
Empat tahun kemudian
Waktu terus berjalan, Ina pun menjalani sidang akhir untuk menyelesaikan masa kuliahnya. Beberapa dosen pun memberikan selamat karena mendapat nilai sangat memuaskan. Ina seharusnya menyelesaikan kuliahnya 3,5 tahun. Namun, karena dia sempat cuti kuliah satu semester menjelang melahirkan Yusuf. Pada akhirnya dia menyelesaikan kuliahnya 4 tahun 3 bulan.
Saat ini Ina pun sedang hamil anak keduanya, beruntungnya dia menjalani kuliah di tanpa hambatan.
"Akhirnya aku bisa menyelesaikan kuliahku disini. Ini semua berkat kamu sayang." Ina bicara pada calon bayinya.
"Ini juga berkat doa papa, doa Shasa dan yusuf." timpal Alam.
"Emang Yusuf bisa doa, pa? sholat aja masih main-main?" sahut Shasa.
Shasa saat ini berusia tujuh tahun. Dia bersekolah di sekolah dasar Jepang tak jauh dari kantor Alam. Sedangkan Yusuf saat ini masih di tempatkan di PAUD agar bisa bersosialisasi dengan anak seusianya. Meskipun Ina sempat memprotes saat Alam mendaftarkan putranya ke paud padahal masih 3,5 tahun.
Sama saat dulu usia Shasa masih 3 tahun, Alam sudah memasukkan putri sulungnya ke paud dengan alasan biar belajar sosialisasi.
"Selamat ya, sayang. Semoga ilmu yang kamu dapat bisa menjadi tuntunan dalam kehidupan. Semoga kamu bisa mendapatkan apa yang di cita-citakan. Sebagai suami aku hanya bisa memberikan doa, dukungan dan cinta."
"Terimakasih, mas. Semua ini berkat kamu dan anak-anak kita. kalian semua adalah semangatku dalam mengejar ilmu. Terimakasih, mas. kamu sudah menjadi suami yang sabar menghadapi aku, kemanjaanku, dan kadang-kadang suka kumat labilnya."
Ina senang akhirnya bisa menyelesaikan kuliahnya di Jepang. Karena akhirnya dia bisa membuktikan pada keluarganya atas keberhasilannya. Perjuangannya selama ini membuahkan hasil. Tidak sia-sia kakaknya menyekolahkannya, tidak sia-sia suaminya membantu biaya kuliahnya, meskipun dia sempat ragu apa bisa menyelesaikan kuliah saat sudah berumahtangga.
"Congratulations, Ina, I hope you become a woman who can provide knowledge for your future. I hope you can be a guide for your children."
"thank you prof" Ina membalas ucapan dari salah satu dosennya.
"Ina..."
"Ya Allah, kakak!" Wanita itu memeluk seorang lelaki tinggi di hadapannya.
"Selamat, ya, na. akhirnya kamu menyelesaikan studimu. Semoga kamu bisa mengamalkan ilmu yang kamu dapatkan untuk orang banyak."
"Amin," Jawab Ina di suami dan kedua anaknya.
Ina menatap langit dengan penuh senyum. Empat tahun yang lalu dia datang ke negara sakura tersebut, dengan harapan bisa mewujudkan cita-citanya. Kuliah di Jepang adalah impiannya sejak kecil. Meskipun di pertengahan jalan dia menemukan jodohnya dan menikah.
Alam pun bekerja di perusahaan milik Rangga. Setelah beberapa tahun sekarang Alam pun menjadi asisten khusus kegiatan Rangga.
Suara sorak Sorai bahagia para wisudawan pun terasa euforianya. langit di Kampus Tokyo university pun sepertinya ikut mendukung berlangsungnya acara wisuda. Ribuan mahasiswa pun saling berpelukan sebagai tanda rasa syukur.
Ina masih berdiri memandang suasana kampus, sebentar lagi dia dan keluarga kecilnya akan meninggalkan negara Jepang.
"Selamat, Ina." suara Takeru terbata-bata mengucapkan selamat memakai bahasa Indonesia.
__ADS_1
"Terimakasih, kak. Ini semua berkat kakak yang banyak membantu memberikan bahan kuliah."
Takeru hanya tersenyum memandang wanita yang pernah disukainya.
"Sama-sama." Takeru memberikan kartu untuk Ina
"Kalian mau menikah?" Tanya Ina membuka undangan dari Takeru.
"Iya, datang, ya. Kalian belum buru-buru kan pulang ke Indonesia?"
