"Ina mana? Kok semalam ibu nggak melihat dia. Ibu cuma Yulia sama Dul."
Alam menatap sang mama dengan pandangan aneh. Aneh buat dia karena Ibunya menanyakan Ina.
"Mana ketehe, bu. Ngapain juga aku ngurusin dia. Kayak kurang kerjaan aja." Mama Marni terkekeh mendengar jawaban putranya.
Kamu jangan begitu, lam. Kamu lupa sudah dua hari Ina membantu mengasuh Shasa. Coba tanya sama mama mertuamu soal Ina."
Alam mendengus kesal. Entah kenapa dari mama Yulia hingga mama Marni begitu menyukai Ina. Padahal menurutnya, sikap Ina standar-standar saja. Tidak ada yang wah dalam diri gadis itu. Alam membawa Shasa menghindari obrolan ibunya.
"Selalu saja, Ina. Apa sih bagusnya anak itu? ya, memang dia mirip Gita tapi sikapnya tidak mirip sama sekali." Omel Alam.
Kakinya terhenti saat melihat gadis yang baru saja diumpatnya, Alam memilih berbalik arah tapi shasa menangis saat melihat Ina.
Aaaaammaaaa aaaaaamaaaaa
Alam kelimpungan menghentikan tangisan shasa. Berkali mencoba menenangkan sang putri tapi tetap saja merengek.
"Ayah macam apa yang diam saja lihat anaknya menangis!"
Alam berbalik melihat Ina berkaca pingggang. Ina meraih Shasa dari pangkuan Alam. Alam mendengus pelan, menatap gadis itu layaknya penculik anak.
ciiiiii lukkkk baaaaaa
Ina menutup wajahnya lalu membuka kembali. Shasa yang tadinya murung menjadi riang kembali.
__ADS_1
Ina membawa Shasa tanpa memperdulikan kehadiran Alam. Tentu saja Alam langsung mengikuti Ina dari belakang.
"Pelan-pelan main sama bayi. Awas kalau anakku kenapa-kenapa" omel Alam saat ini meletakkan shasa diatas kepalanya.
Mereka berjalan beriringan. Suasana terasa hening hanya kicauan suara Shasa yang mengoceh versi dunianya.
"Kak boleh nanya?" Ina memulai obrolan demi memecahkan keheningan.
"Waktu dan tempat dipersilahkan."
Ina tertawa kecil.
"Laki-laki diphoto kamar kakak siapa? kayaknya dekat banget sama Gita."
Alam menjelit kearah gadis disampingnya. Yang ditatap masih asyik bermain dengan Shasa.
"Itu aku." jawabnya
Ina memandang Alam dari atas sampai bawah. Dimatanya sosok yang ada dihadapannya sama sekali tidak mirip dengan lelaki yang diphoto itu.
Gadis itu menertawakan Alam, mengira lelaki itu sedang menghalu.
Ucapnya sambil tertawa.
Ina menendang pasir dengan kuat membuat Alam segera mengambil putrinya dari pangkuan gadis itu.
"Kamu mau bikin anak saya sakit mata!" bentak Alam.
"Maaf, kak." Ina menunduk takut. Langkah nya berjalan mundur pelan-pelan.
Tiba-tiba dia merasa menginjak sesuatu yang bergerak. Sontak Ina kaget langsung memeluk Alam. Nafasnya terdengar seperti sesak. Ina dan Alam saling bertatapan lama.
Kenapa jantungku seperti ini. Ah, Alam dia masih kecil, kamu ingat janjimu pada mendiang istrimu untuk tidak jatuh cinta lagi.
"Maaf, kak aku reflek"
"Huuuh... kamu mau nyari kesempatan 'kan. Jangan kamu pikir saya akan tergoda sama kamu nona Ina."
Alam pergi membawa Shasa menjauhi Ina.
"Hidih, sok kecakepan. Siapa juga yang mau duda seperti kamu! Justru kak Rangga 100 kali lebih dari kamu tuan Alam"
__ADS_1
"Oh ya? awas aja kalau dia nggak nikahin kamu. Kan dia sendiri yang bilang sama papa Dul bahwa sudah melamar kamu."
Flashback Off
Tapi siapa sangka mereka sekarang benar-benar merajut kasih. Layaknya orang kasmaran Alam terus menelepon Ina hanya sekedar menanyakan lagi apa, ada dimana, sudah makan apa belum.
Ina menceritakan kerisihannya pada Laras.
"Hahahaahaha ... dia bucin sama kamu, Na." Laras tertawa lepas ketika mendengar cerita Ina.
"Bayangkan, Ras. Dia terus menelepon cuma untuk nanya yang nggak penting gitu. Beda dengan kak Rangga. Dia nggak gombal tapi romantis." Ina merasa Alam terlalu norak.
"Na, jangan dibandingkan. Setiap pasangan membuktikan cintanya dengan cara yang berbeda. Kalau kak Rangga kamu bilang romantis hanya dengan kejutan kecil. Lalu bagaimana dengan Alam yang menyelamatkan kamu di kolam renang. Sampai ngasih nafas buatan pula."
Ina terkejut mendengar ucapan Laras. Rasanya masih belum percaya kalau Alam lah yang memberikan nafas buatan.
"Ras, jadi dia juga ngasih nafas buatan?"Laras mengangguk kecil.
"Kenapa nggak bilang dari awal?" Protes Ina.
"Kamu mau kemana, Na?" Laras melihat Ina mengambil tas.
"Mau ketemu Alam mengucapkan terimakasih." Sahut Ina.
"Modus kamu, Na. Bilang aja mau pacaran." Laras terkikih melihat wajah Ina memerah.
"Apaan sih, Ras?"
"Na, bukannya kamu nggak suka LDR ya? Nanti kalau kamu ke jepang, hubungan kamu sama Alam gimana?"
Ina terdiam. Sampai saat ini status hubungan mereka masih backstreet dari kakaknya. Meskipun Alam sering nekat datang ke rumah dengan membawa Shasa. Tiap mereka mau ngedate saja harus bertemu di tempat lain.
Alam beberapa kali berniat menemui Yulia membicarakan hubungan mereka. Ina selalu melarang dengan alasan belum siap.
"Maafin aku, lam. Aku belum siap membuka hubungan kita didepan kak Lia." Kata Ina membujuk Alam.
"Na, usiaku bukan buat hubungan main-main. Aku serius sama kamu."
"Iya, aku tahu. Tapi untuk saat ini timenya belum tepat. Lagian hubungan kita baru seminggu 'kan? jadi santai saja."
Dan seminggu lagi aku berangkat, Lam. Maaf aku belum bisa mengatakan soal keberangkatanku.
__ADS_1