
"Pak" Alena memasuki ruang kerja atasannya.
"Iya, Lena." Alam mengangkat kepalanya.
Alena membacakan schedule untuk hari ini. Dengan seksama Alam mendengarkan kata per kata dari sekretarisnya.
"Jadi hari ini kita padat, ya?" Alam menghela nafas kasar.
"Sepertinya begitu, pak. Apa bapak ada janji lain biar saya rubah jadwalnya." Saran Alena.
"Nggak usah, Lena. Seperti schedule kita tidak bisa di sepelekan. Ya, sudah kamu kembali ke tempat kerjamu." Alena pamit meninggalkan ruang kerja atasannya.
Lama gadis itu berdiri dibelakang pintu ruang kerja Alam.
"Padahal saya sudah merubah penampilan. Tapi kenapa pak Ronal masih tidak mengenali saya." keluhnya.
Alena duduk di meja kerjanya. Memandang sebuah photo. Terselip senyum penuh arti, terbersit sebuah kenangan yang tak terlupakan. Dia hanya mengubah wajah dengan tompel palsu, kacamata tebal dan sedikit menggelapkan kulit tubuhnya. Tangannya menggenggam sebuah ponsel untuk menghubungi seseorang.
"Halo, pak Damar"
"Oh, kamu? Ada apa?"
"Saya sudah mengirimkan beberapa file." Jawabnya sambil mengulum senyum.
"Oke, akan saya periksa. Dan kamu tetap melanjutkan tugasmu."
"Baik, pak." Alena menutup teleponnya.
Beberapa berkas yang sedang dikerjakan membuat gadis itu sedikit jenuh. Tubuhnya yang semok berdiri meninggalkan ruang kerjanya. Tangannya menggoyangkan gagang pintu lalu melangkah menuju pantry.
"Jadi gimana Om Ronal? Mau kan datang ke acara pertunanganku dengan Nia." Ucap Gery yang datang ke kantor Spencer.
"Insyaallah, Ger. Akhirnya kamu move on juga dari Nabila." Alam menepuk pundak Gery.
"Terpaksa, Om. Dia juga sampai sekarang nggak ada kabar. Aku berterimakasih sama onty Gita yang mau mencabut tuntutannya pada Bila." Kenang Gery.
Sejak Nabila dibebaskan atas permintaan Gita. Gery kehilangian kontak kekasihnya tersebut. Dulu Gery berjanji akan setia menunggu Bila sampai keluar penjara. Bila divonis masa tahanan selama 5 tahun karena berkerjasama atas penggelapan uang perusahan. Disamping itu, dia juga terlibat dalam penyekapan Gita yang didalangi Roki, adik tiri Alam.
Maka itu Alam masih membenci Nabila hingga saat ini. Keputusan Gita untuk membebaskan Nabila ditentang oleh Alam. Tapi apa daya, keputusan itu tercuat setelah istrinya meninggal dunia.
"Padahal dia sempat menjadi duri dalam rumah tangga kalian. Kok onti mau, ya? Membebaskan Nabila."
Alena baru saja keluar dari pantry setelah mengisi bensin untuk tubuhnya. Matanya tertuju pada seorang lelaki yang sedang berbincang dengan atasannya. Dengan penuh percaya diri dia melewati keduanya. Gery sekilas menoleh kearah Alena.
"Itu sekretaris baru, Om?" Tanya Gery.
__ADS_1
"Iya, kenapa? Jangan bilang kamu kepincut sama Alena." Goda Alam.
Gery hanya tersenyum kecut. Dia merasa mengenali sosok tersebut. Terselip rasa penasaran terhadap sekretaris om nya tersebut.
"Nggak papa, om."
"Ingat kamu sudah punya Nia. Jangan lirik lirik yang lain." Tegur Alam.
"Ya udah, om. Aku pamit dulu, aku mau ke rumah Oma Lia. Om tahu nggak kalau Tante Ina mau didekatin sama Kak Gilang oleh Oma Lia."
Alam menjelit kearah Gery. Wajahnya yang tadi sumringah berubah seperti akan menerkam. Gery mencoba menelaah perubahan wajah Alam. Tapi di tepisnya, karena Gery yakin Alam masih cinta dengan Gita.
Tapi memang benar. Ucapan Gery barusan sukses membuat lelaki itu gelisah tak menentu. Beberapa kali mencoba menghubungi Ina tapi tetap saja tidak diangkat. Alam membanting handphonenya lalu membentak sendiri.
"Dari awal aku sudah mau mengatakan hal ini ke mama Lia. Tapi Ina selalu melarang, apa ini yang kamu mau, Na! Senang kamu mempermainkan aku!" cerocosnya tanpa lawan.
"Astagfirullah!" Ucapnya tiba-tiba.
Sementara itu Gery yang masih saja penasaran dengan Alena. "Kenapa gadis itu mengingatkanku pada seseorang. Ah, tidak Gery tidak mungkin dia. Kalaupun memang dia, kenapa kembali ke perusahaan ini?"
