
📞"Kapan kamu pulang?" Terdengar suara Raya menelepon putra semata wayangnya.
Raya mendapat kabar kalau masalah di perusahaan Jepang sudah lama selesai. Seharusnya Rangga sudah pulang ke indonesia. Tapi ternyata sampai sekarang anaknya tetap bertahan di Negeri Sakura tersebut.
📞 Selesai undangan dari tuan Okada, ma. Ada apa?
📞 Nggak papa, akhir-akhir ini mama merasa kurang sehat. Mama pengen ketemu kamu, nak.
📞 Ya udah, ma. Aku langsung pulang saja, nggak usah datang ke acara Tuan Okada.
📞 Eh, Jangan dong. Selesaikan tugas kamu.
"Bu, ini kopinya." Laras datang mengantarkan kopi pesanan atasannya.
"Terimakasih" Ucap Raya.
Laras keluar dari ruangan atasan. Tapi saat didepan pintu Raya kembali memanggil Laras.
"Saya perhatikan pekerjaan kamu bagus. Kamu anak yang rajin, saya suka cara kerja kamu." Puji Raya.
"Terimakasih,bu. Saya permisi dulu."
"Tunggu! saya belum menyuruh kamu pergi, kan." Raya masih menahan Laras keluar ruangan. Wanita itu menyuruh gadis itu duduk di sofa.
"Ceritakan tentang dirimu." Titah Raya.
"Saya? Buat apa, bu. saya mah nggak ada punya cerita bagus." Kekeh Laras.
"Saya mau dengar apapun bentuk ceritanya." Raya tetap ngotot.
"Oke, bu. Perkenalkan nama saya Larasati. Saya bungsu dari dua bersaudara. Kakak saya meninggal saat bekerja. Ibu saya bernama Mala, dulu dia punya usaha kue rumahan. Ayah saya meninggal saat saya masih SMP. Segitu saja, bu."
"Ibu kamu bikin kue? Boleh dong saya pesan kue buatan ibu kamu."
"Anu, bu. Sudah tidak lagi sejak sakit-sakitan. Saya pernah coba buat kue untuk bantu ibu. Tapi nggak enak. Makanya saya berhenti kuliah dan kerja."
"Ras, kamu mau kan bantu saya." Pinta Raya.
"Bantu apa,bu?"
__ADS_1
"Saya mau kamu jadi istrinya Rangga, anak saya. Saya pusing lihat Rangga yang sampai sekarang belum nikah. Kamu jangan takut, biar saya atur semuanya. Kamu terima beres saja, seandainya dalam 6 bulan kalian tidak cocok, kamu boleh minta cerai. Gimana?"
Laras menelan salivanya. Rasanya seperti mimpi dengan gampangnya Raya memintanya menikah dengan Rangga. Laras sadar Rangga tak mungkin mau dengan dirinya, dia tahu bagaimana cinta lelaki itu pada Ina.
"Bagaimana?" Raya lagi-lagi meminta jawaban.
"Aduh, bu. Maaf. Saya tahu diri, tidak mungkin tuan Rangga mau sama saya." Laras masih menunduk.
"Ras,kamu pikirkan lagi, nak. Dari awal saya suka sama kamu. Saya janji akan bantu biaya pengobatan ibumu, juga biaya kuliah kamu. Bagaimana?" Desak Raya.
Laras tetap tidak bergeming. Jujur dia memang sudah lama jatuh cinta pada Rangga. Hanya saja, dia tahu kalau Rangga dari dulu cintanya pada Ina seorang. Memiliki Rangga apalagi menikah dengan lelaki itu jauh dari ekpetasinya.
"Maaf,bu. Saya bicarakan dulu dengan ibu saya."
"Silahkan, Saya tunggu jawabannya besok"
Besok! Laras terkejut dengan batasan waktu yang diberikan Raya. Dia bingung kalau diberi waktu secepat itu. Laras meninggalkan ruang kerja Raya, pikirannya terus ke permintaan atasannya.
"Nggak mungkin kak Rangga mau sama aku. Aku tahu betul dia cinta mati sama Ina."
