
Ilham duduk salah satu kursi taman dekat rumahnya. Sejak dia resign dari rumah sakit yang membesarkan namanya, Ilham sering keluar untuk melepaskan penat didada. Apalagi istrinya sudah masuk bulan ke tujuh kehamilannya. Dia bingung mencari uang tambahan untuk persiapan sang calon anak mereka.
Ingatannya melayang saat Gita menemuinya sebelum melahirkan dan akhirnya meninggal dunia.
Perempuan yang dulu pernah hampir dinikahinya datang mendaftarkan donor jantung bagi yang membutuhkan.
Flashback on
"Jadi dia orangnya?" Gita menatap photo yang di perlihatkan Ilham.
"Iya, saat ini hanya dia yang membutuhkan donor jantung."
Gita tersenyum melihat foto tersebut. Netranya beralih ke lelaki yang ada didepannya.
"Ini pertanda, Ham. Kamu tahu? di dunia ini ada tujuh manusia dari belahan dunia memiliki wajah yang sama. Dan salah satunya gadis ini."
"Gita. Tolong pikirkan lagi soal donor ini. Tidakkah kamu ingin melihat anak- anakmu tumbuh. Tidakkah kamu ingin mewujudkan keinginan kak Ronal. Kamu tahu kan kak Ronal menunggu lahirnya anak kalian dan memboyong pindah ke Sarolangun."
"Ham, jika aku tak bisa di selamatkan. Tolong selamatkan anakku. Tolong donorkan jantungku, mataku, ginjalku dan paru-paruku bagi yang membutuhkan. Aku ingin menjadi yang berguna untuk mereka yang masih hidup.
Aku mohon, ham. Ini pesan terakhirku. Aku merasa waktuku sudah dekat.
Aku titip Siti ya, ham. Jaga dia, perjuangkan dia kembali sebelum dia menikah dengan kak Jo."
"Gita jangan mengalihkan pembicaraan! Saat ini yang dibahas tentang kamu. Please, pikirkan lagi niatmu itu. Pikirkan perasaan orangtuamu, suamimu dan semua yang sayang padamu." Bujuk Ilham.
"Kamu tahu, ham. Saat ini aku fokus dengan kehamilanku. Melimpahkan kasih sayang sepenuhnya pada suamiku. Tapi aku juga kasihan pada Alam, aku merasa dia tertekan dengan sikap mama. Aku ingin lihat dia bahagia walaupun tanpa kehadiranku. Dan gadis ini, aku yakin akan membantuku menjaga Alam. Wajah kami sangat mirip 'kan?"
"Sudah sejauh itu pikiranmu, Gita. Kalau dia gampang berpaling mungkin dulu dia menerima kak Keisya. Tapi buktinya dia membuktikan kalau lelaki setia itu memang ada. Aku bingung dengan pikiran kamu, Gita! Ibaratnya perang, kamu mundur sebelum perang."
Ilham masih tidak habis pikir dengan jalan pikiran Gita. Terdengar wanita itu sudah pasrah dengan kankernya. Helaan nafas berat terdengar pelan. Ilham pun masih mencerna kata demi kata dari bibir Gita.
Gita pun pamit dari ruang kerja Ilham. Lelaki itu mengantarkan kakak iparnya sampai depan pintu rumah sakit. Lama Ilham menatap punggung Gita.
"Sebegitu cintanya kamu sama kak Alam. Padahal tante Marni sudah banyak menyakiti perasaanmu. Sebegitu kuatnya kamu menghadapi semua ini. Kamu orang baik,Gita. Kamu Bahkan masih bersikap baik padaku setelah apa yang aku lakukan padamu di masa lalu."
Delapan bulan setelah Gita meninggal
Ilham saat itu baru saja akan pulang kerumah. Lelaki itu membereskan barang-barang diruangannya. Lalu menyimpannya di dalam tas. Akhir-akhir ini banyak pasien diruangannya. Ada ada saja tingkah pasien tersebut, ada yang datang cuma bertemu dirinya, ada yang berobat tapi mengajak dirinya menikah, ada pula pasien lansia yang menawarkan cucunya untuk dokter tersebut.