Pertanyaan demi pertanyaan bergelayut dipikiran pria yang sedikit tambun. Langkah Gery terhenti saat melihat Alena keluar dari sebuah ruangan.
"Semoga itu bukan kamu Nabila Mardalena."
Malam ini kediaman Gunawan kedatangan keluarga Grace yang mau mendekatkan Gilang dan Ina. Suasana yang tadi sepi karena Shasa menginap dirumah keluarga Spencer. Ina yang hanya menggunakan dress selutut duduk diantara para keluarga besar.
Ina pun tak tahu kalau Yulia akan menjodohkannya dengan Gilang. Dia hanya tahu acara tersebut semacam perpisahan karena dirinya akan berangkat ke Jepang.
"Gilang, kamu ajak Ina mengobrol di teras depan. Kami juga pengen ngerumpi seputar orangtua." Usul Grace yang sudah menjadi orangtua angkat Gilang.
"Iya, tante. Yuk, Ina." Gilang menarik tangan Ina menuju teras belakang.
Ina dan Gilang memilih duduk di teras depan. Bercerita tentang kehidupan masing-masing, Ina akui Gilang lelaki yang sopan. Menurut Ina, dibanding Alam, Gilang justru lebih sopan.
"Jadi kamu mau ke jepang besok?"
"Iya, kak Gilang."
"Wah, sayang banget. Padahal rencana aku mau ajak kamu jalan-jalan, nih."
Ina tertawa kecil "Apa yang mau kakak liatin seputar jakarta? Aku dari kecil udah liat isi jakarta jadi sudah bosan."
"Ya udah. Nggak usah liat isi jakarta, lihat saja isi hati aku."
"Hahahahaahaha ... Kak Gilang bisa aja." Suara Ina tertawa lepas.
__ADS_1
"Loh, bener lo. Isi hati aku ada darah yang berdesir apalagi kalau lihat gadis secantik kamu." Lagi-lagi Gilang mencoba merayu Ina.
"Astaga kak Gilang! Udah, ah! Jangan becanda terus." kikik Ina, sedari tadi perutnya dikocok dengan kata-kata yang dilontarkan Gilang.
"Yuk, ah kita kedalam. Ada yang mau umumkan ke tante Lia." Ajak Gilang sambil menarik tangan Ina.
"Umumkan soal apa?" Terdengar suara mengejutkan dibalik tempat mereka berdiri.
"Alam?" Ina kaget melihat kekasih sudah berdiri dibelakang mereka.
"Jawab!" Suara Alam meninggi. Sedari tadi dia sudah melihat keakraban Ina dan Gilang. Ada kemarahan yang dirasakannya.
"Jadi ini alasan kamu seharian tidak bisa dihubungi. Jadi ini alasan kamu melarang aku bicara sama mama. Iya kan, Ina. Ternyata benar dugaan aku, kamu sama saja dengan mama kamu. Kemarin kak Rangga terus dengan Reza sekarang Gilang, terus besok siapa lagi!"
PLAAAAAAAAKKK
Ina merasa kecewa dengan tuduhan yang dilontarkan Alam.
"Kita putus!" Pekik Ina berlari menangis meninggalkan Alam.
"Oke kalau itu mau kamu! Aku akan bilang ke mama Lia soal hubungan kita. Aku tidak peduli dengan respon mama Lia!"
"Gimana Grace? Setelah Ina selesai ujian kita akan tunangkan Ina dan Gilang."
"Ya, tanya dulu sama keduanya, tante." Ucap Grace sambil menyeruput teh hangat.
"Ma." Alam muncul ditengah kehangatan kedua wanita tersebut.
Alam bersujud dikaki Yulia. Tentu saja wanita kaget dengan sikap menantunya. Tangan itu mengangkat tubuh lelaki yang hampir dua tahun menjadi menantunya.
"Ada apa, lam?" Tanya Yulia bingung.
"Ma, aku mencintai Karina. Dan Ina juga begitu. Aku nggak minta apa-apa,ma. Aku cuma minta satu tolong restui kami. Aku serius dengan Ina, dan aku akan menikahinya. Dan kami sudah ...."
PLAAAAAAK!
Ina lagi-lagi mengerahkan tangan ke wajah Alam.
"Sekali lagi aku bilang kita putus! Sekarang kamu pergi dari sini! Kehadiran kamu malah akan memperkeruh semuanya! Pergi!" Usir Ina.
Alam pergi meninggalkan kediaman Gunawan. Airmata kembali menetes mengingat sikap Ina tadi. Beberapa saat dia menghentikan mobil merenungkan yang dialaminya barusan.
Tanpa disadarinya, Gita datang dan duduk disampingnya. Gita menatap pilu suaminya, dia ingin membantu tapi tak punya daya lagi.
"Yang, asal kamu tahu. Ina lah gadis pemilik jantungku. Lupakan aku dan bahagialah bersamanya. Aku akan selalu bersamamu melalui jantungku." Tapi percuma Alam bahkan tidak bisa mendengar apapun ucapan Gita.
__ADS_1