
Di rumah sakit Kasih Bunda
Bip .. bip ... bip ...bip
Suara monitor rumah sakit seakan berlomba dengan kencangnya degup jantung Alam. Tampak lelaki berjas putih berdiri di depan ranjang milik Shasa. Seragam berwarna biru plus masker yang senada, tak bisa menyembunyikan wajahnya yang sembab.
Tangannya menggenggam erat jemari kecil. Pemilik jemari yang sedang berjuang melawan maut, antara hidup dan mati. Pemilik suara ceria yang menghidupkan suasana rumahnya. Satu-satu harta yang ditinggalkan Gita untuknya. Alam menundukkan kepalanya, tenggelam ditubuh gadis usia 3,5 tahun tersebut.
"Nak, ini papa, ah dulu kamu memanggilku dengan panggilan Ayah. Lalu kamu minta izin mengganti panggilan dari ayah ke papa. Cuma karena kamu mau ikutan haiko. Kemaren mamanya meneleponnya nanyain kabarmu, nak. Katanya Haiko rindu sama Shasa.
Shasa bangun, nak. Kamu nggak kangen sama papa, sama mama, bentar lagi Shasa punya adek ganteng. Nanti kalau Shasa bangun bisa main sama adek ganteng."
Alam masih menunduk kearah putrinya. Sambil menyusut hidungnya. Wajahnya tampak sayu seperti banyak pikiran.
"Lam, kamu pulang dulu. Biar Shasa kami yang jaga." Ucap Rere.
"Lam!" Rere kembali memanggilnya.
"Iya."
"Saya minta saat di rumah kamu bicara dari hati ke hati sama Ina."
"Ina kenapa?" Muka Alam pucat saat mendengar nama istrinya.
"Pokoknya saat dirumah selesaikan masalah kalian." Rere meninggalkan Alam yang masih bingung.
Alam pulang ke rumah setelah seharian berada di rumah sakit. Tadinya dia ingin membeli beberapa barang untuk persiapan Ina melahirkan. Tubuhnya di rebahkan seakan lelah menyengat dirinya.
Tatapannya beralih ke sebuah amplop berjumlah tiga. Alam mengambil amplop yang ditengah dengan berlabel rumah sakit. Ada photo USG yang terpampang di depannya.
Mas, anak kita sehat.
Mas, tenang saja. Fokuskan ke Shasa saja. Aku bisa sendiri kok. Aku ada kak Lia yang menemani USG.
Alam menghela nafas, ada rasa bersalah karena tidak menemani istrinya check up. Tapi dia yakin Ina mengerti situasi sedang tidak baik. Alam meletakkan surat tersebut. Langkahnya beralih ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sehabis magrib dia akan kembali ke rumah sakit menemani Shasa.
Alam menghentikan langkahnya seakan ada yang janggal. Lama dia mencoba berpikir namun di tepisnya. Dia berpikir itu hanya perasaannya saja.
"Lam!" Panggil Marni pada putranya.
"Iya, bu." Alam mendekati ibunya yang berdiri di depan pintu.
"Kamu sudah makan?" Tanya Marni pada putranya.
"Belum, bu. Aku bisa makan dirumah sakit.
"Lam! Ibu mau ngomong sama kamu." Marni mencegat Alam berjalan keluar.
"Ada apa, bu? aku mau ke rumah sakit kasihan Shasa tidak ada yang jaga."
"Jadi benar dugaan Ibu. Kamu mengabaikan Ina."
"Siapa yang bilang, bu? Aku nggak pernah mengabaikan Ina. Apa Ina ada mengadu macam-macam sama Ibu? Harusnya Ina ngerti keadaan sedang sedih, harus dia paham anakku sedang melawan maut. Bukan karena aku mengabaikan Ina, tapi keadaan Shasa butuh perhatian ekstra."
__ADS_1
"Tapi apa kamu lupa Ina juga sedang mengandung anakmu. Apa kamu pernah tanya keadaannya? Sampai Rere menemukan istrimu hampir tidak bisa jalan akibat kontraksi kehamilannya. Apalagi kehamilan Ina sudah sembilan bulan. semua khawatir sama Shasa, termasuk Ina. Dia sempat menolak istirahat dirumah karena dia mikirin kamu sendirian dirumah sakit apa yang kamu lakukan? Kamu malah cuek bebek setiap Ina datang ke rumah sakit."
Alam kaget mendengar istrinya sampai mengalami kontraksi. Berkali-kali dia mengucapkan astagfirullah. Rasa sesal menderanya. Wajah tampan telah basah oleh bulir-bulir tetesan bening. Kakinya dilipatkan ke lantai seakan rasa penyesalan terasa menghujam hatinya.
Alam merasa ponselnya berdering. Dia mengangkat telepon dari Rere.
"Kak Alam!" Sapa Rere di seberang sana.
"Shasa kejang-kejang tolong ke rumah sakit sekarang."
"Baik, Re. Terimakasih sudah menjaga Shasa." Alam dan Rere pun menyudahi komunikasi mereka.
"Ada apa, lam?" Tanya Marni.
"Kata Rere Shasa kejang-kejang. Aku mau ke rumah sakit." Alam pamit pada ibunya.