Ina tersenyum kecil, dia memang belum mau cepat pulang saat ini. Banyak yang harus di urus, untuk sekolah Shasa, tempat kerja suaminya, paud sekolah Yusuf. Mereka semua harus di selesaikan sekaligus pamitan. Suaminya juga mengurus soal visa atau paspor buah kepindahan mereka.
Alam dan keluarga kecilnya tidak langsung pulang. Mereka singgah di cafe kecil, duo krucil pun sudah menyerbu tempat duduk di sebelah pintu masuk.
"Sebentar lagi kita akan meninggalkan kota ini. Mungkin jika panjang umur kita akan mampir kesini untuk menjenguk beberapa teman. Seperti nyonya saera."
"Dan mengunjungi makam hakyo." sahut shasa.
Satu tahun yang lalu Hakyo sempat jatuh sakit. Tak sampai di bawa ke rumah sakit gadis yang usianya dua tahun diatas Shasa pun menghembuskan nafas terakhirnya. Shasa sempat murung. Teman baiknya pergi menghadap Tuhan. Tapi, tak berlangsung lama, beberapa waktu kemudian Shaha kembali ceria lagi.
"Kamu pasti rindu sama Hakyo, nak. Setiap sholat jangan lupa doakan Hakyo." Pesan Ina.
"Tapi, ma. Hakyo kan bukan Islam, kenapa harus di doakan?"
"Oooo.."
"sudah, cepat selesaikan makannya. Mama makan, dong. Apa mau papa suapin?"
"Iya, mas, aku suapin Yusuf."
Alam mengambil makanan milik Ina. Tangan lelaki itu memegang sendok berisi nasib dan lauk pauknya.
"mama harus makan banyak, kasihan dedek bayinya nanti kelaparan."
Alam mengambil tisu untuk membersihkan bekas saus mayo yang menempel di sudut bibir Ina.
"Terimakasih, sayang."
Malam pun tiba, saat anak-anak sudah tertidur. Alam dan Ina terjaga duduk di ruang tengah. Tubuh mereka sudah saling berpeluh melepaskan hasrat halal mereka. Kenapa di ruang tengah, mereka juga awalnya tidak terpikir melakukannya. Dari sekedar saling bercanda layaknya orang pacaran, hingga pada akhirnya mereka pun kebablasan.
Kedua saling menatap penuh cinta. Tangan Alam membenamkan rambut istrinya dibalik telinga.
"Mas,"
__ADS_1
"I love you, Karina."
Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi dimasa yang akan datang. Kita tidak pernah tahu siapa jodoh kita dimasa depan. Tapi kita tahu bahwa semua itu bisa di wujudkan dari sekarang.
Seperti saat ini, tidak ada yang menyangka cintaku berlabuh pada Alam. Lelaki yang pernah menikah dengan keponakanku. Dengan gayanya sok cuek, dengan gayanya yang ketus padaku, tapi ternyata dia menyimpan luka. Sikapnya yang sok kuat, yang absurd dan lebay menyimpan kerapuhan yang mendalam.
Pagi ini semua sudah berkumpul di ruang makan. Ina menyiapkan sarapan untuk kedua buah hatinya dan juga untuk suaminya.
"Bagaimana kabar kak Rangga, pa?" Tanya Ina.
"Dia masih nyari Laras, sayang. Aneh, ya, kenapa Laras tega ninggalin kak Rangga? lelaki sebaik dia kok malah di campakkan?"
"Aku juga kaget, mas. Kak Rangga koma hampir 9 bulan, seharusnya Laras ada di sampingnya."
"Ya udahlah, sayang. Yang penting kita dijauhkan dari marabahaya. Selalu berdoa kepada Allah."
"Mama kok makin banyak bentolnya? Apa mama kesengat kumbang lagi?" Tanya Shasa melihat leher mamanya banyak bentol merah.
Ina menatap kesal kearah suaminya. Dan yang ditatap hanya mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Iya, kumbang genit!"
"Wah, papa kalah sama kumbang." Tawa Shasa.
*
*
*
*
Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatu..
Apa kabar semuanya? Semoga yang baca dalam keadaan sehat wal afiat.
Maaf ya aku lama ngepost, semoga kalian masih setia pada Ina dan Alam.
Saya Melisa ekprisa selaku author mengucapkan
Minal aidzin wal Faidzin
Mohon maaf lahir dan batin
__ADS_1
Selamat hari raya idul Fitri