Tanpa Laras sadari beberapa OB menguping pembicaraan dirinya dan Raya. Sebagian dari mereka menyiapkan sebuah rencana, entah rencana baik atau bisa jadi rencana buruk.
"Heh! Anak baru!" Hardik Maya.
"Kamu kemana saja dari tadi! Kamu lihat wc kotor begini. Kamu malah enak-enakan mengobrol sama Bu Raya. Mau cari muka sama Bu Raya!" Hardik Maya sambil menoyor kepala Laras.
Laras masih menunduk karena takut pada Maya. Dia takut kalau melawan pasti bakal dipecat. Dia butuh uang untuk biaya pengobatan ibunya.
"Heh! Kerjain! Malah bengong!" Bentak Maya.
Laras langsung mengambil alat untuk membersihkan kamar mandi. Tapi Maya mengganti bros kamar mandi dengan sikat gigi.
"Bersihkan pake ini saja." Laras manut saja. Dia berusaha kuat meskipun diperlakukan buruk.
Selesai membersihkan Laras kembali ke pantry melepas dahaga karena sudah 4 jam membersihkan WC. Penampilan Laras yang acakadul membuat orang-orang menjauhinya "Iiiih, bau. Bau toilet hahahahahahaa..."
Jika aku menerima permintaan Bu Raya. Aku akan bungkam mereka semua.
klik
__ADS_1
Assalamualaikum
Laras mengucapkan salam saat masuk kerumah. Tampak Mala menyambut putri bungsunya yang baru saja pulang kerja. Laras merebahkan tubuhnya diatas sofa ruang tamu. Lama dia memandang isi rumahnya yang satu persatu habis demi biaya pengobatan ibunya. Helaan nafas berat terdengar pelan dari bibir tipisnya.
"Minum dulu, Ras." Mala membawa segelas es teh kesukaan putrinya. Tampak tangan wanita berusia 44 tahun tersebut mulai mengkerut. Tak sesuai dengan usai sebenarnya. Tapi inilah hidup, kadang diatas kadang dibawah. Uang pemberian Ina pun sudah menipis.
"ibu istirahat. Nggak usah banyak aktivitas. Kalau aku mau apa kan masih bisa dikerjakan sendiri."
"Ras, maafin ibu. Seharusnya ibu yang bekerja bukan kamu. Seharusnya kamu tetap kuliah mengejar cita-cita. Maafkan ibu, ibu memang orangtua nggak berguna." Isaknya.
Laras hanya tersenyum tipis. Tidak menyalahkan ibunya tapi keadaan yang memaksanya harus merelakan cita-citanya. Andai saja dia tidak terbujuk rayuan Ramida dengan iming-iming nilai tinggi, andai saja dia tidak terlibat dalam pencemaran nama baik Ina, mungkin ceritanya akan beda. Laras sangat menyesal dengan perbuatannya dibelakang Ina. Apakah yang dirasakan sekarang sebagai tabur tuai? Bisa jadi. Bahkan saat Ina mentranfer uang lima juta untuk pengobatan ibunya, Laras merasa malu.
"Bu, Laras mandi dulu, ya." pamit Laras meninggalkan ibunya di ruang tamu.
Beberapa saat kemudian, Laras baju saja selesai salat jamak magrib dan Isya. Dikarena dia pulang saat menjelang magrib dan sampai dirumah sudah lewat isya. Langkah berjalan menuju ke dapur, terdengar suara batuk ibunya yang kuat.
"Bu, laras mau ngomong soal permintaan bu Raya." Laras membicarakan tawaran Raya untuk menikah dengan Rangga. Dia menjelaskan pada Mala, kalau Raya juga mau membantu pengobatan dan biaya kuliah.
"Ras"
"Iya,bu."
"Maaf ibu keberatan kamu menikah dengan anak bos mu. Ibu tahu maksud dia baik, tapi menurut ibu lebih baik jangan dituruti. Kamu masih muda, masa depanmu masih panjang. Kita ini orang susah, nak. Ibu takut mereka hanya memanfaatkan kamu saja. Kalau sekarang saja mereka bisa mengaturmu, apalagi sesudah nikah nanti. Ibu mohon pikirkan lagi, nak."
*
*
*
*
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
__ADS_1
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
Bersambung