"Lam, ibu ikut. Bi, bibi tolong jaga Jenny dan Reki ya. Saya mau kerumah sakit bareng Alam. Shasa kritis."
"Baik, bu."
"Ya Allah sembuhkan non Shasa dia masih kecil." Batin Diah.
Klik
Kediaman Gunawan
Ina duduk di ruang makan sambil membuka laptop. Mencari beberapa berita tentang kesehatan ibu hamil. Selama di Jepang Ina diikutsertakan oleh suaminya dalam senam ibu hamil, seminar tentang ibu hamil. Semua dilakukan suaminya dengan penuh sukarela. Ina yang tak suka sayur malah di bimbing suaminya agar mau makan. Bahkan Alam rela libur kantor supaya bisa menemani ke dokter.
"Na..." Yulia muncul membawa beberapa makanan untuk adiknya.
"Kamu makan dulu, sayang. Nih, kakak buatin bubur jemawut buat kamu."
Ina berbinar melihat hidangan yang di siapkan sang kakak. Sejak pindah ke Jepang, Ina susah menemukan bubur-bubur khas indonesia. Mungkin ada tapi Ina belum menemukannya. Pelan-pelan dia menikmati bubur kesukaannya.
"Na, suamimu tahu kamu kesini?" Tanya Yulia.
Ina hanya mengangguk pelan. Dia tahu salah kalau berbohong, baginya akan semakin runyam kalau harus jujur. Dia datang untuk menenangkan diri bukan untuk bikin kakaknya emosi.
Ina meneguk segelas air putih, mencoba berdiri meskipun terasa susah. Yulia menuntun Ina menuju kamarnya. Setelah Ina berada di kamar. Yulia meninggalkan sang adik.
Tak lama handphonenya bergetar.
"Iya, Lam."
"Apaaa! Shasa kritis!"
"Iya..iya ... Kakak kesana. Tapi Ina sendiri dirumah."
"Oke. Biar Ina sama bibi. Kasihan kalau dia ikut."
Yulia langsung mengabari Gery untuk mengantar ke rumah sakit. Yulia sengaja tidak mengabari Ina demi kondisi jantung dan janinnya.
Sementara setelah Yulia pergi ke rumah sakit. Ina pun terbangun, dia berusaha berdiri sendiri tanpa bantuan siapapun. Berusaha mandiri karena sejak kecil dia terlatih begitu.
__ADS_1
"Bi...Bibi.."
Tak ada sahutan.
"Kak Lia .. kak Lia ..."
Sama saja tak ada sahutan. Ina merasa ada yang basah di pelipis pahanya. Namun dia mengacuhkan memilih melanjutkan jalannya.
Hingga tiba di dapur. Ina melihat air keluar dari pahanya.
"Ini air apa?"
"Bibi.... kak Lia ...." Ina merasa tubuhnya mulai kontraksi.
Beberapa saat kemudian terdengar suara kaki melangkah. Teriakan si bibi terdengar melengking di dapur. Bi Endah dan Bi Suti memanggil Rahmat supir baru mereka.
Ina terus mengerang kesakitan. Sementara mereka menghubungi Yulia untuk mengabari Ina mau melahirkan. Bi Suti juga menghubungi Alam namun tak diangkat.
"Rahmat! Cepetan!" Pekik Bi Endah.
"Sakit!" Ina terus mengerang.
"Iya, non kita ke rumah sakit. Ya Allah mana rumah sakitnya jauh lagi. Ayo, mat cepetan!"
Mereka sudah berada di mobil membawa Ina ke rumah sakit langganan. Bi Endah malah memotivasi Ina untuk mengeden. Bi Suti protes karena takut Ina melahirkan di mobil. Tapi Bi Endah tak peduli, dia tetap memancing Ina untuk mengeden.
"Ayo, non tarik nafas, harus kencang non."
"Bi, jangan disini. Di rumah sakit saja." Protes Bi Suti.
"Lagian kalian mau bawa rumah sakit Kasih Bunda yang jaraknya masih jauh. Keburu ada apa-apa. Gini-gini di cianjur aku pernah bantu orang melahirkan."Jawab Bi Endah.
"Ayo, non Tarik lagi. Itu perut non Ina udah di bawah."
"Aaaaaaaa....hu .huh....huh." Ina terpancing untuk mengejan perutnya.
"Bii...saya nggak kuat!" Ina merasa tak punya daya lagi.
"Bi, saya merinding dengarnya. Ke rumah sakit saja." Jawab Rahmat yang konsentrasinya pecah mendengar drama persalinan di belakang.
"Kamu nyetir aja, mat. Jangan pikirkan kami." Sahut Bi Suti.
"Gimana saya bisa konsen nyetir kalau kalian bikin saya nggak konsen. Udah ini rumah sakitnya udah dekat." jawab Rahmat.
Obrolan unfaedah antara para pejuang nondevisa pun berlangsung lama. Bi Endah tetap ngotot mau bantu Ina melahirkan ala dukun beranak. Rahmat dan Suti pun memprotes tindakan Bi Endah.
*
*
*
*
__ADS_1
Masih ada dua part lagi untuk bonchap. Mau diperpanjang tapi ini saja pembacanya udah pada kabur. Sempat nggak mood buat nulis. Terimakasih buat kalian yang masih bertahan sama karya recehku.
Happy reading.