Dan semua tawaran itu Ilham hanya bilang "saya sudah punya Istri"
Sebuah langkah kaki terdengar menuju ruangan dirinya. Ilham pun penasaran siapa yang mendatangi dirinya. Suara ketukan pun terdengar kencang. Ilham pun membuka pintu dan menyambut kedatangan tamu tersebut.
__ADS_1
"Silahkan masuk tante." wanita itu langsung duduk dihadapan Ilham.
"Aku yang bisa aku bantu tante Yulia?"
"Maaf, ham. Tante boleh nanya?"
"Soal?"
"Penerima donor, Gita."
Ilham mengerutkan dahinya. Tidak ada angin dan hujan wanita itu datang menanyakan soal penerima jantung Gita. Padahal belum lama ini Alam juga datang menanyakan hal yang sama.
"Ham!" Suara Yulia mengejutkan lamunannya.
Ilham pun membetulkan posisi duduknya. Merapatkan dadanya didekat meja, tangannya dilipat lalu merebah ke alas meja.
"Tante kenapa tiba-tiba ingin tahu penerima jantung Gita?"
Yulia menyenderkan punggungnya di atas kepala kursi "Gita itu anak tante, Ham. Wajarlah tante ingin tahu."
"Kalau tante sudah tahu apa yang tante lakukan?"
"Tante akan memperlakukan orang itu layaknya anak sendiri. Itu janjiku."
"Hmm... Oke. Tapi kalau tante bawa kak Alam kesini baru aku kasih tahu."
"Karena dia suami Gita. Dia berhak tahu."
"Dia bukan lagi suami Gita. Sejak Gita meninggal pernikahannya selesai. Dia cuma ayah dari cucuku. Tapi bukan lagi menantuku."
"Berarti jika kak Alam menikah lagi tante tidak keberatan kan?"
"Asal Shasa tetap bersama kami."
"Tante egois. Sebegitu benci kah tante pada kak Alam? Tante yang menikahkan Gita dan kak Alam. Padahal dari awal aku yang akan menikahi Gita. Tapi kenapa perlakuan tante seperti itu pada kakakku." Ucap Ilham yang tidak terima sikap Yulia.
"Kamu tidak lupa kan, ham. Bagaimana keluarga spencer mengabaikan Gita waktu Alam dipenjara. Sakit hati tante melihat anakku diperlakukan seperti itu. Nanti kalau kamu punya anak, pasti akan merasakan apa yang aku rasakan."
"Jadi tolong, ham. Kasih tahu siapa penerima jantung Gita. Tante mohon!" Sujud Yulia dibawah kaki Ilham.
Ilham menaikkan tubuh Yulia. Helaan nafas terdengar kuat dari suara lelaki.
"Baiklah tante akan saya kasih tahu siapa penerima jantung Gita. Dia adalah gadis yang tinggal ditempat tante sekarang."
__ADS_1
"Ina!" Ilham mengangguk.
"Apakah Ina tahu?"
Ilham menggeleng "Ina belum tahu, tante. Ilham minta tante yang kasih tahu Ina dan kak Alam."
Yulia pamit meninggalkan ruang praktek Ilham dengan senyum penuh arti.
Flashback off
Ilham teringat bagaimana Gita yang mendatanginya untuk daftar donor jantung. Bahkan Ilham memperkenalkan Ina pada Gita melalui foto. Belum lagi sikap Yulia yang membuat Ilham kesal saat itu. Ilham hanya mengelus dada.
Zreeet zreeeeet
π Halo, ham
π Dodo?
π Iya, ini aku Alfredo.
π Ya Allah, Do. Kamu apa kabar? Dimana sekarang?
πAku ada salah satu pusat rehabilitasi HIV AIDS. Ham, aku bisa minta tolong. Ini untuk yang terakhir.
π Apa do? Kalau aku bisa bantu.
π Aku ingin bertemu dengan Jihan dan Ina. Aku ingin minta maaf atas yang pernah aku lakukan dulu. Aku merasa waktu tak lama lagi, ham.
π Kamu jangan gitu, dong. Banyak kok yang sembuh dari HIV, asal kamu rajin berobat.
πTolong aku, ham. please.
π oke akan aku coba bicara sama mereka. Terutama Jihan soalnya dia sudah menikah.
Apakah Ina dan Jihan mau menemui Dodo?
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
__ADS_1
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
Bersambung